
"Mom!!!" teriak Mike kepada ibunya. Sudah dua hari dia di kurung di dalam kamar. Bahkan ponselnya di sita oleh ibunya. Yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah Quen-istrinya. Mike mencengkram rambutnya penuh frustrasi sambil berteriak keras.
Ibunya tidak pernah berubah, selalu mengekangnya dan tidak pernah memberikan kesempatan kepadanya untuk melakukan apa pun yang dia mau, maka dari itu dia lebih memilih pergi dari rumah dari pada terkurung dalam sangkar emas.
"Nyonya, Tuan Muda terus berteriak dari pagi dan tidak mau makan dan minum," ucap Josep sang kepala pelayan kepada Cecilia.
"Biarkan saja, nanti juga diam jika dia lelah," jawab Cecilia datar sambil membuka ponsel Mike yang terkunci layarnya. Dia menggeram kesal karena sejak tadi ia berusaha membuka ponsel putranya itu tapi tidak kunjung bisa.
"Anak itu menjadi liar dan pembangkang! Haruskah aku melakukan hal yang lebih keji kepadanya?" tanya Cecilia kepada Josep.
"Saya rasa tidak perlu, Nyonya." Josep menelan ludahnya dengan kasar saat melihat sinar mata mengerikan itu.
Cecilia mengangguk lalu mengibaskan salah satu tangannya bertanda jika Josep harus segera pergi dari sana. Josep pun mengerti dan segera pamit undur diri.
Cecilia menjadi semakin kesal karena tidak berhasil membobol kunci layar ponsel putranya. Tentu saja tidak akan pernah bisa, karena Mike mempunyai keamanan sendiri dan tidak akan ada yang bisa membobolnya, bahkan seorang hacker handal pun tidak akan pernah bisa.
*
*
"Carlos! Apa kau yakin kalau Mike saat ini baik-baik saja? Ponselnya tidak bisa dihubungi." Arra sangat mencemaskan Mike yang sejak kemarin tidak ada kabar.
__ADS_1
"Aku tidak yakin," jawab Carlos merasa gamang.
"Lakukan sesuatu! Aku takut kalau dia terluka." Arra mendudukkan diri di samping suaminya di ruang keluarga.
"Iya, tapi ini sangat bahaya, karena orang tua Mike sangat berkuasa dalam dunia bisnis, jadi kamu sendiri pasti tahu akibatnya seperti apa 'kan kalau kita gegabah bertindak." Mike memberikan penjelasan kepada istrinya.
"Ya, ampun kenapa menjadi seperti ini?" Arra menangis di pelukan suaminya.
Di Jakarta, Quen pun sama cemasnya dengan Arra, karena dia tidak bisa menghubungi suaminya sejak kemarin.
"Apakah aku harus menyusulnya?" gumam Quen seraya menatap laci nakas, ia segera menarik laci tersebut dan mengambil secarik kertas di sana. Sebelumnya, Mike memberikan alamat rumah saudaranya yang ada di New York, karena pria itu berharap jika istrinya berubah pikiran dan akhirnya menyusulnya ke New York.
*
*
"Jangan seperti anak kecil, Mike! Mommy melakukan semua ini demi kebaikanmu!" Cecilia mendekati putranya yang menunduk frustrasi. Cecilia menarik tangan putranya, ia membutuhkan sidik jadi Mike untuk membuka ponsel yang ia pengang saat ini.
Mike mengeraskan rahangnya, dengan cepat ia mengambil ponselnya yang ada di genggaman ibunya, lalu menghantamkan ponsel tersebut ke dinding hingga hancur lebur. Mike tidak akan membiarkan siapa pun membuka ponselnya itu, bukan karena memiliki rahasia, akan tetapi dia tidak ingin jika ibunya mengetahui tentang Quen.
Istrinya dalam bahaya jika ibunya mengetahuinya.
__ADS_1
"Mike!!!" teriak Cecilia penuh emosi, ia segera memungut ponsel yang sudah hancur itu, tapi sayangnya sudah tidak harapan lagi. Cecilia mengeraskan rahangnya karena dia tidak bisa mengetahui tentang wanita yang di nikahi Mike.
"Mommy selalu memperlalukanku seperti seekor an-jing! Pantas saja Daddy tidak betah berada di rumah, bahkan menceraikan Mommy," desis Mike menatap ibunya sangat tajam.
"Tahu apa kamu?! Diam dan tutup mulutmu!!" bentak Cecilia.
"Jangan membuatku semakin marah, Mom. Aku sudah berusaha bersabar agar tidak menyakiti Mommy!" Mike berdiri lalu mendekati ibunya.
"Apa yang ingin kau lakukan? Ingin membunuh Mommy? Lakukan saja jika kau bisa!" Cecilia menyeringai seraya menatap tajam putra kesayangannya.
Mike memundurkan langkahnya, dia menatap ibunya dengan tatapan nanar. "Sebenarnya apa yang Mommy inginkan?"
"Mudah! Diam di rumah ini, dan turuti semua kemauanku. Termasuk menerima perjodohan yang sudah Mommy rencanakan!" balas Cecilia pada putranya.
"Oke!"
Cecilia tersenyum puas mendengar jawaban putranya.
***
Geram sama mak lampir ini ...
__ADS_1
Like-nya bestie, jangan lupa ya.