DANCE FOR RICH MAN

DANCE FOR RICH MAN
Tengah Malam


__ADS_3

Jantung Clarie berdetak sangat cepat, saat merasakan deru nafas hangat Mike menerpa pipi mulusnya.


CUP!


Kedua mata Clarie terbuka ketika merasakan benda kenyal itu mendarat dikeningnya. Clarie pikir, Mike akan mencium bibirnya tapi ternyata dia salah.


Mike menjauhkan diri seraya menatap Clarie yang masih terdiam seperti patung, mungkin gadis itu terkejut karena kenyataan yang dia dapat tidak sesuai dengan yang ia bayangkan.


"Clarie, kau adalah gadis yang sangat baik. Jangan bersikap seperti ini kepada pria lain." Mike memberikan nasehat sembari membenarkan posisi duduknya.


Seketika itu Clarie tersadar, kemudian ia tersenyum miris dan segera kembali mengusai hatinya yang merasa kecewa, kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa menahan diri. Apakah saat ini dia terlihat murahan di hadapan Mike? pikir Clarie menjadi gegana.


"Maaf, aku kehilangan kendali." Clarie merasa malu pada Mike.


Dia tahu dan sangat tahu  sifat Mike yang mempunyai pendirian yang teguh dan tidak mudah berpaling atau pun berkhianat. Sungguh beruntung sekali wanita yang di cintai oleh Mike.


"Ya, aku bisa memahaminya," sahut Mike seraya menipiskan bibirnya.


Clarie mengangguk sambil terkekeh pelan, seketika itu dia menjadi salah tingkah, dan ia segera menyalakan mesin mobilnya, "apakah kamu akan pulang ke rumah Carlos?" tanya Clarie.


"Apakah kau akan mengantarkanku ke sana?"

__ADS_1


"Iya, aku akan mengantarkanmu.  Emh ... sebagai permintaan maaf dariku juga tentunya," jawab Clarie seraya menghela nafas panjang lalu menekan pedal gas mobilnya dengan kecepatan sedang, keluar dari area rumah mewah tersebut.


"Oke." Mike menjawab diiringi dengan anggukan kepala.


*


*


"Quen, belum tidur?" tanya Arra pada Quen yang masih duduk di ruang keluarga sambil mengotak-atik ponsel.


"Belum mengantuk." Quen menjawab dengan lesu.


Arra menghela nafas panjang lalu mendudukkan diri di samping wanita itu. "Masih memikirkan Mike?"


Arra bisa mengerti perasaan Quen saat ini, dia hanya bisa mencoba menenangkan wanita itu. "Emh, aku dengar orang tuamu tadi menelepon ya?" tanya Arra mengalihkan pembicaraan agar wanita itu tidak sedih lagi.


"Iya, mereka sangat marah karena aku pergi tidak berpamitan kepada mereka." Quen menjawab seraya menatap wanita cantik yang ada di sampingnya itu.


"What? Memangnya kau pergi tanpa berpamitan kepada mereka? Kau benar-benar gila! Jika terjadi sesuatu pada kandunganmu bagaimana? Ish!" Arra jadi ikut memarahi Quen.


"Kenapa kau memarahiku? Hiks ... hiks ..." Quen menangis sedih, ia terisak sambil menangkup wajahnya.

__ADS_1


Eh ...


Arra menjadi panik saat melihat Quen menangis, dia menjadi bertambah bingung untuk menenangkan nya.


"Quen, jangan menangis ya. Aku minta maaf ... aku mohon maafkan aku. Ayolah, jangan menangis lagi." Arra membujuk Quen yang masih terisak.


"I'm oke," jawab Quen seraya mengusap air matanya. "Dan aku juga sudah memaafkanmu."  Mood ibu hamil itu berubah sangat cepat.


Arra tersenyum dan bernafas lega, lalu memeluk Quen sesaat, seraya berkata, "thanks."


"Iya," jawab Quen membalas pelukan Arra.


"Sudah hampir tengah malam, cepatlah tidur." Arra berkata sambil mengurai pelukannya.


"Iya, sebentar lagi."


Arra beranjak dari duduknya menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


Sekarang tinggal Quen sendirian di ruang keluarga itu.


TING ... TONG!

__ADS_1


Suara bel rumah berbunyi. Quen  menatap ke arah tangga, Arra sudah tidak terlihat.


"Siapa yang berkunjung malam-malam seperti ini?" gumam Quen takut.


__ADS_2