DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
LEBIH BAIK MENAHAN MALU


__ADS_3

03:00 pagi itu, setelah semalam memanjat pohon kelapa. Nampak lengan Rifky kemerah-merahan. Rasa perih dan pegal tak luput membuatnya sedikit kesulitan berjalan.


"Semua demi kamu sayang dan anak kita."Lirih Rifky sambil mengecup kening istrinya yang masih terlelap.


Saat Rifky hendak bangun dan menuju kamar mandi, tangan halus menahannya. Ya itu jelas tangan Dewi.


"Mas mau kemana?" Lirih Dewi yang belum sepenuhnya membuka mata.


"Mas mau ke kamar mandi sayang. Kenapa?" Tanya Rifky sambil berbalik memandangi Dewi.


"Emmmmm" Gumam Dewi sambil menggigit bibirnya.


"Udah mau subuh loh sayang." Ucap Rifky yang tau maksud Dewi.


"Emmmm mas ihhhh." Dewi kembali merengek yang membuat Rifky mau tak mau harus mengiyakan kemauan Dewi.


"Awww."Lirih Rifky menahan sakit saat mencoba kembali rebahkan badannya.


"Loh mas kenapa?"


"Tidak apa-apa sayang."


"Maaf ya mas, gara-gara semalam mas jadi begini."


Pikir Rifky kemauan Dewi tadi di urungkan tapi ternyata tidak. Dewi malah berbalik dan mencium bibir Rifky. Dan kemudian setelah selesai,


"Terimakasih ya mas sudah nengokin debay nya." Lirih Dewi sambil mencium pipi Rifky dan kemudian kembali terlelap.


Sementara Rifky hanya tertegun dengan sikap Dewi yang semakin aneh-aneh dan kadang membuatnya kewalahan. Kemudian, Rifky bangkit dan menuju Kamar mandi untuk mandi. Ya walaupun sedikit menahan perih karena luka di lengan. Tapi Rifky harus mandi setelah olah raga pagi barusan.


Selesai mandi, Rifky pun sholat subuh.


.Selesai sholat subuh nampak Rifky kembali dan mulai membuka beberapa berkas di laptop nya. Banyak laporan yang harus dia baca. Semua menumpuk di karenakan beberapa hari ini Rifky di sibukkan dengan ulah Dewi yang terbawa oleh jabang bayi yang ada di perut nya.


"Mas." Lirih Dewi memanggil Rifky.


"Iya sayang, kamu sudah bangun. Mandi gih terus sholat subuh."


"Dewi pengen sarapan dengan nasi dan sayur sup. Tapi Dewi pengen mas yang masakin."


"Iya mas masakin. Tapi buruan bangun terus mandi dan sholat subuh."


"Hu'um." Guma Dewi kemudian berjalan ke kamar mandi. Sementara itu, Rifky ke dapur Untuk menuruti kemauan Dewi.


Tidak lama kemudian, nampak Dewi yang sudah selesai sholat subuh berjalan menghampiri Rifky yang tengah memasak di dapur. Dewi tersenyum dan kemudian memeluk tubuh Rifky dari belakang.


"Sayang, malu loh kalau di lihat orang."


"Ih, kan tidak ada siapa siapa mas." Rengek Dewi manja.


"Iya sayang. Tapi nanti kalau ada yang lihat bagaimana?"


"Iya mas. hehehehe uda masak belum? Dewi sudah lapar."


"Sudah ini sebentar lagi sayang. Kamu tunggu di meja makan ya biar mas siapin."


"Iya mas." Sahut Dewi sambil mencium pipi Rifky kemudian berjalan menuju tempat makan.

__ADS_1


"Ada-ada saja kamu dik." Lirih Rifky sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah itu Dewi pun makan. Nampak kali ini Dewi makan dengan lahapnya. Rifky sampai dibuat bengong melihat porsi makan Dewi yang bisa di bilang banyak. Bahkan seperti orang yang tidak makan 3 hari.


"Dewi lapar mas, nambah lagi." Ucap Dewi membuyarkan lamunan Rifky.


"Ha. Nambah lagi? Sayang sudah makan 2 piring loh. Nggak salah itu?" Ucap Rifky yang semakin kaget degan porsi makan Dewi.


"Dewi masih lapar." Rengek Dewi yang membuat Rifky hanya bisa mengambilkan lagi nasi dan menaruhnya di piring Dewi.


"Makasih papanya dede." Senyum Dewi sambil kembali melahap makanannya.


Tak berapa lama kemudian, makanan pun sudah hampir habis. Dan kembali Dewi minta untuk nambah.


"Ya ampun sayang, nanti lagi ya. Sayang sudah makan banyak sekali loh." Tegur Rifky sambil mendekati Dewi.


"Tapi mas, Dewi masih laper." Kembali Dewi merengek.


"Iya nanti makan lagi ya. sayang sudah makan banyak loh. Nanti perutnya sakit." Ucap Rifky mencoba memberi pengertian.


"Mas jahat ih." Rengek Dewi yang langsung bangkit dan berjalan menuju kamar. Meninggalkan Rifky yang masih bingung.


"Kenapa itu Dewi Ky?" Tegur Bu Desi yang menghampiri Rifky.


"Ngambek bu." Jawab Rifky sambil duduk lemas.


"Ngambek kenapa Ky?"


"Ini bu, kan Dewi sudah makan banyak banget sampai nambah 4 kali. Terus Rifky tegur malah ngambek." Jelas Rifky yang di sambut dengan tawa kecil Bu Desi.


"Lah ibu malah ketawa."


