
####Kebohongan....Orang sering berkata berbohong demi kebaikan tidak apa-apa. Tapi menurutku kebohongan tetaplah kebohongan.
Tetap menghasilkan sakit hati dan kecewa. Merasa ditipu dan dibodohi.###
°°°°°°
Suasana hatiku begitu buruk setelah pulang dari rumah itu. Tepatnya tempat tinggal Gama dan Tuta.
Kuabaikan pangilan dan pesan masuk silih berganti dari Gama dan Tuta. Kuhempaskan tubuh kecilku di kasur yang tidak begitu empuk.
Ingin rasanya aku berteriak sekeras mungkin atau paling tidak kepalan tinjuku ini mendarat di wajah salah satu dari mereka.
Masih teringat jelas bagaimana terkejutnya aku melihat rumah megah yang berdiri dihadapanku.
Di rumah Tuta.....
Rumah itu bergaya minimalis modern dengan sentuhan warna hijau lembut. Dengan taman yang tertata rapi dengan tumbuhan bunga-bunga. Seperti rumah orang kaya yang sering kulihat di film-film.
Jelas saja anak kampung yang hidup di garis pas-pasan sepertiku, menganga menyaksikan semua ini.
Sesampainya didalam rumah, aku semakin tercengang. Isi rumah dipenuhi dengan furniture yang indah dan pastinya mahal. Kulempar pandanganku ke seluruh ruangan. Akhirnya aku paham siapa pemilik rumah ini ketika mataku melihat foto di dinding. Tuta dan keluarga.
"Silahkan duduk."Ucapnya membuatku sedikit terkejut.
Setelah duduk, Tuta pun berbisik...
Santaaii...gak usah tegang gitu.Bentar ya..." Tuta pun beranjak dari duduk dan pergi.
Tak lama kemudian Gama datang menyusul. Memang sebelumnya dia pamit mau ke rumah sebelah.
"Dimana Bayi kolotmu itu?" Ucapnya yang membuatku tersadar dari lamunanku.
"Bayi kolotku?" Tanyaku heran.
"Putra....Ah...ku panggil dia Tuta aja deh."
"Entah...dia pergi ke arah sana. Kebelet kali." Sahutku.
"Oohh...Ke dapur. Tuh anak memang gak suka teriak manggil manggil ART. Katanya berisik. Mending disamperin ke dapur. Aneh kan dia." Ucap Gama tersenyum. Manis sekali.
"Siapa kalian sebenarnya?"
"Kami ya kami."
"Kenapa kalian bohong?"
"Kapan kami berbohong?" Sahut Tuta yang sudah kembali.
"Ta...tapi..." Ucapku terbata-bata.
"Apa pernah kau bertanya tentang asal-usul kami?"
Aku hanya menggeleng pelan. Kemudian Tuta pun melanjutkan..
"Maaf..kalau kami tidak pernah cerita. Inilah kami dari keluarga seperti ini. Mungkin bisa dibilang kaya. Mungkin kau pernah dengar tentang keluarga Adiguna.
Aku pun teringat pernah membaca sekilas tentang keluarga itu. Inti dari tulisan itu, keluarga Adiguna pengusaha sukses. Keluarga ini berkecimpung diberbagai lini usaha.
Perasaan tidak nyaman mulai menjalar. Aku pun mulai membuka ponsel, mencari ojek online dan memesannya.
__ADS_1
"Papa bentar lagi mau nyampe katanya." Ucap Tuta sambil menyeruput minuman yang baru saja diantar.
"Ah...Orang tuaku masih diluar negri. Padahal aku tidak sabar mau mengenalkanmu." Kata Gama sambil mengacak rambutnya.
Aku hanya diam. Aku hanya berharap ojek yang kupesan tiba dengan cepat.
Kepalaku mulai penuh dengan ingatan-ingatan menyakitkan. Bagaimana orang-orang kaya itu memperlakukan keluarga ku.
Ingatan tentang Ayahnya Radit tidak lain seorang kepala sekolah yang begitu angkuhnya datang kerumah. Dia mengancam, menghina dan memfitnah.
Ibunya mengoceh tentang Ibuku yang tidak berpendidikan dan berpakaian lusuh. Dengan mudah mereka membuatku yang seharusnya korban menjadi pelaku yang penuh dosa.Mereka membuatku dan keluarga harus menebalkan telinga dari gunjingan orang-orang selama bertahun-tahun.
Orang kaya itu jahat!
Begitulah pandanganku mulai saat itu. Salahkah aku?! Aku tidak tahu.
Ingatan itu membuatku sakit dan merinding. Aku tidak sanggup jika mengalami hal itu lagi.
Tuta dan Gama sedang asyik bercerita dan bercanda. Kulirik ponselku, pesan dari ojek online masuk mengatakan sudah sampai.
Tanpa pamit, aku pun berlari keluar rumah itu. Suara panggilan dari mereka tidak kuhiraukan. Aku hanya ingin cepat pergi.
Di kost an.....
Aku hanya menangis. Kenapa aku menangis? Aku pun tidak tahu. Hatiku hanya sakit.
Ada rasa takut kehilangan datang menghampiri. Hati kecilku berkata jika aku salah menilai mereka. Tapi otakku berkata lain.
Dalam tangis, aku pun tertidur. Aku berharap ini semua hanya mimpi.
