
Mike dan Quen berjalan bergandengan tangan di koridor rumah sakit. Quen masih saja medumel dan berdecak berulang kali karena suaminya menjadi pusat perhatian para wanita di rumah sakit tersebut. Padahal Mike sudah memakai masker, kaca mata dan topi, tetap saja suaminya itu masih terlihat begitu tampan.
"Rasanya aku ingin memasukkanmu ke dalam karung!" kesalnya, memutar kedua matanya dengan malas.
"Wajahmu akan menua kalau marah-marah terus," sahut Mike seraya merangkum pundak istrinya dengan mesra.
"Habisnya aku sangat kesal karena para wanita itu menatapmu seperti dessert yang manis dan siap di santap!Rasanya aku ingin mencolok mata mereka!" sungut Quen sambil meletakkan salah satu tangannya di pinggang suaminya. Pamer mesra agar suaminya tidak ada yang melirik lagi.
"Mau bagaimana lagi, suamimu ini sungguh tampan, mau dilihat dari ujung sedotan pun tetap terlihat sangat tampan," sahut Mike, sangat narsis. 😆
Obrolan mereka terhenti saat mereka berhenti di depan ruang dokter obgyn.
Pasangan suami istri itu di sambut oleh perawat yang mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruangan dokter.
*
*
"Josep! Antarkan aku ke rumah sakit!" Cecilia berkata sambil berteriak kepada kepala pelayannya. Ia berdecak sambil memijat pelipisnya, vertigo-nya kambuh.
"Lebih baik saya panggil dokternya ke sini, Nyonya." Josep menyarankan, akan tetapi di tolak Cecilia.
"Tidak perlu! Sepertinya aku juga membutuhkan udara segar! Ayo!" Cecilia berjalan lebih dulu ke halaman rumah.
__ADS_1
"Baik." Josep menghela nafas kasar, mengikuti Cecilia.
*
*
"Janinnya sangat sehat. Dan berkembang dengan baik." Dokter wanita menjelaskan seraya menggerakkan alat USG di permukaan perut Quen.
"Apakah jenis kelaminnya sudah kelihatan?" tanya Mike sangat antusias.
"Belum ..." ucapan Dokter terhenti saat Mike menyelanya.
"Kenapa belum? Apakah alat USG-mu kurang canggih?!" ketus Mike seraya menatap tajam dokter wanita tersebut.
"Apa? Aku hanya bertanya saja!" Mike menjawab acuh seraya melipat kedua tangannya di dada.
Quen menjadi gregetan kepada suaminya sendiri.
"Usia kehamilan istri Anda baru memasuki usia 3 bulan, Tuan. Biasa jenis kelamin janin bisa dilihat saat usia kehamilan 5 bulan," jelas dokter penuh kesabaran.
"Oh!" Mike hanya membulatkan mulutnya sebagai jawaban.
Dokter tersebut tersenyum kecut sembari menatap Mike yang memakai topi, kaca mata hitam, lengkap dengan masker.
__ADS_1
Pemeriksaan kandungan sudah selesai. Mike dan Quen keluar dari ruangan dokter sembari membawa resep dokter.
"Kamu tunggu di sini, aku akan ke apotik untuk menebus vitamin-mu." Mike menyuruh istrinya menunggu di lobby.
"Jangan lama-lama!" Quen mengingatkan suaminya, seraya menatap tajam.
"Oke." Mike mengacak pucuk kepala istrinya dengan gemas, setelah itu ia segera menuju apotik rumah sakit.
Quen menatap punggung suaminya, yang semakin menjauh dari pandangan. Quen langsung mendudukkan diri di kursi tunggu yanh ada di lobby tersebut. Ia mengambil ponselnya, untuk mengusir rasa jenuhnya.
Namun, baru saja ingin membuka aplikasi game di ponselnya, ia melihat seorang wanita sedang kesakitan yang duduk tidak jauh darinya.
"Aduh ..."
Quen memasukkan ponselnya lagi ke dalam tas, lalu mendekati wanita tersebut.
"Are you oke?" tanya Quen.
"This is bad, my head really hurts," keluhnya seraya memegang kepala.
"Maaf, bolehkah aku memijat kepala Anda?" tanya Quen dengan nada sopan.
"Tentu, apakah tidak merepotkan?" tanya wanita tersebut yang tak lain adalah Cecilia.
__ADS_1