DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
MASA LALU YANG KELAM


__ADS_3

Setiap manusia pasti memiliki sisi gelapnya masing-masing. Pasti memiliki rahasia. Pasti memiliki kenangan pahit yang sangat ingin dihapus.


Tapi apalah daya manusia ketika Tuhan memberi kemampuan mengingat dikepala.


Hari keberangkatanku ke kota M telah tiba.


Aku diantar oleh kedua orang tuaku ke terminal bus. Jarak antara kotaku ke kota M tidaklah terlalu jauh. Hanya memakan dua setengah jam perjalanan.


Orang Tuaku begitu berat melepasku. Mungkin karena ini untuk pertama kalinya aku tinggal berjauhan.


"Nanti kalau sudah sampai langsung kasih kabar ya?" Ucap ibu sambil menggenggam erat tanganku.


"Iya, Mak. Mukanya jangan gitu dong. Jelek tau!!!" Sahut ku sambil memeluk Ibu.


"Akan aku usahakan pulang seminggu sekali. Kalau punya duit.hehe.." Tambah ku lagi.


"Gak harus pulang...rajin-rajin aja telfon ke sini ya..kalau sering-sering pulang, sayang uangnya." Ucap Bapak sambil mengusap kepalaku.


Aku pun mengangguk. Lalu aku pun berangkat. Diperjalanan ku cek pesan diponsel ku.


Ku baca satu persatu pesan yang masuk. Tuta, Gama dan Luna.


Entah kenapa aku sedikit kecewa, Gama tidak bisa mengantar. Katanya ada urusan keluarga.


Ah... sudahlah...Aku pun memutuskan untuk tidur.


Akhirnya....Sampai juga. Setelah turun dari bus, segera ku cari angkutan umum menuju tempat magangku. Sunny Butik.


Tak lama kemudian aku sampai didepan sebuah bangunan yang begiti indah. Bangunan itu bergaya istana kerajaan inggris. Dan aku yakin pelanggannya pasti orang-orang kaya.


Aku disambut dengan senyum hangat dari seorang wanita anggun dan cantik. Usianya sekitar 40an. Tapi dia begitu elegan dengan balutan dress selutut berwarna peach. Yang pasti itu mahal.


Kami pun duduk diruangan beliau. Ruangan yang begitu indah, penuh dengan nuansa merah muda yang lembut.


"Kimaura." Begitu dia memperkenalkan dirinya.


"Derisa,Buk. Biasanya aku dipanggil Risa." Ku sambut uluran tangannya. Ahh..tangan yang halus sekali.


"Jam kerja kita, mulai pukul delapan sampai lima sore. Minggu dan hari besar kita libur. Gaji awal kamu, gaji training dulu ya. Itu hanya sementara. Aku akan meninjau kemajuanmu. Paham Risa?" Jelasnya panjang lebar.


"Iya, Bu."


"Sudah punya tempat tinggal?"


"Sudah Bu. Tidak jauh kok dari sini."


"Diawal-awal mungkin kamu agak kerepotan. Karena kamu akan bekerja disemua bagian. Mulai dari mengukur, memotong kain dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya besok akan dijelaskan oleh staf saya."


Aku hanya mengangguk. Akhirnya aku pun pamit untuk pulang.


Sesampainya di kost yang dicarikan oleh Luna, aku pun mandi. Aku memilih merebahkan tubuhku dikasur.Lelah dan penat.


Oh iya! Aku lupa mengabari keluargaku. Aku pun bertelepon singkat, mengabari kalau aku sudah tiba.


Ku cek pesan Whatsapp. Tidak ada pesan masuk. Aku agak kecewa.


Aku ini kenapa? Kenapa aku mulai memikirkan Gama?


Tidak!Tidak!tidak! Fokus Risa!!!!


*****


Tiga hari sudah kulewati. Semua berjalan dengan mulus. Tubuhku begitu lelah. Aku ingin segera sampai di kost an dan beristirahat.


Beruntungnya besok hari merah. Jadi aku bisa sedikit bersantai. Saat menunggu angkutan umum, tiba tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat didepanku. Pintu mobil terbuka...