Keesokan harinya, aku pun beraktifitas seperti biasa. Mandi, bersiap dan berangkat.
Aku harus fokus. Aku tidak boleh mengecewakan orang-orang yang kicintai. Keluargaku. Itu menjadi pecutan semangat untukku.
"Siapa?" Tanyaku sambil tetap memotong kain.
"Cowok ganteng. Pacarmu ya?" Godanya.
"Bukan!! Bilang aja aku lembur." Aku sudah menebak siapa yang datang.
"Lembur dari Hong Kong!!! Bentar lagi kita pulang lho....Udah..temui dia sana." Lala pun pergi.
Namanya aku anak baru, ada perasaan tidak enak jika membantah ucapan senior.
Setelah membereskan mejaku, aku pun beranjak pulang.
"Gama?" Tanya ku heran. Dia hanya tersenyum.
"Kamu pikir Tuta ya?" Dengan lembut dia bertanya.
"Tidak suka kalau aku yang datang?" Tambahnya lagi. Sorot matanya penuh dengan kelembutan. Teduh sekali.
"Bu..bukan...Aku hanya heran aja."
"Dia balik ke kota B. Mengurus Pom bensin miliknya itu. Ku antar pulang ya?" Pintanya.
Aku hanya diam. Dia pun menarikku lalu membuka pintu mobilnya. Entah kenapa aku tidak bisa menolaknya.
Ku akui rasa nyaman didekatnya lebih besar daripada rasa benciku terhadap latar belakang keluarganya.
__ADS_1
"Kita ketaman kota dulu ya? Kata Tuta kamu suka duduk-duduk ditaman."
Kembali aku hanya diam.
Sesampainya ditaman. Dia memilih tempat yang sedikit sepi dan agak tinggi. Katanya agar aku bisa melihat kesegala arah. Aku hanya mengekor seperti anak kecil mengikuti Ibunya.
"Ternyata asyik ya, nongkrong ditaman sore-sore gini." Ucapnya sambil menyodorkan roti dan sebotol susu kemasan yang kami beli perjalanan.
"Makasih." Ucapku.
"Akhirnyaaaa...bersuara juga." Dia kembali menatapku lembut. Ku balas tatapan itu dengan pelototan tajam.
"Ha..Ha..Ha..Gemesin." ucapanya sambil mencubit pipiku. Kutepis tangan itu. Dia hanya tersenyum penuh makna.
"Kenapa kamu sebenci itu dengan orang kaya? Tuta pernah bilang sih?! Tapi apa alasannya?"
Lama aku terdiam. Kuseruput susu di tanganku dengan kasar.
"Aku bukan membenci, hanya saja aku tidak suka berhubungan dengan kaum borju."
"Kami juga manusia lho Ris, bukan alien....masih makan nasi kok?!" Ucapnya berusaha mencairkan suasana.
"Aku tahu! Ta..tapi orang seperti kalian suka seenaknya! suka menghalalkan segalanya untuk mencapai tujuan. Walaupun itu menyakiti orang lain. Yang benar bisa menjadi salah. Pokoknya begitulah!!!" Hatiku bergejolak hebat. Ada gemuruh kemarahan dan kesedihan muncul silih berganti.
"Jangan disamaratakan gitu dong."
"Kebanyakan yang kutemui yaaa..jahat! Suka tidak menghargai!sombong dan sok berkuasa! Menganggap semua akan beres dengan uang!" Air mataku yang sedari tadi kutahan, jatuh begitu saja.
"Kau tahu Gama, Kami melewati tahun-tahun yang begitu menyakitkan akibat ulah kaum berduit itu. Disekolah maupun dikampung semua memandang jijik terlepas berita yang mereka dengar itu benar atau tidak.Sakit sekali rasanya." Aku menarik nafas panjang agar suaraku tidak terdengar bergetar.
Tiba-tiba Gama meraihku dan memelukku. Dia menepuk-nepuk pelan punggungku. Aku merasa begitu nyaman.
"Semua kan sudah berlalu....Aku minta maaf karena tidak menceritakan semua tentang ku dan keluarga ku." Gama kembali menatapku dengan penuh kasih.
Deg!!!! Jantungku berdetak kencang. Ada getaran aneh menjalar dihatiku. Rasa yang sudah lama tidak kurasakan.
"Ka..kalau Tuta udah kerja, dia pasti jarang kesini dong?" Tanyaku untuk menutupi kegugupanku.
"Kenapa enggak? Dia kan bosnya?"
"Bos??" Tanyaku heran.
"Memang sih itu milik Paman kami. kemudian di jual ke Papanya Tuta dan dihibahkan ke anak itu. Paman mau fokus ke pertanian aja."
Aku hanya ber Oh panjang. Tidak tahu harus bersikap apa.
Kami pun mulai memandangi pemandangan taman yang sudah mulai gelap.
Aku sibuk dengan pikiranku.
Senja...
Apakah aku pantas berada bersama orang-orang hebat ini?
Senja...
Apakah aku tidak akan mengalami derita itu untuk kedua kali?
Senja...
__ADS_1
Apakah aku berhak berharap matahari akan datang menghampiri ku dan menyinari hidupku?
Ataukah aku akan tetap seperti senja diaper hari yang tidak terang maupun gelap?