
Tepat jam 10 siang, pasangan pengantin baru itu baru turun ke lantai bawah. Arra menatap mereka berdua sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Kenapa menatap kami seperti itu?" Mike bertanya dengan nada datar pada Arra.
"Kami bangun kesiangan ya?" Kali ini Quen yang bertanya sambil tersenyum meringis, merasa tidak enak hati.
"Aku paham dan mengerti karena aku pernah menjadi pengantin baru. Dulu Carlos malah mengurungku selama satu minggu di dalam kamar," jawab Arra namun berakhir curhat malam pertamanya kepada pengantin baru itu.
Mike memutar kedua matanya dengan malas, lalu menggandeng istrinya menuju ruang makan, cacing perut mereka sudah berdemo karena kelaparan.
"Hei! Aku belum selesai bicara!" seru Arra pada pengantin baru yang mengabaikkannya, kemudian mengikuti mereka ke ruang makan.
"Tidak perlu di ceritakan!" ucap Mike pada Arra yang berdiri di dekatnya.
"Ah, ya ampun! Kenapa kamu jadi sombong sekali setelah menikah?!" Arra mencibir Mike, lalu salah satu tangannya terangkat ingin memukul kepala Mike, tapi gerakannya terhenti saat Mike menatapnya dengan tajam.
"Kau juga norak!" balas Mike, lalu meminta pada istrinya agar membuatkan roti selai kacang.
"Hais!!! Dasar Kampret! Quen, lihat suamimu menjadi tengik seperti ini!" Arra mengadukan tingkah Mike kepada Quen, padahal sudah jelas kalau Quen melihat tingkah mereka berdua yang saling berdebat.
__ADS_1
Mike menatap tajam Arra yang saat ini sudah duduk di kursi yang ada di sebelahnya. "Terkadang aku heran kepada Carlos, kenapa bisa cinta mati dan bucin kepada wanita menyebalkan seperti kamu?"
Seperti itulah mereka Mike dan Arra jika bersama pasti selalu bertengkar, dan mendepatkan sesuatu yang tidak penting, tapi mereka sebenarnya saling menyayangi satu sama lain.
"Ha ha ha, karena aku menggunakan ajian semar mesem dan jaran goyang, biar dia tunduk kepadaku! Puas!" kesal Arra sambil menatap Mike sengit dan tajam.
Quen yang sejak tadi menahan tawa pun akhirnya pecah juga karena mendengar kalimat Arra yang menggelikan.
Semar mesem?
Jaran Goyang?
Bukankah itu ajian pelet dari negaranya? pikir Quen sambil tertawa terbahak-bahak.
"Idih!!! Kata warga +62 ... amit-amit jabang bayi!" balas Arra sambil mengelus perutnya.
"Ha ha ha ha." Quen tertawa lepas lagi karena Arra ini sangat lucu dan menggemaskan, pantas saja Carlos sangat bucin padanya.
Quen menyerahkan dua potong roti selai kacang kepada suaminya. Mike menerimanya dan langsung melahapnya sambil menatap Arra yang komat-kamit seolah sedang membaca mantra.
__ADS_1
Selesai sarapan diiringi dengan perdebatan. Mike kini sudah bersiap berangkat ke kantor.
"Jadi, kamu akan di kantor seharian dan membiarkan aku bosan?" Quen menyentuh dada bidang Mike dengan ujung jarinya.
"Mau mu apa?" Mike mulai hafal dengan sikap Quen, jika bersikap baik dan manis seperti ini pasti ada maunya.
"Menurutmu? Masa tidak paham." Quen mengerlingkan mata pada Mike, lalu mengecup dada bidang itu dengan sensual.
Mike mengambil dompetnya lalu menyerahkan black card kepada istrinya. "Gunakan kartu ini sesuka hatimu," ucap Mike menatap istrinya dengan lekat.
"Yes!!" Quen berseru senang lalu menerima black card itu dengan senang hati, kemudian ia berjinjit dan memberikan hadiah ciuman di bibir suaminya. "Kamu memang suami yang sangat pengertian."
"Kau pikir semua yang aku berikan gratis?!" Mike berbisik sembari memeluk pinggang ramping istrinya.
"Ish! Dasar perhitungan!" Quen sudah menduga kalau suaminya itu akan meminta timbal balik.
"Itulah aku, dan persiapkan dirimu untuk nanti malam!" Mike segera menjauh menuju mobilnya yang sudah terparkir di halaman rumah.
Quen mencebikkan bibirnya, seraya bergumam, "apakah dia tidak lelah? Tidak pernah puas?"
__ADS_1
****
Nggak pernah puas, Quen, yang ada malah mau nambah terus, wk wk wk wk