"Hai... ayo masuk."


"Gama!!" Pekik ku tidak percaya.

__ADS_1


"Ayo masuk. Aku antar pulang."


Aku celingak-celinguk. Berharap ada Tuta disana. Tidak ada! pikirku.


Aku pulang sendiri aja." Ucapku gugup.


"Ayolah...Buruan!!."


Melihat orang-orang mulai memperhatikan, kuputuskan untuk naik.


"Gimana kerjanya?" Ucap Gama memecah keheningan.


"Ba..baik." Suaraku mulai bergetar. Ku remas jariku yang mulai berkeringat. Jantungku berdetak tidak karuan.


"Kamu sakit?" Gama memegang dahiku. Dengan cepat kutepis tangannya. Tanganku bergerak reflek.


"Maaf." Ucapku kemudian.


"Aku yang seharusnya minta maaf."


Kulihat wajah Gama terheran-heran melihat tingkahku. Aku juga ingin bersikap biasa. Tapi otak dan tubuhku tidak bisa diajak bekerja sama.


"Lho..ini kan bukan jalan ke kost ku, Gam?"


"Ki...kita mau kemana?" Tambahku lagi.


"Rahasia." Dia tersenyum lembut. Tapi entah kenapa yang kulihat adalah seringai mengerikan.


Berkali-kali kuingatkan diri ku, kalau itu Gamaliel. Tapi otakku sudah tidak bisa berpikir jernih.


Akupun mulai menangis. Aku mulai menggumam tidak jelas.


"Turunkan Aku, kumohon...." Suaraku bergetar. Air mataku mulai menetes. Wajahku memucat.


"Hei...Risa...Kamu kenapa?" Gama juga mulai terlihat panik. Dia pun menelpon seseorang. Lalu mencari tempat untuk berhenti.


Tak lama kulihat seseorang datang menggunakan motor sport. Aku semakin takut. Bergerak pun aku sudah tidak mampu. Dadaku sesak, nafasku tidak beraturan.


"Tuta."Pekikku. Aku pun berlari menghampiri dan memeluknya.


"Kau apakan Dia?!" Tanya Tuta dengan nada marah.


"Aku tidak melakukan apapun! Aku hanya menjemputnya."


Aku sudah mulai sedikit tenang. Kulepaskan pelukanku.


"Aku yang salah. Kalian jangan bertengkar."


Mereka menatapku heran. Kami pun mencari tempat untuk duduk sejenak. Sebuah cafe yang tidak begitu ramai.


"Sebenarnya aku punya kenangan pahit yang tidak pernah ku ungkapkan kepada orang lain." Aku menunduk.


"Kalau berat, tidak usah cerita Ris." Ucap Gama begitu lembut. Ah...laki-laki ini begitu baik. Tapi aku sudah membuatnya bingung.


Ku gelengkan kepalaku.


"Aku harus cerita." Ucapku lirih.


BEBERAPA TAHUN LALU


Waktu itu, aku masih duduk di bangku SMA. Tepatnya kelas satu semester kedua. Kami mendapat tugas kelompok Bahasa Indonesia. Tugas wawancara.


Satu kelompok terdiri dari 5 Orang. Dan kelompok kami terdapat dua siswa perempuan. Aku dan Dara. Sementara 3 Siswa laki-laki nya terdiri dari Dana, Santo dan Radit. Radit merupakan anak kepala sekolah kami. Mereka bertiga termasuk murid bermasalah. Karena ketiganya berasal dari keluarga kaya.


Dara dan Santo sedang menjalin hubungan kala itu. Aku yang jarang bergaul, menjadi agak kikuk berada diantara mereka.


Kami memutuskan mengangkat tema tentang pasar tradisional. Wawancara itu harus direkam. Jadi aku merasa agak beruntung mendapat teman yang berduit. Mereka bisa mensuport segala akomodasi dan camera


Sabtu siang adalah waktu yang kami pilih. Dengan menggunakan mobil Bapaknya Radit kami pun berangkat. Jam 4 sore kami sudah selesai.

