
Hari telah berganti, detik waktu yang terus berjalan itu telah membawa hingga waktu berganti dari malam berganti pagi.
Saat pagi menyambut dunia, nampak sepasang orang tua berjalan melewati lorong lorong rumah sakit. Wajah mereka nampak sumringah. Langkah yang santai di temani percakapan ringan.
"Alhamdulillah pak akhirnya keponakan kita itu mendapatkan jodoh. Tuhan memang maha adil ya pak." Ucap bu wati yang bukan lain adalah bibi Dewi.
"Iya bu, semua terasa seperti kejutan. Jujur bapak kasihan pada anak itu. Lupa akan dirinya terus hilang begitu saja dan sekarang datang bersama jodohnya. Memang semua tak terduga bune." Sahut pak Agus sambil terus berjalan.
"Iya pak, dan alhamdulillahnya calon nya juga mapan dan sepertinya penyabar dan sangat perduli. Mudah mudahan setelah ini kehidupan keponakan kita itu lebih mapan. Dia layak bahagia pak." Ucap bu Wati sambil menggandeng tangan pak Agus.
tok tok tok!!!!!!!!!
"Assalamualaikum nduk" Ucap bu Wati sambil membuka pintu.
"Waalaikumussalam bu lek." Ucap Dewi yang sudah nampak lebih baik.
"Wah kamu sudah baikan nduk. Alhamdulillah nduk bulek seneng lihat kamu yang sekarang." Ucap bu Wati sambil berhambur memeluk Dewi.
"Alhamdulillah hari ini sudah boleh pulang bu." Ucap Rifky sambil berjalan dari kursi menghampiri mereka semua. kemudian menjabat tangan bu Wati dan pak Agus. "Itulah kenapa tadi pagi saya minta bapak dan ibu kemari." Lanjut Rifky
"Alhamdulillah." Ucap bu Wati dan pak Agus hampir bersamaan.
"Dewi kangen bu lek dan pak lek. dan Dewi juga pengen lihat rumah." Lirih Dewi dengan tingkah manjanya.
Seketika bu Wati langsung kembali memeluk Dewi. Ingatannya terbang ke beberapa tahun yang lalu.
Selama mengarungi bahtera rumah tangga, bu Wati dan pak Agus belum juga di karuniai seorang anak. semua itu karena bu Wati tidak bisa mengandung. Namun, meski seperti itu nampaknya mereka tetap bahagia dan bisa saling menerima. Sampai saat kelahiran Dewi, mereka nampaknya senang. Karena walau bukan dari rahim bu Wati namun, karena waktu itu baik keluarga bu Wati maupun orang tua Dewi masihlah satu rumah. Jadi merekapun turut merawat Dewi kecil. Bisa di bilang sedari kecil Dewi di asuh oleh mereka berdua juga.
"Bulek kenapa?" Dewi membuka keheningan dan lamunan bu Wati.
"Semenjak kelahiran mu, kamu sudah seperti anak bu lek sendiri nduk." Jawab bu Wati kembali memeluk Dewi.
"Dewi sayang bu lek. Bulek sudah seperti ibu Dewi sendiri. Boleh kan kalau Dewi manggil bulek jadi ibu?"
Bu Wati mengangguk, "Iya nduk boleh. Anggap aku dan pak lek mu sebagai orang tua mu."
Rifky dan pak Agus yang duduk di kursi menatap semua itu penuh haru.
tok tok tok !!!
Dari balik pintu muncul Cahyo bersama Nani.
__ADS_1
"Boy, semua sudah beres." Ucap Cahyo setelah menjabat tangan.
"Oke sekarang saatnya pulang. Nan bantu beres beresin barangnya ya." Ucap Rifky yang langsung di iyakan oleh Nani.
Saat semua beres, merekapun secara beriringan meninggalkan ruang kamar rawat VIP itu. Saat melewati lorong rumah sakit, mereka berpapasan dengan pak Narto.
"Sudah baikan kamu nduk?" Sapa pak Narto.
"Alhamdulillah pak sampun (sudah)." Jawab Dewi sambil tersenyum. "Bagaimana kondisi kak Ningsih pak?"
"Masih sama nduk belum ada perkembangan"
"Dewi besok jenguk Kakak, Dewi juga kangen kakak." Lirih Dewi.
"Kamu istirahat dulu nduk, besok baru datang kalau mau melihat kakak mu." Ucap pak Narto sabil mengusap rambut Dewi.
"Njih pak, Dewi pulang dulu pak." Pamit Dewi sambil mencium punggung tangan pak Narto.
Mereka pun berpisah. Dewi dan rombongan berjalan menyusuri lorong untuk menuju tempat mobil Rifky berada. Sedang pak Narto, kembali ke ruang dimana Ningsih tergolek tak berdaya.
*****
Waktu pun cepat berlalu, kini nampak Rifky yang duduk seorang diri di dalam mobilnya setelah mengantar Dewi pulang ke rumahnya. Di tangannya ponsel hanya di putar putar. Sementara pikirannya melayang tak tentu tujuannya.
