DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
SIAPA?


__ADS_3

Perbedaan kita terlalu jauh sayang


Kau hidup dianugrahi dengan kemudahan


Aku hidup berjuang agar semua lebih mudah


Kita bagai bumi dan langit


Untuk bisa bersama


Aku akan berjuang menggapai tempatmu


Kau harus turun dari singgasana dan mulai belajar hidup sepertiku


^^^^^^^^^^


"Waahh...Hubungan percintaanmu banyak kemajuan Ris. Gama memang TOP!" Ucap Luna yang sedang berbaring sambil menghentak hentakkan kakinya dikasurku.


"Suaramu agak dipelankan sedikit Lun! Kakimu tidak usah ikut berisik, nanti kasurku roboh!" Ucapku ketus sambil merias wajahku.


"Aku ikut senang. Kamu gugup tidak? pasti kau akan bertemu dengan orang tuanya disana." Luna mengubah posisinya dan duduk dipinggir kasur.


"Gugup lah! Makanya aku mengajakmu." Ucapku ambil mematut diri dicermin. Aku memutuskan memakai dress selutut kotak kotak merah bercampur hitam. Dan mulai mencepol rambutku. Gaya yang paling praktis dan simpel menurutku. Karena aku tidak suka yang ribet ribet.


"Ha..ha..ha..! Aku sih tidak keberatan, hitung-hitung pacaran gratis disana. Eh! Aku bawa pacar ya? Hehe...Lupa kalau belum ijin."


"Terserah." Sahutku singkat.


"Risa...Gama udah datang Nak." Ibuku tiba-tiba berteriak memanggil. Kami pun bergegas keluar kamar.


"Apa tante belum berubah pikiran? Aku sangat ingin mengajak kalian sekeluarga." Ucap Gama.


"Tidak Nak. Nikmatilah waktu kalian."


"Mak." Aku pun mulai merengek.


"Tidak untuk sekarang Risa. Berangkatlah."


Akhirnya kami pun mengalah. Aku sangat paham jika sekali Ibuku berkata tidak, maka itu sudah mutlak. Kami pun berpamitan.


Diperjalanan menuju pesta....


"Yang...kok aku tidak pernah melihat Om ada dirumah setiap aku berkunjung?"


"Ha...Itu... Anu.." Jawabku terbata-bata. Otakku blank. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan mendadak itu. Aku sama sekali belum siap membuka semuanya.


Tiba-tiba saja...


"Risa...!" Luna berteriak dari jok belakang. Tentu saja membuat kami terkejut setengah mati.


"Apaan sih?! Kau mau membuat kita celaka?!" Ucapku sambil menoleh ke jok belakang.


"Bisa tidak kita agak cepat sedikit? Reza sudah sampai duluan, aku tidak mau membuat dia menunggu terlalu lama." Ucapnya dengan nada yang dibuat manja. Kemudian dia mengedipkan sebelah matanya. Aku paham Luna sedang mebantuku mengalihkan topik.


"Huuu..!!! Dasar lebay!" Aku berpura-pura marah. Padahal aku sangat berterimakasih.


Luna memang the best.


"Dengan senang hati nona Luna. Aku juga sudah tidak sabar untuk mengenalkan Risa ke orang tuaku." Pungkas Gama kemudian menambah lacu kendaraannya.


Sesampainya disana Luna begitu girang melihat pacarnya sudah sampai duluan. Dia pergi begitu saja meninggalkan kami berdua yang sedang berjalan dari parkiran.


Aku hanya mengeleng pelan. Apa dia tidak sadar kalau yang punya acara ada disebelahku. Ck...ck...ck.

__ADS_1


Tiba-tiba Gama menggandeng tanganku. Aku pun reflek menoleh kearahnya.


"Kamu gugup ya?"


Kujawab pertanyaanya hanya dengan anggukan.


"Ada aku Yang. Cukup pikirkan saja aku."


"Iya." Ucapku singkat.


Suasana pesta yang begitu meriah. Persis seperti yang di film-film menurutku. Mewah dengan berbagai macam hidangan, meja-meja yang ditata indah serta para tamu dengan penampilan yang begitu glamour. Mataku mencari sosok Luna atau Tuta, setidaknya kegugupanku akan berkurang. Tapi hasilnya nihil.


"Ma..Pa.Kenalkan ini Derisa. Pacarnya Gama."


Segera kuulurkan tangan ku. Mereka begitu serasi. Ibunya Gama begitu elegan dan Ayahnya begitu bewibawa.


"Derisa Om, Tante." Kami pun saling berjabat tangan. Jantungku rasanya seperti mau meledak.


"Nama yang cantik. Kamu juga manis." Ucap Tante Sofia ibunya Gama.


"Makasih Tante. Tante juga cantik dan anggun." Ucapku dengan tulus.


Tidak ada penolakan, orang tua Gama menerimaku dengan segala latar belakangku. Lega sekali rasanya.


Kami saling bertukar cerita sambil menikmati hidangan yang tersedia didepan kami.


"Gama, ayo temui kolega-kolega kita." Kata Om Arman.


"Sebentar Om pinjam Gamanya ya Risa." Tambahnya lagi dengan lembut tapi penuh wibawa.


"Sebentar ya Yang. Kamu duduk aja di sini. Biar gak capek."


Aku hanya mengangguk. Ditinggal sendiri jelas aku merasa bosan. Aku kemudian melangkah untuk mengambil beberapa makanan yang sudah disediakan. Kulihat orang-orang memandangku dengan tatapan tidak mengenakkan dan berbisik-bisik.