__ADS_1


"Nongkrong dulu yok." Ajak Dana.


"Aku harus pulang. Nanti kehabisan angkot." Jawabku.


"Nanti kita antar. Ayolah Ris..Ini malam minggu." Pinta Dara.


Aku pun mengalah. Segera ku kabari orang tuaku. Kalau aku pulangnya agak telat.


Kami pun membeli makanan dan minuman sebagai persediaan. Lebih tepatnya aku ditraktirlah. Karena aku tidak punya uang.


Kami berhenti disebuah bukit. Disana terdapat cafe yang berjejer. Malam minggu begini memang pengunjung ramai dengan muda mudi. Mobil diparkir agak ditempat sepi.


"Kok disini? Disana kan ramai." Tanyaku dengan polosnya.


" Terlalu berisik." Kata Radit.


"Kita mau pacaran dulu ya guys." Ucap Santo. kemudian merangkul Dara dan turun dari mobil. Mereka pergi entah kemana. Sementara Dana pamit mau beli rokok.


Tinggallah aku dengan Radit hanya berdua dimobil. Dia memintaku duduk disebelahnya bangku supir.


Awalnya semua biasa saja. Tak lama kemudian Radit mulai bertindak kurang ajar. Dia mengunci pintu mobil.


"Gak usah jual mahal." Ucapnya kala itu.


Aku pun meronta ronta, menangis dan memohon. Tapi radit semakin menjadi jadi. Dia mulai menciumiku. Dengan sekuat tenaga ku kawan dia. Kucakar!ku tendang dan kupukul....Tidak membuahkan hasil.


Radit semakin menjadi. Dia mulai mengunci tubuhku dengan menimpa tubuhku. Aku pun mulai berteriak sekuat tenaga.


Dia menyumpal mulutku dan mengoyak bajuku. Aku semakin kalut. Pergulatan sengit pun terjadi. Dengan berbagi cara ku coba menggapai klakson mobil.


Tiiinn...! Tiinn! Tiinn...!


Kubunyikan klakson sekeras dan sebanyak mungkin. Berharap pertolongan segera datang.


Berhasil!!


Orang-orang mulai berdatangan dan membuka paksa pintu mobil. Radit yang mulai ketakutan menghentikan perbuatannya.


Aku selamat! Tidak henti-hentinya ku panjatkan Doa mengucap syukur kepada Tuhan.


flashback of


"Aku sangat ingin menghapusnya dari ingatanku. Tapi tidak bisa." Ucapku berusaha menahan tangis.


"Yang paling parah, orang tua Radit memutarbalikkan fakta. Mereka bilang akulah yang merayu anaknya. Aku ingin memeras mereka.aaaa Tidak ada satupun teman-teman yang membelaku. Mereka semua bungkam. Uang yang berkuasa saat itu." Mataku mulai berkaca-kaca.


"Semua orang mulai menggosipkan ku. Di sekolah dan di kampung. Ada yang bilang aku sudah sering tidur dengan laki-laki, aku *******, Orang tuaku menjualku dan lain sebagainya." Jelasku panjang lebar.


"Akhirnya aku memutuskan belajar bela diri. Agar bisa melindungi diriku sendiri."


"Makanya kau ada galak-galaknya gitu ya." Ucap Tuta sambil manggut mangut.


Tiba-tiba Gama menggenggap erat tanganku. Dia menatap ku dengan lembut. Tatapan matanya seperti mengatakan semua akan baik-baik saja. Lama kami saling bertatapan.


"Woi...disini orang ya! Bukan gelas!"


Aku dan Gama tersentak kaget.


"Berisik!" pungkas Gama.


Tuta pun tertawa. Aku hanya tersenyum malu.


"Pulang yuk. Aku malas jadi penjaga nyamuk disini." Rengek Tuta.


Kami pun beranjak pergi.


Sesuatu yang hangat menjalar dihatiku. Rasa nyaman mulai muncul.


Berharap...Bolehkah aku berharap?

__ADS_1


Pantaskah aku sedikit berharap?


__ADS_2