DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
KEPERGIAN NINGSIH


__ADS_3

Setelah melihat Dewi dan Rifky pulang, Nampak Ningsih menitikan air mata. Entah air mata bahagia ataupun air mata duka.


"Semoga kau bahagia senja ku. Maafkan aku yang dulu telah menggores luka dan maafkan keluargaku yang tak pernah bisa menerimamu dulu." Lirih ningsih yang kemudian kembali merebahkan tubuhnya untuk istirahat dari rasa lelahnya.


Sementara itu, nampak Rifky dan Dewi berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ke tempat parkir dimana mobilnya terparkir.


"Mas, adik lega melihat kak Ningsih yang sudah sadar tadi. Jujur kalau harus di madu adik ihklas mas." Ucap Dewi di tengah perjalanan.


"Hush.. ngomong apa kamu dik. Mas nggak mau kamu ngomong seperti itu lagi. Pernikahan itu sakral bukan permainan. Menikah cukup sekali dik." Ucap Rifky yang tersentak dengan ucapan Dewi.


"Iya mas maaf. Kan adik cuma melihat masalalu mas dengan kak Ningsih." Ucap Dewi sambil ngglendot ke tubuh Rifky.


"Kan mas sudah bilang. Memilihmu sebagai pendamping mas itu bukan semata pelarian. Mas datang kesini karena kamu. Bukan karena masalalu." Jelas Rifky lagi yang membuat Dewi tersenyum bahagia.


"Terimakasih mas." Sahut Dewi nampak seperti di terbangkan ke langit. "Mas kita makan dulu yuk. Mas mau makan apa?"


"Mas sih maunya makan masakan mu dik. Masakan istri itu lebih enak dari masakan restoran." Jawab Rifky sambil menatap Dewi dengan senyum.


"Ayok buruan pulang."


Merekapun langsung pulang.


*****


Roda roda kehidupan membawa waktu cepat berlalu. Berganti detik menjadi menit dan mengganti menit menjadi jam, kemudian dengan mudah mengganti siang menjadi malam.


Malam itu, nampak Dewi tengah menemani Rifky yang sedang mempelajari beberapa proposal perusahaan yang ingin mengajaknya bekerjasama.


"Alhamdulillah ya mas banyak banget pengusaha yang mengajak bekerjasama." Ucap Dewi sambil menyandar di bahu Rifky.


"Iya dik alhamdulillah. Tapi meski banyak kita juga harus mempelajari sistim kerjanya dulu. Biar kita tidak salah mengambil keputusan." Terang Rifky sambil terus membaca dan mempelajari proposal yang ia baca.


Tiba tiba ponsel Rifky berdering. Terlihat di sana nama pak Rudi. Sambil melirik ke Dewi, Rifky mengisyaratkan untuk mengangkatnya. Dewi pun mengangkat telpon itu sambil berjalan menuju ranjang nya. Terlihat Dewi tersenyum senyum saat mengobrol dengan pak Rudi via telpon.

__ADS_1


Sementara itu, Rifky hanya tersenyum melihat istrinya yang sedang digoda oleh pak Rudi. Karena dia tau apa yang sedang mereka bicarakan. "Dasar bapak bapak ." Lirih Rifky yang kembali sibuk dengan laptopnya.


Malam semakin larut, hawa dingin mulai menusuk nusuk ke setiap sendi. Aroma dewi mimpi mulai menggoda membuat Dewi menguap berulang kali. Melihat itu, akhirnya Rifky mematikan laptopnya dan berjalan menghampiri Dewi yang sudah duduk di ranjang.


"Mas sudah selesai ya?" Tanya Dewi.


"Belum dik. Tapi esok kan masih ada hari. Mas lanjut besok saja. Lagipun melihatmu menahan kantuk begitu mana tega mas. Ayo tidur sayang." Jawab Rifky sambil merebahkan badannya untuk di jadikan tempat berlindung Dewi kala tidur. Dewi pun langsung merebahkan badan dan meletakkan kepalanya di lengan Rifky.


"Kamu ingin bulan madu di mana sayang?" Tanya Rifky sembari mengusap dan membelai rambut Dewi.


"Di manapun aku mau mas." Sahut Dewi sambil menatap wajah Rifky.


"Mas sudah pesankan tiket buat kita dan cahyo juga pak Rudi. Mas mengajak kalian semua ke pulau. Kamu mau kan?"


"Iya mas. Mas tau banget impian Dewi." Jawab Dewi nampak bahagia.


