DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
SESAK


__ADS_3

Taman yang sedang ramai pengunjung tidak membuat ku ikut merasakan evorianya. Aku hanya duduk dibangku taman sambil menikmati cemilanku. Sesekali aku memperhatikan orang orang disekitar dengan segala aktivitas masing masing.


Hufh...! Berkali kali kali aku membuang nafas dengan kasar. Berharap rasa sesak ini ikut terlempar keluar.


Hari sudah sore, tapi aku enggan untuk pulang. Rasanya sangat berat untuk melangkah.


Aku merogoh saku celana ku untuk mengambil ponsel dan mulai mencari nomor kontak yang bisa kuhubungi.


hufhh....!kembali aku membuang nafas berat. Ku gelengkan kepala ku perlahan. Ku kembalikan ponsel ku ke tempat semula.


"Tidak! tidak ada satu pun yang bisa ku ajak bercerita". Ucap ku dalam hati. Mulut ini selalu saja tidak bisa diajak bekerja sama dikala aku ingin mengatakan aku punya masalah. Entah kutukan apa yang ada padaku. Apakah ini sebuah penyakit jiwa? Aku tidak tahu. Yang jelas bagi ku meminta bantuan dan berkeluh kesah itu seperti pantangan. Diriku sangat sulit berbagi cerita sedih ku dengan orang lain. Bahkan kepada orang tuaku sendiri. Aku selalu berusaha terlihat baik baik saja, terlihat bahagia, kuat dan sehat.


Aku termasuk periang dan termasuk petakilan alias team rusuh jika berkumpul dengan teman-teman ku.Dua sisi yang sangat bertolak belakang.


"Ayolah risa. Mau tidak mau, kamu harus pulang." Kataku pada diri sendiri. Ada rasa nyeri menyerang ulu hati ku. Aku ingin menangis meraung raung. Aku ingin berteriak sekeras keras nya. Tapi hanya air mata yang jatuh.


Dengan cepat ku hapus air mata ku. Jangan sampai orang-orang menyadarinya. Bisa bisa aku dianggap gila.

__ADS_1


Aku beranjak dari kursi. Kulihat taman pun semakin sepi. Dengan langkah gontai aku pun berjalan meninggalkan taman.


Sejujurnya aku ingin sekali minggat dari rumah. Lebih tepatnya ingin hidup sendiri. Tapi hati nurani ku tidak tega meninggalkan ibu dan adik adik ku. Yaaa memang diriku selalu seperti ini. Terlalu memikirkan orang lain dan perasaan orang lain.


Tiba tiba ponsel ku berbunyi. Kurogoh saku ku, tertera nama Lana di layar.


"Halo."


"Udah pulang kerja?" Tanya Lana.


"Aku juga lagi dekat sana. Tunggu aku disana ya!" Belum sempat ku jawab, sambungan telpon sudah terputus.


"Isshhh! Kebiasaan deh ne anak!" Aku menggerutu. Mau tidak mau aku kembali duduk di tempat semula.


Tak lama Luna sudah ada di depan ku. Dengan nafas terengah-engah, Dia langsung duduk dan bertanya "Ada masalah ya?"


Aku hanya menggeleng pelan.

__ADS_1


"Hmm. Bohong!" Ucapnya dengan mata melotot.


Aku hanya membalas ucapannya dengan mengacungkan dua jari membentuk huruf V. Dia hanya manggut mangut.


Padahal dalam hatiku berkecamuk hebat. Isi hati ku seperti meronta ronta. Tapi aku memilih untuk tutup mulut.


Aku tahu, Luna pasti tidak percaya. Hanya saja dia lebih memilih untuk mengalah. Dia tahu betul karakterku yang keras kepala. Sampai lebaran monyet sekali pun, aku akan berkata tidak ada apa apa.


"Cari makan yuk. Pengen makan sate yang ekstra pedas nih." Luna melirik ku sambil tersenyum.


Kusambut ajakanya dengan senang hati. Dia sangat paham jika aku hanya butuh makanan ketika suasana hatiku kacau.


Kami pun beranjak pergi. Luna mulai mengoceh panjang lebar tentang pengalamannya hari ini.


Aku sedikit terhibur dengan segala ceritanya.


Rasa sesak ku sedikit terobati.

__ADS_1


__ADS_2