DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
WAJAH BARU


__ADS_3

Hari baru! semangat baru! dan kegiatan baru tentunya. Akankah nasibku berubah lebih baik? Aku tidak tahu.


Dua minggu sudah ku jalani drama kebohongan ini. Setiap pagi aku berangkat seperti biasa dengan seragam kampus. Yaa... aku mahasiswi ahli gizi, jadi kuliahnya menggunakan seragam. Agak repot memang gonta ganti pakaian. Tapi tidak masalah demi masa depan.


Beruntungnya, waktu kursus ku sama dengan jadwal kuliah ku. Senin sampai jumat dan mulai jam delapan pagi. Aku sedikit lega.


Ku selesaikan kursus ku dengan baik hari ini. Kemudian aku berangkat untuk bekerja.


Setibanya di tempat kerja, kulihat ada sosok yang asing di sana. Lebih tepatnya di sebelah Tuta. Perawakannya yang tinggi dan tegap, kulitnya kuning langsat.


Tuta melambai, ku beri isyarat kalau aku mau ganti seragam dahulu. Ku lirik jam di tanganku. 14.32 Masih ada waktu setengah jam lagi.


"Bukannya kau masuk shift malam hari ini?" Tanya ku setibanya di dekat mereka.


"Kangen diriku padamu cinta ku." Ucapnya dengan nada bercanda.


"Hmm.. kalau pacarmu dengar, bisa perang dunia ke tiga tau!!" Ku jitak kepalanya.


"Kau yang terspesial Risa. hahaha.. Udah ah! Kenalkan ini sepupu ku dari kota M."


"Derisa. Panggil aja Risa." Ku ulurkan tangan ku.


"Gamaliel." Kami pun berjabat tangan.


"Dia ini sepupu sekaligus tetanggaku lho Ris. Panggil aja dia Gama. Jangan buat panggilan khusus. Cukup hanya aku."


"Terserahku lah!!" Protes ku.


"Aku tidak suka. Nanti tempat ku tergantikan."


"Oke! Oke! Aku tidak mau berdebat denganmu. Bisa panjang nanti."


"Maklumi sajalah Ris. Namanya juga anak bungsu. Agak egois." Gama menimpali.


Aku hanya menimpalinya dengan tertawa.

__ADS_1


Tuta terlihat tidak suka. Mukanya masam dan matanya melotot. Lucu sekali. Tingkahnya menjadi hiburan tersendiri untuk ku.


Segala perhatian dan kebaikannya begitu tulus. Tapi hatiku tidak bisa bergetar untuknya. Aku nyaman dengannya hanya sebatas sahabat bahkan mungkin saudara.


Tapi aku kagum dengan kebesaran hatinya yang masih memperlakukanku begitu baik walaupun sudah ku tolak bahkan dia sudah punya pacar sekalipun. Dia tidak berubah.


"Risa ini mahasiswi lho Gam. Pokoknya cewek tangguh deh."


Deg! Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku cemas.


"Udah ah! Aku mau kerja." Aku pun pergi dengan perasaan yang tidak karuan.


*******


Ini hari ketiga si makhluk baru itu datang. Dan anehnya, si cungkring Tuta selalu menyodorkan Gama menjadi ojek ku pulang.


"Putra sudah banyak berubah ya Ris?" Tanya Gama dalam perjalanan mengantarku pulang malam ini.


" Iya sih." Jawabku sedikit gugup di boncengan belakang.


"Aku suka dengan sikapnya yang sekarang. Auranya lebih positif. Usiamu berapa?"


"Aku hampir 28 lho.."


"Masa?!" Ucapku tidak percaya.


"Ha ha ha...Sumpah! Aku awet muda ya?!"


"Iya." Jawabku singkat.


Sesampainya di depan rumah tak lupa ku ucapkan terima kasih.


"Kapan kita bisa jalan? Kata Putra besok kamu libur. Betul gak?"


"Eh... Iya."

__ADS_1


"Jalan-jalan yuk. Bareng Putra juga."


"Oke." Dengan cepat ku jawab. Aku tidak mau berlama-lama ngobrol di luar. Apalagi udah tengah malam. Takutnya tetangga jadi mikir yang tidak-tidak.


Keesokan harinya....


Setelah perdebatan panjang, akhirnya kami sepakat untuk pergi ke sebuah tempat wisata di pinggiran kota. Taman J namanya.


Entah sengaja atau tidak, Tuta seperti memberi ruang agar aku dan Gama lebih dekat.


"Kita mau pacaran dulu. Daahh..." Dia pun berlalu sambil menggandeng Desi kekasihnya.


"Sejuk ya udara di sini?" Ucap Gama memecah keheningan diantara Kami.


"Namanya juga daerah pegunungan. Aku lapar makan yuk?!"


Kami pun beranjak menuju Restoran. Ku pilih meja yang dekat dengan jendela. Jadi aku bebas melihat pemandangan yang penuh bunga warna-warni. Rasanya begitu menyegarkan mata.


Kami pun memesan makanan dan minuman. Sembari menunggu, aku pun kembali asyik memandang segala aktivitas di luar sana.


"Ris." Panggilan Gama membuat ku tersentak. Aku terlalu asyik sehingga lupa ada Dia di hadapan ku.


"Suka ya sama pemandangannya?"


"Iya Gam." Aku pun tersipu.


"Kamu anaknya agak rusuh ya? Menyenangkan."


"Jangan pake kata rusuh dong. Kesannya kayak pembuat onar gitu." Protes ku


"Hahaha... jadi apa dong?!"


"Pake kata rame kek! Lagian rusuh mana ada yang menyenangkan?!Aneh!!"


Gama pun tertawa mendengar ucapanku. Sembari menikmati pesanan yang sudah datang, Perdebatan-perdebatan kecil pun bergulir begitu saja.

__ADS_1


Hari yang menyenangkan tentunya. Tapi tetap saja aku harus buat perhitungan dengan Orang yang bernama Putra Adiguna. Karena aku mencium aroma perjodohan disini.


*B*akal ku kasih pelajaran itu anak!!!


__ADS_2