"Tau tuh bu. Pikir Rifky kan nanti makan lagi Biar nggak sakit perut. Eh malah ngambek."


"Ibu hamil terkadang aneh Ky. Yang sabar. Sekarang hampiri gih minta maaf." Saran Bu Dewi.


"Baiklah bu ngalah demi jabang bayi hehehe."


Kemudian Rifky meninggalkan Bu Desi dan menuju kamarnya. Sesampai di kamar, di lihatnya Dewi tengah sesenggukan nangis seperti anak kecil. Rifky pun mendekat mencoba membujuk Dewi lagi.


"Udah dong nangisnya sayang. Mas minta maaf bukan maksud mas melarang. Tapi mas khawatir kalau kamu sakit nantinya. Uda ya nangisnya, mas janji apapun yang kamu minta pasti mas turutin."


"Beneran ya." Lirih Dewi sambil menghapus air matanya.


"Iya bener. janji." Sahut Rifky sambil mengacungkan 2 jari ke atas.


"Adik pengen ke pasar." Lirih Dewi.


"Sekarang?"


"Iya sekarang mas."


"Ya sudah ayo berangkat." Ucap Rifky, kemudian, "Wah ada-ada saja ini kemauannya. Hum kalau nggak karena debay jujur males banget ke pasar." Batin Rifky sambil berjalan mengikuti Dewi.


"Mau kemana nduk kok sumringah banget." Tanya Bu Desi.


"Ke pasar Bu. Ibu mau ikut?"

__ADS_1


"Ke Pasar?" Kembali Bu Desi bertanya sambil melirik ke arah Rifky yang nampak cemberut.


"Iya Bu. Dewi pengen belanja."


" Ya sudah hati-hati ya Nduk."


"Iya Bu kan ada mas Rifky. iya kan mas?"


"Iya sayang mas akan temani kemanapun kamu pergi." Ucap Rifky gelagapan.


"Ya sudah berangkat sana."


"Iya bu assalamualaikum." Pamit Dewi sambil menjabat tangan Bu Desi dan mencium punggung tangannya.


"Waalaikumussalam." Jawab Bu Desi sambil berbisik," Sabar Ky. Ibu hamil." Sambil tersenyum.


Dewi dan Rifky pun berangkat ke pasar. Meninggalkan Bu Desi yang masih tersenyum-senyum sendiri.


"Kenapa Bune? dan itu mau kemana Rifky sama Dewi?" Tanya Pak Rudi.


"Lihat kelakuan Dewi sepertinya bakal ada trauma yang sembuh pak"


"Kok bisa?"


"Bapak tau mereka mau kemana? Mereka mau ke pasar. hehehe,"


"Wah seru itu hehehe." Pak Rudi pun ikut tertawa menyadari selam ini Rifky paling malas kalau di minta ke pasar. Yang malu lah yang inilah yang itu lah selalu jadi alasan Rifky. Tapi ketika Dewi yang mengajak , Semua harus terturuti.


Kembali ke Rifky dan Dewi yang sudah mulai belanja di pasar. Nampak Rifky mulai kepayahan dengan barang bawaan yang di beli Dewi. Mukanya sudah memerah menahan malu. Keringat sudah mulai membasahi seluruh bajunya.


"Ini sudah banyak loh sayang. Masih mau beli apalagi?" Tanya Rifky.


"Belum mas, satu lagi ya." Pinta Dewi.


"Lah dari tadi satu mulu sayang." Protes Rifky.


"Ihhh, katanya tadi mau nurutin.aaaah." Senjata andalan pun keluar membuat Rifky tak berdaya.


"Iya iya ayo mau beli apalagi. Sudah ih jangan begitu, malu di lihat banyak orang." Ucap Rifky yang mulai melihat banyak orang menatap ke arahnya.


Setelah banyak barang yang di beli, Nampak Dewi mulai memegang perutnya. Sambil tersenyum dia berkata, " Dewi lapar mas."


"Ya sudah mas taruh dulu ini semua di mobil dan habis itu kita cari makan."


"Iya mas, Dewi tunggu di warung bakso itu ya. Dewi pengen bakso." Ucap Dewi sambil menunjuk ke arah salah satu warung bakso. sementara Rifky hanya mengangguk dan berjalan menuju mobil.


Seusai menaruh barang, Rifky menghampiri Dewi yang sudah memesan 2 mangkuk bakso jumbo. Akhirnya merekapun makan bakso bersama. Ya walaupun Rifky juga harus ikut makan tanpa sambal. Bisa di bayangkan kan. hehehehe.


"Bu satu mangku lagi ya." Kembali Dewi memesan satu mangkuk bakso yang sama.


"Untuk siapa dik?" Rifky bertanya karena heran.


"Aku masih lapar mas."


"Iya iya sayang." Balas Rifky sambil menepuk jidatnya dan pasrah dari pada istrinya itu ngambek lagi. Sementara Dewi tersenyum penuh kemenangan seakan bakalan terkabul semua yang dia ingin hari itu.


Dan benar saja, kembali Dewi nambah satu dan satu lagi sampai menjadi 4 mangkuk. Rifky hanya bisa mengiyakan tanpa protes atau Dewi bakal ngambek lagi.

__ADS_1


Lebih baik menahan malu dari pada melihat istri merajuk. Mungkin itu istilah yang tepat saat menemani ibu hamil


"Ya ampun dik banyak banget porsi makan mu hari ini? mas mblenger(heran tak percaya ungkapan dalam istilah jawa) lihat porsi makan mu hari ini." Batin Rifky yang hanya bisa menggelengkan kepala.


__ADS_2