"Hallo boy, kamu siapin semuanya buat lamaran besok ya. Kalau ada waktu kamu ke rumahku sekarang." Ucap rifky yang ternyata menelpon Cahyo.
Yang di telpon hanya bilang ya dan tak butuh waktu lama, Cahyo sudah datang bersama Nani.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Cahyo.
"Ayolah naik." Ucap Rifky
Kemudian mereka berangkat mencari semua keperluan dan apa saja yang di butuhkan. Setelah semua terbeli, tak lupa Rifky menelpon Dewi untuk memberitahukan tentang kedatangannya besok bersama orang tuanya. Bukan lain adalah untuk melamarnya dan Rifky meminta agar keluarga Dewi tidak perlu menyiapkan apapun, karena dia sudah menyiapkan semuanya.
*****
di tempat Dewi.
"Siapa yang telpon nduk?" Tanya bu Wati
"Mas Rifky bu." Jawab Dewi singkat kemudian, "Besok mas Rifky mau datang bersama orang tuanya." Lanjut Dewi yang membuat bu Wati tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Wah kita harus menyiapkan segala sesuatunya ini." Ucap bu Wati.
"Mas Rifky bilang semua sudah di siapkan. Ibu tinggal menerima saja. Besok pagi katanya semua keperluan sudah datang." Jelas Dewi sesuai yang di bilang Rifky.
"Beruntungnya kamu nduk dapat jodoh yang seperti itu." Nampak sumringah muka bu Wati. Kemudian, " Nanti biar ibu bilang ke bapak soal ini. Biar nanti bapak yang minta tolong ke pak Rt dan kerabat dekat sini untuk menyambut kedatangan mereka."
"Njih bu. terimakasih bu sudah mau menjadi ibu buat Dewi." Ucap Dewi kemudian langsung memeluk bu Wati.
"Iya nduk, dari kamu ibu bisa merasakan rasanya menjadi ibu ketika anaknya mau di pinang orang."
Mereka terhanyut dalam suasana bahagia. Rintikan air mata bahagia sama sama mengalir membasahi pipi mereka.
*****
Pagi hari di tempat Rifky.
Nampak beberapa tetangga dekat dan sesepuh desa sudah bersiap untuk mengantar dan menemani Rifky ke rumah Dewi untuk lamaran. Setelah semua kumpul, mereka pun berangkat.
Dan tak butuh waktu lama, merekapun telah sampai di rumah Dewi.
Nampak di depan rumah itu, beberapa orang yang sudah siap menyambut rombongan Rifky. Dan di depan pintu rumah nampak pak Agus dan bu Wati dengan senyum ramahnya.
Setelah semua masuk, acara pun di mulai dengan sambutan tuan rumah, kemudian dilanjut dengan acara sambutan wakil dari keluarga Rifky yang menyampaikan maksud dan tujuan dan yang terakhir adalah sambutan dari wakil keluarga Dewi yang menyampaikan di terima atau tidaknya lamaran tersebut. Di acara inilah baru Dewi keluar.
"Untuk di terima atau tidaknya lamaran ini, baiknya yang bersangkutan sendiri yang menjawab. monggo genduk Dewi lamaran dari nak Rifky di terima apa tidak?"
Yang di tanya hanya menunduk malu.
"Wah kalau diam dan menunduk seperti ini berarti di terima." Ucap orang yang tadi menanyakan perihal di terima atau tidaknya lamaran tersebut di sertai tawa dan senyum semua yang hadir.
"Alhamdulillah, acara pagi ini menemui hasil kalau lamaran diterima." Ucap syukur alhamdulillah pun terucap dari semua hadirin.
"Apakah dari kedua pihak sudah menentukan kapan dilangsungkannya akad nikah?" Ucap seorang wakil dari keluarga Dewi yang ternyata bapak Rt.
"Menurut perhitungan dari keluarga kami, pernikahan ini paling cepat seminggu setelah hari ini atau 3 bulan lagi di hari yang sama seperti hari ini. Bagaimana menurut keluarga genduk Dewi?" Jawab wakil keluarga Rifky.
"Saya ikut saja bagaimana menurut mas Rifky." Ucap Dewi setelah mendapat lirikan dari wakil keluarganya.
"MInggu depan saja pak." secepat kilat Rifky memberi keputusan yang membuat semua orang yang hadir bersorak tawa.
"Alhamdulillah semua sudah menemui keputusan pada hari ini. Semoga semua berjalan lancar sesuai yang di harapkan ke dua belah pihak." Ucap pembawa acara yang menutup acara pagi itu.
__ADS_1
Setelah acara selesai keluarga Rifky pun berpamitan. sebelum pulang Rifky dan Dewi sempat di nasehati untuk memulai waktu pingitan yang artinya kedua calon tidak boleh bertemu sampai hari akad nikah di laksanakan.