
Waktu terus berputar. Malam hari telah menyapa. Pesta pernikahan yang berlangsung meriah dan megah, sudah selesai. Satu persatu tamu undangan mulai membubarkan diri, pulang ke rumah masing-masing. Para tamu undangan pulang membawa suvernir pernikahan yang berupa parfum mahal dengan merk 'DI*R.
Pengantin baru juga sudah turun dari pelaminan, menuju hotel yang tidak jauh dari gedung pernikahan tersebut.
Di dalam gedung megah tersebut kini tersisa para anggota keluarga dari kedua pengantin, dan beberapa staf yang sedang bersih-bersih.
"Luc, apakah kau tidak bisa diam sebentar?" tegur Dom pada putrinya yang akan kembali ke Italia malam itu juga. Dom merasa tidak enak hati kepada keluarga Carlos dan Mike, karena sikap putrinya.
"No, Dad. Aku harus kembali ke Italia, pekerjaanku sangat banyak. Oh ... by the way, berikan ini kepada pengantin baru dan sampaikan salamku kepada mereka," ucap Luc, seraya menyerahkan amplop coklat dengan ukuran cukup besar kepada ayahnya.
"Honey, bermalam di sini untuk hari ini saja," bujuk Emily pada putrinya.
"Thanks, Mom. Pekerjaanku sangat banyak." Alasan sama yang di lontarkan oleh Luc. Kemudian wanita cantik itu mencium kedua pipi orang tuanya, lalu melambaikan tangan kanan ke semua orang yang berkumpul menjadi satu di tengah gedung tersebut.
"Maafkan Luc, semenjak dia memegang perusahaan kapal pesiar milik Daddy Dante, dia menjadi sibuk dan tidak mempunyai waktu untuk bermain," ucap Dom ketika melihat putrinya sudah keluar dari gedung tersebut.
"Tidak masalah, Dom. Dia sangat gigih dan pekerja keras," jawab Carlos, seraya mengangkat segelas wine yang ada di tangannya, kemudian menyesap wine tersebut sedikit demi sedikit.
"Iya, tapi hal itu membuatku khawatir kalau dia tidak akan menikah. Dia seumuran dengan King dan Alessia, tapi sampai saat ini dia masih jomblo, bahkan sama sekali tidak tertarik dengan pria. Sudah berulang kali aku mencoba menjodohkannya, tapi selalu gagal," jelas Dom seraya menghela nafas kasar.
Sabar.
Satu kata itu yang di ucapkan semua orang yang ada di sana, sebuah kata singkat tapi penuh arti untuk Dom.
"Kau tidak ingin mencoba mendekati Luc?" bisik Kai pada Achelio yang duduk di sampingnya.
"Aku tidak tertarik sama sekali, lebih baik aku bermain dengan para wanita di luaran sana. But, ada satu wanita yang membuatku sangat penasaran," ucap Achelio seraya menatap seorang wanita yang sedang mengantarkan beberapa botol wine, lalu meletakkan di tengah meja bundar yang di kelilingi oleh keluarga besarnya.
"Dia? Bukankah dia pelayan baru di rumahmu?" tebak Kai menatap seorang pelayan berambut hitam legam dan mempunyai kulit eksotis, dan cantik natural. Kai memandang wanita tersebut, memang penampilannya seperti pelayan pada umumnya, tapi wanita itu seolah mempunyai daya pikat yang sangat kuat.
"Yes, bagaimana kalau kita taruhan?" bisik Achelio pada Kai.
__ADS_1
"Taruhan apa?" Kai menatap Achelio penuh selidik.
Achelio tersenyum lalu membisikkan sesuatu pada Kai.
"Big No! Aku tidak mau!" jawab Kai dengan tegas, setelah mendapatkan bisikan setan dari Achelio.
"Kalian ini berisik sekali! Kalian sedang membicarakan apa?" tegur Alpha pada kedua pria tampan itu.
Kai berdehem, dia kembali memasang wajah dingin, tanpa menjawab pertanyaan Alpha.
"Urusan pria!" Achelio yang menjawab singkat padat dan jelas.
"Ck!" Alpha berdecak kesal menanggapinya, lalu tatapan matanya beralih memandang Kai yang banyak berubah setelah beberapa bulan tidak bertemu. Kai menjadi lebih dewasa, keren, akan tetapi sikap ramah Kai menghilang tergantikan dengan sikap dingin dan menyebalkan.
"Kai, setelah ini bisa bicara sebentar?" tanya Alpha, sedikit mencondongkan setengah badannya agar bisa berbisik pada Kai.
"Aku sibuk!" jawab Kai dingin dan datar, tanpa menoleh pada Alpha.
Kai menoleh, menatap Alpha dengan tatapan dingin, bibirnya menyeringai, lalu berkata, "untuk apa aku marah padamu hanya karena cinta di tolak! Di luaran sana masih banyak wanita yang jauh lebih baik darimu, jadi jangan terlalu percaya diri!"
JLEP!
Ucapan Kai begitu tajam, seperti pedang panjang yang menusuk ke dalam dada Alpha. Hati Alpha sangat sakit, dan merasa di permalukan oleh Kai, akan tetapi dia mencoba untuk tetap tenang.
Dia menatap Kai dari samping, pria tersebut bukan Kai yang dia kenal.
Kai sudah berubah.
Tapi, apa yang membuat pria itu berubah? pikir Alpha sangat penasaran.
__ADS_1
Di sisi lain, tepatnya kamar hotel mewah, pengantin baru itu sedang duduk di tepian tempat tidur. Mereka sudah selesai membersihkan diri. Tubuh keduanya di balut dengan jubah mandi berwarna hitam.
King menyugar rambutnya dengan kasar. Rambutnya basah dan terlihat acak-acakan, tapi justru membuat pesona semakin kuat, membuat wanita mana pun akan klepek-klepek melihatnya. Termasuk Alessia yang kini merasa deg-degan saat duduk di samping King.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya King, berusaha memancing istrinya.
Alessia menaikkan kedua bahunya secara bersamaan sambil menoleh, dan menatap King yang super duper tampan dan sangat Hot malam ini. Alessia sangat terpesona pada suaminya ini.
Bagaimana tidak? King memakai jubah mandi dengan asal, jubah mandi tersebut tersibak, memperlihatkan dada bidangnya yang peluk-able dan perut kotak seperti roti sobek, membuat Alessia menelan air liurnya berulang kali.
"Kenapa responmu seperti itu?" protes King pada istrinya.
"Karena aku tidak tahu dan bingung harus apa," jawab Alessia seraya menyentuh dadanya yang semakin berdebar-debar. Rasa gugup mulai melanda, ketika King menggeser duduk, mengikis jarak diantara mereka.
"Sepertinya aku tidak akan berbasa-basi lagi," bisik King dengan suara pelan tapi terdengar begitu dalam dan sexy.
"K-King, sebentar ... aku perlu mengatur nafasku!" ucap Alessia sangat gugup, ketika King mendorongnya hingga telentang di atas ranjang yang di penuhi ribuan kelopak bunga mawar merah.
***
Anggap aja pakai jubah mandi🤣🙈🙈🙈
__ADS_1