"Ehemm..Kenalannya Gama?"


Aku menoleh kekanan dan kiri. Untuk memastikan jika wanita ini berbicara kepadaku atau tidak.


"Iya Mbak." Sahutku singkat. Aku punya firasat tidak enak terhadapnya. Bisa kurasakan ada kecemburuan dimatanya.


"Perkenalkan aku Anisa. CEO Mutiara hotel." Ucapnya sambil mengulurkan tangan.


"Oh..Namaku Derisa, biasa di panggil Risa." Aku tersenyum kikuk. Entah kenapa instingku menangkap sesuatu disorot mata indah itu.


"Lho...Nisa?! Dari tadi tante mencarimu." Tiba-tiba Tante Sofia sudah berada didekat kami.


"Tante Sofia..Cantik sekali." Mereka pun saling bercipika cipiki.


"Kalian sudah saling kenal? Ini Risa, pacarnya Gama Lho Nis." Aku hanya tersipu. Tidak kusangka jika aku disambut hangat oleh orang tua Gama.


"Oh." Jawab Anisa. Ada aroma-aroma keangkuhan walaupun tidak begitu jelas. Aku memang sedikit sensitif dan instingku begitu tajam. Kehidupan yang keras membentukku demikian.


"Sebaiknya kita duduk. Biar lebih enak ngobrolnya." Ajak Tante Sofia. Kami pun mengekor dibelakangnya.


"Gama pasti terkejut melihatmu disini." Ucap Tante Sofia.


"Aku sudah tidak sabar Tante." Mata Anisa begitu berbinar.


Siapa wanita ini? kenapa begitu akrab dengan Ibunya Gama? Apa mereka lupa dengan keberadaanku? Ah!....


"Risa...Anisa ini..." Belum sempat Tante Sofia menyelesaikan kalimatnya seorang datang dan membisikan sesuatu.


"Sebentar ya nona-nona, aku ada keperluan sebentar. Kalian mengobrollah." Tante sofia pun pergi.

__ADS_1


Sepeninggal Tante Sofia, dua orang gadis datang dan bergabung bersama kami. Mereka adalah teman-temannya Anisa.


"Kenal Gama dari mana?" Tanya Anisa memecah keheningan diantara kami.


"Dari..."


"Orang tuamu punya bisnis apa?" Salah seorang teman Anisa yang berambut pendek bernama Lucy memotong kalimatku.


"Mereka petani dan aku penjahit." Ucapku dengan percaya diri.


"Desainer? buka butik dimana?" Ucap yang satunya bernama Dara.


"Saya bukan desainer, tapi penjahit yang kios di pasar."


Mereka manggut-manggut dengan raut wajah angkuh. Sangat menyebalkan sekali.


"Kalau Anisa ini punya hotel dan bisnis produk kecantikan. Itu lho...brand produknya Rose." Lucy menjelaskan.


"Oh ya..hebat sekali." Pujiku.


"Gama dan Anisa dari keluarga dengan kasta yang sama." Tambahnya lagi.


Ah...mereka mau mengintimidasiku rupanya. Aku semakin penasaran dengan Wanita muda ini.


Untuk menghilangkan rasa jengahku dihadapan gadis gadis berisik ini, aku pun melahap kue yang ada dipiringku.


"Baru pertama kali ya ke pesta mewah begini?" Tanya Anisa. Aku hanya menjawabnya dengan menyunggingkan sebelah bibirku. Rasa muak mulai menderaku.


"Kau terlalu biasa untuk standart hidupnya seorang Gama Risa."


"Maksudmu?" Kutatap dia dengan penuh tanda tanya.


"Kau tidak pantas. Aku sudah menyelidikimu jauh jauh hari. Intinya kau tidak pantas."


"Jadi yang pantas itu dirimu?! cantik sih..tapi sombong."


"Jaga ucapanmu!" Dia menatapku dengan penuh amarah.


"Risa..." Sebuah suara yang begitu kukenal datang.


"Tuta...Kau kemana saja? Kau melihat Luna tidak?"


"Dia lagi sibuk mondar-mandir mengikuti pacarnya menemui tamu yang lain. Kekasihnya itu orang elite juga ternyata. Eh..ada mbak Nisa."


"Ha..hai Putra. Apa kabar." Ucapnya dengan terbata.


"Bisa tinggalkan kami Mbak?" Sepertinya Tuta kurang suka dengannya.


"Baiklah. Kami permisi."


Sepeninggal mereka Kucecar Tuta dengan berbagai pertanyaan.


"Aku mencarimu dari tadi. Aku begitu bosan, tidak satupun yang kukenal disini." Aku.merengut.


"Ya..Maaf. Papaku mengenalkanku ke hampir seluruh koleganya. Jadi belum sempat menemuimu." Tuta menyodorkan sepotong kue kearahku. Tanpa sungkan aku pun melahapnya. Kami memang terbiasa seperti ini.


Tiba-tiba aku mendengar suara Gama didekatku. Dia memanggil nama seseorang dan langsung memeluk seorang wanita muda. Wajahnya menunjukkan rasa rindu.


DEG! Jantungku berdetak. Rasa nyeri menjalar di ulu hatiku.


Apalagi wartawan mulai sibuk mengerumuni mereka. Wanita itu mulai bergelayut manja disamping Gama.


Anisa..?! Itu Anisa!

__ADS_1


Aku kacau.....Sangat kacau....


__ADS_2