
Beberapa hari kemudian. King mengajak Alessia kesuatu tempat yang masih di rahasiakan olehnya.
"Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Alessia pada King yang fokus menyetir mobil.
King menoleh sesaat, tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaan calon istrinya.
"King!" seru Alessia seraya menepuk pundak King dengan dengan kesal.
"Kau akan tahu nanti," jawab King tanpa menoleh.
Alessia menghenyakkan punggungnya kesandaran jok dengan kesal. Jawaban King tidak membuatnya merasa puas. Dia cemberut, karena tidak biasanya King mengajaknya pergi tanpa memberi tahu arah tujuannya seperti ini.
"Awas saja kalau kau mengajakku ke tempat yang aneh-aneh!" ancam Alessia seraya menunjuk wajah tampan calon suaminya.
"Kau tenang saja, aku adalah pria kolot yang tidak akan macam-macam sebelum kita menikah," jawab King sambil mengerling nakal.
"Cih! Sok bijak, apakah kau lupa kejadian di rumah sakit beberapa bulan yang lalu? Aihhh, dasar bajingan!" umpat Alessia, melirik tajam pada King seraya mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Oh ... beberapa bulan yang lalu? Di rumah sakit? Aku tidak mengingat sama sekali kejadian di sana. Kau mengingatnya 'kan, jadi bisa ceritakan padaku?" ucap King menggoda Alessia tapi perkataannya terdengar sangat serius.
"Oh... God!" Alessia memutar kedua matanya dengan malas seraya bersedekap di dada, kesal sudah pasti ketika mendengar ucapan King. Dia yakin kalau King hanya menggodanya saja, jadi dia memilih untuk diam dari pada meladeni manusia kaktus itu.
"Kenapa diam?" tanya King melirik Alessia yang cemberut.
"Tidak!" jawab Alessia singkat dan jelas.
"Atau kita ulang lagi kejadian di rumah sakit itu, agar aku bisa mengingatnya dengan jelas," ucap King dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari wanita cantik itu.
"King, hentikan bualanmu!" Alessia menarik tangannya dari genggaman King, tapi sayang genggaman tangan semakin kuat.
"Al, aku tidak sedang membual, tapi aku berkata serius. Kau semakin cantik kalau sedang marah, tapi akan semakin cantik lagi kalau bibir itu tersenyum hanya untukku," bisik King dengan lembut, lalu mengerlingkan sebelah matanya dengan nakal.
Blushhh
Kedua pipi Alessia tanpa di sangka langsung memanas, kemudian dia segera memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Tidak mungkin 'kan kalau dirinya jadi baper hanya karena gombalan receh calon suaminya itu?
__ADS_1
Ah, menyebalkan! Rasanya Alessia ingin menangkup wajahnya yang semakin terasa panas, dia yakin kalau kedua pipinya saat ini merona seperti tomat yang matang di pohon.
King tersenyum, tangan kanannya masih menggenggam erat tangan Alessia. Seolah enggan melepaskan tangan lembut itu. Perjalanan mereka menjadi hening, perdebatan mereka berakhir, dan Alessia masih setia menatap ke arah jendela mobil. Bibir King sejak tadi berkedut karena menahan senyuman. Ternyata sangat mudah membuat wanita tersipu, cukup keluarkan gombalan receh saja.
Tips yang di berikan oleh calon mertuanya memang sangat mujarab. King akan berterima kasih lagi pada Carlos nantinya.
*
Mobil yang di kendarai King berhenti tetap di depan gedung putih yang mempunyai tiga tingkat.
"Children's Aid Society." Alessia membaca nama plang gedung tersebut.
"King..." panggil Alessia lalu menatap dengan dalam.
"Apa? Kau tidak ingin turun dan ikut denganku?" tanya King ada Alessia, seraya keluar dari mobil terlebih dahulu.
"Ah ... iya." Alessia melepaskan sabuk pengaman, lalu membuka pintu mobil, keluar dari sana, berjalan mengikuti King.
__ADS_1