DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
TERKUBUR DALAM MASALALU


__ADS_3

"biarlah rasa ini juga menemaniku mas, aku bahagia melihat senyummu. meski hatiku tak mampu menyentuh hatimu. aku mencintaimu mas meski hatimu masih tertinggal di masalalu mu." batin dewi dengan air mata yang mulai mengalir di sudut pipinya.


"yang sabar nduk. tinggal menunggu waktu saja. kalau memang jodoh pasti datang sendiri." lirih bu desi sambil mengusap pundak dewi. "jangan menangis ih nanti ayu mu (cantikmu) hilang."


"tidak bu. saya seneng kok bisa mengagumi mas rifky. itu sudah membuat saya bahagia. melihatnya setiap hari sudah cukup bu." sahut dewi dengan senyum yang seolah di paksa nya.


ketika malam mulai larut, dikala bulan tengah tersenyum. nampak rifky berjalan menghirup udara malam. di sela jari kirinya terselip sebatang rokok yang sudah menyala. sesekali berhenti memandang tengah laut yang di penuhi cahaya dari lampu lampu kapal nelayan dan sesekali juga berjongkok kemudian jalan lagi.


"mas ikut." teriak dewi dari kejauhan yang berlari kearah rifky.


ah gadis itu kini jauh lebih baik. tubuhnya yang kini bersih, pakaiannya yang rapi, dan nampak lebih terawat. beda dengan waktu pertama dulu bertemu rifky di pantai pandansari.


nampak rifky berhenti dan menunggu dewi. kemudian kembali berjalan ketika dewi sudah berada di sebelahnya.


"belum tidur dik?" tanya rifky membuka percakapan.


"belum mas, gerah banget malam ini. mas sendiri juga kok belum tidur?"


"jam segini mana ada aku tidur dik. belum lengkap kalau belu menikmati suasana malam di tempat ini." jawab rifky sambil berhenti dan duduk di atas hamparan pasir.


"pantesan mas betah main jam segini. lah indah banget gini" ucap dewi yang tengah menatap pemandangan malah di tengah laut sana.


mereka nampak diam belum ada yang mengeluarkan perkataan. mata mereka tengah di sibukkan dengan apa yang mereka lihat. sampai beberapa saat kemudian.


"kehidupan itu indah. indah kalau kita bisa menikmatinya. sepahit apapun jalan kita, kalau kita menikmatinya pasti akan terasa indah." lirih rifky yang di balas anggukan oleh dewi.

__ADS_1


"apa yang kita perbuat pasti akan mengunduhnya. baik yang kita tanam hasilnya pun akan baik. buruk yang kita tanam pun juga akan buruk yang kita dapatkan. kita menjalani hidup ini tergantung dengan apa yang kita perbuat. memang semua sudah ada jalan masing masing dan sudah tertulis semenjak kita lahir. semua sudah ada yang mengatur, kita tinggal menjalani dan berusaha bagaimana kita berbuat baik meskipun itu hanya setetes keringat. itu kenapa sampai detik ini aku tetap merasa bahagia. ya karena akau menikmatinya. karena juga bahagia itu luas artinya tidak hanya apa yang kita dapat tapi juga apa yang kita perbuat." ucap rifky sembari menatap hamparan lepas air laut yang ada di depannya. sementara dewi pun sama. dia mendengarkan apa yang di ucapkan rifky sambil menatap lautan di depannya.


"impianku hanyalah bisa membuat orang bahagia dengan apa yang aku lakukan." lanjut rifky sambil tersenyum.


"terus mas sendiri?" potong dewi sambil mantap rifky.


"entahlah dik, aku hanya merasa bahagia ketika aku bisa melakukannya." jawab rifky yang menoleh kearah dewi.


remang remang tatapan itu bertemu dan cukup lama beradu dalam malam yang di terangi sinar rembulan. dalam diri dewi muncul getaran hebat akibat tatapan mata itu. teduh, tenang dan nyaman membuat hati bergejolak hebat.


"kenapa menatapku seperti itu mas, tatapan mu membuat hatiku bergejolak." lirih dewi sambil menunduk.


"kenapa hatimu memilihku?" pertanyaan itu semakin membuat dewi seolah tersengat aliran listrik. pertanyaan yang sejak tadi rifky simpan.


"aku tidak tahu mas." lirih dewi yang nampak malu karena perasaannya mampu di baca rifky. tanpa dia tau kalau semua itu karena bu desi yang menceritakannya ke rifky.


"aku hanya mengikuti hati mas, dan aku pun merasa tidak pantas untukmu." lirih dewi lagi.


"aku yang tidak pantas, tidak pantas berada dalam hatimu yang saat ini teracuni karena aku."


"apa karena masalalu mu mas?"


"hatiku ini tak menentu, masalalu telah mengubur hatiku."


"tidak mengapa mas, membiarkanmu ada di hatiku sudahlah terasa tenang,"

__ADS_1


"maaf dik. kalau saat ini aku belum bisa. aku masih belum sanggup membuat kecewa."


"tidak apa apa mas. jangan paksakan hatimu. aku akan menunggu itu." lirih dewi sambil tersenyum menatap langit yang berhamburan bintang.


"apa kau tidak kecewa kalau semuanya hanya akan menyiksamu nantinya."


"itulah cinta mas, dia siap buat apapun konsekuensinya. buat aku kamu orang pertama yang tinggal di hatiku."


deg!!!!! rifky kaget, dia tak percaya orang yang berada di sampingnya itu baru pertama mengisi hati dan itu namanya. namun sejenak kemudian rifky mencoba menguasai dirinya.


"maafkan aku membuatmu kagum dengan aku yang tak jelas ini." ucap rifky sambil menatap lekat raut wajah dewi.


"aku tidak apa apa mas, aku sudah bilang. membiarkan hati ini mengagumimu saja aku sudah bahagia." balas dewi dengan senyum tanpa bebannya. "seperti kamu yang melihat mereka bahagia kamu juga bahagia."


"aku tak memaksamu dik. aku memang mengagumimu namun aku belum bisa untuk saat ini."


"biarkanlah semua berjalan mas," lirih dewi sambil tersenyum kemudian berdiri. dan rifky pun ikut berdiri. dan reflek rifky memeluk dewi.


"maafkan aku bila aku melukaimu." lirih rifky. sementara dewi hanya diam merasakan hangat pelukan itu. pelukan hangat dari orang yang ia cintai.


setelah rifky melepaskan pelukan itu, ia berjalan di iringi dewi kembali ke mes.


"tidurlah. besok kita harus kerja bukan?" ucap rifky dengan senyumnya.


"iya mas, terimakasih untuk malam ini. aku akan terus menunggu dimana hari tentang aku di hatimu." ucap dewi sambil berlalu masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


tinggallah kini rifky sendiri yang berjalan menuju kamarnya. hal yang tak pernah ia pikirkan itu akhirnya mengusik pikiran. di tatapnya foto manis gadis yang telah mengubur hatinya.


"maafkan aku dewi. aku belum bisa. hati ini telah terkubur yang entah kapan akan bangkit. maaf kalau kau mencintai orang yang masih tertinggal dalam masalalu seperti aku." lirih rifky sambil merebahkan tubuhnya. perlahan pun mata itu menutup menyisakan pintu dimensi yang membawanya dalam alam mimpi.


__ADS_2