
Hari berlalu dengan begitu cepat, tidak terasa kandungan Quen sudah memasuki usia 9 bulan, dan sudah memasuki HPL. Sedangkan Arra sudah melahirkan sejak beberapa bulan yang lalu, dan bayinya berjenis kelamin perempuan, sangat cantik seperti Arra.
Quen dan Mike sudah pindah ke rumah mereka sendiri sejak beberapa bulan yang lalu. Saat ini rumah mereka terlihat ramai karena kedua orang tua Quen datang dari Indonesia.
"Kami belum pernah melihat orang tuamu, Mike, apakah kamu tidak berniat untuk mengenalkannya kepada kami?" tanya Safira kepada menantunya.
"Benar, aku pun belum pernah bertemu dengan ibu mertua," sahut Quen sambil menatap suaminya yang duduk di sampingnya. Tapi, dia segera membekap mulutnya saat baru teringat kekejaman ibu mertuanya yang dengan tega ingin menjodohkan Mike dengan wanita lain, dan lebih parahnya lagi, ibu mertuanya menyekap Mike yang notabennya putranya sendiri.
"Apakah hubunganmu dengan orang tuamu baik-baik saja, Mike? Sampai-sampai kamu tidak mengenalkan Quen kepada mereka? Jangan-Jangan ibumu juga tidak tahu kalau kamu sudah menikah dengan Quen?" Kali Jeff yang melontarkan berbagai pertanyaan kepada menantunya.
Jeff bukan bermaksud ingin menyudutkan Mike, akan tetapi dia hanya ingin penjelasan dari menantunya sendiri.
__ADS_1
"Dad, hubungan Mike dan kedua orang tuanya baik-baik saja." Quen menyahut cepat.
"Dari mana kamu tahu? Bukannya kamu sendiri belum pernah bertemu dengan ibu mertuamu?" Jeff menatap putrinya dengan tajam.
"Quen pernah bertemu dengan Ibu, Dad, mungkin Quen lupa," jelas Mike dengan nada datar.
"Hah? Kapan? Benarkah?" cerocos Quen dengan berbagai pertanyaan, dan otaknya berusaha mengingat akan tetapi dia memang belum pernah bertemu dengan ibu mertuanya.
"Saat di rumah sakit, beberapa bulan yang lalu, saat kandunganmu baru berusia 3 bulan," jawab Mike menatap istrinya sambil tersenyum lalu mengusap perut buncit istrinya dengan gemas. Quen menjadi semakin sexy dan montok semenjak perutnya semakin membesar, hal itu membuat Mike terkadang tidak tahan untuk bercinta dengan istrinya. Pernah juga, Mike rela bolos kerja karena tidak mau berjauhan dengan Quen.
"Aku tidak ingat," jawab Quen diiringi dengan gelengan kepala.
__ADS_1
"Masih ingat dengan wanita yang kamu pijat karena vertigo?" kali ini Mike memperjelas clue yang dia berikan agar istrinya mudah mengingat.
"OH My God!!!" pekik Quen seraya membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Ya, kini dia mengingatnya, dia sangat mengingat jelas kalau wanita yang dia tolong beberapa bulan yang lalu bernama 'Cecilia'.
"Mike, kamu tidak sedang bercanda 'kan?" tanya Quen menatap suaminya serius.
"Aku serius, Sayang." Mike menjawab seraya mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut.
"Oh God!! Aduh ... perutku sakit!" Quen tiba-tiba meringis kesakitan sambil mengusap perutnya yang terasa kencang, seperti kram.
"Quen, are you oke?" Mike panik saat melihat istrinya merintih sakit.
__ADS_1
"Sepertinya sudah waktunya cucun kita akan keluar. Mike segera siapkan mobil, biar Daddy dan Mommy yang mengurus Quen," ucap Safira pada menantunya.
"Iya, Mom." Mike segera berjalan cepat menuju garasi mobil dan memarkirkannya di halaman rumah. "Shiit!" umpat Mike ketika dia merasa ketakutan yang luar biasa. Padahal dulu saat masih menjadi mafia, dia sama sekali tidak takut saat melihat orang kesakitan saat akan meregang nyawa, tapi sekarang ... baru melihat istrinya merintih kesakitan sudah membuatnya panik dan ketakutan.