"Ini, mas tau dari sini." Ucap Rifky sambil menunjukkan buku catatan kecil yang ia keluarkan dari sakunya.


"Ihhhh, ni namanya curang." Ucap Dewi sambil meraih buku catatannya. Wajahnya seketika seperti kepiting rebus.


*****


Saat pagi datang, nampak langit hari itu mendung. Tak ada kicau burung, tak ada senyum sang mentari, yang ada hanya kesunyian. Membuat setiap insan malas untuk bangun dan lebih memilih untuk sembunyi dalam pelukan dewi berbulu.


Pagi itu, nampak Rifky kembali tidur setelah sholat subuh berjamaah bersama Dewi. Sementara Dewi memilih ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Rifky.


pukul 07:00 kala Dewi tengah menyiapkan dan menaruh hasil masakannya di meja makan. Di dengarnya ponsel suami yang meronta-ronta tanpa ada yang menolong.


"Mas ponselnya berdering sayang." Lirih Dewi membangunkan Rifky.


"Angkat aja sayang bilang kalau mas sedang istirahat." Ucap Rifky yang nampak masih malas-malasan.


Kemudian Dewi pun mengangkat telpon. Baru menjawab salam, nampak Dewi gusar dan air mata tak kuasa lagi untuk di bendung.

__ADS_1


"Innalillahi wa innalillahi raji'un." Pekik Dewi yang membuat Rifky bangun.


"Siapa yang meninggal dik?" Tanya Rifky ikut panik.


"Kak,, kak Ningsih mas hu hu hu." Isak Dewi sambil memeluk Rifky.


"Innalillahi wa innalillahi raji'un." Lirih Rifky dengan mimik tak percaya.


"Ayo mas kita ke rumah sakit sekarang." Pinta Dewi.


"Iya dik mas dulu. Kamu ganti baju sayang." sahut Rifky yang sudah berjalan menuju kamar mandi.


Seusai mandi, Rifky lekas ganti baju. Pikirannya teringat kata kata terakhir Ningsih yang memintanya untuk menjemput, "Apa ini yang kamu maksud dik?" Ucap Rifky dalam hati.


"Ayo mas buruan ih." Ucapan Dewi membuat Rifky buru-buru memakai baju. Dan setelah siap mereka berdua buru buru keluar menuju mobil.


"Mau kemana nduk kok terburu-buru?" Tegur bu Wati.


"Ke rumah sakit bu." Jawab Dewi sambil mencium punggung tangan bu Wati.


"Siapa sakit nduk?"


"Kak Ningsih meninggal bu." Ucap Dewi singkat kemudian buru buru keluar."Dewi jalan dulu bu assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." jawab bu Wati sambil mengucap kalimat istirja.


Waktu melesat cepat menembus detik dan memaksa menit. Seolah manusia berpindah tempat hanya dengan pintu doraemon, sekali buka sudah sampai.


Kini nampak dengan langkah terburu, Dewi tengah menyusuri lorong rumah sakit di ikuti oleh Rifky. Air matanya tak henti menetes seolah hendak membuat garis di lantai rumah sakit. Berulang kali Rifky mencoba menenangkan, namun sepertinya sia sia. Dan tangis itu pun semakin menjadi kala mereka sampai di depan jenazah Ningsih di kamar jenazah.


"Kak, kenapa harus pergi secepat ini. Kakak bangun." Isak Dewi yang sudah tak terbendung lagi. Melihat hal itu Rifky hanya bisa menarik Dewi dan memeluknya.


"Tenangkan hatimu dik. Semua ini sudah kehendak yang maha kuasa. Semua mahkluk kan mengalaminya. sabar ihklas dan berdoalah. Hapus air matamu untuk menerangkan jalannya." Hibur Rifky mencoba menenangkan istrinya. Walaupun sebenarnya pedih rasa hatinya. Hancur hatinya berkeping keping. Namun, ia coba lebih kuat dan lebih ihklas.

__ADS_1


"Doaku selalu memohon kebahagiaanmu. Harapanku agar kamu selalu bahagia. Namun kenapa kamu memilih jalan bahagia abadi mu dik. Maaf bila aku banyak salah. Semoga kamu dimudahkan jalannya." Batin Rifky yang hatinya mulai menangis.


Setelah kedatangan Rifky, Jenazah Ningsih pun di bawa pulang menggunakan ambulance. Sementara Rifky dan Dewi mengikuti dari belakang.


__ADS_2