DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
RAGA TANPA JIWA


__ADS_3

sayup sayup malam yang mengharu. rintik air hujan yang turun dalam siklus kemarau. seolah menjadi simbol pertanda dunia salah musim. dan nyanyian serangga malam memilukan pendengaran seolah menyiksa gendang telinga yang ingin istirahat dari hingar bingar dunia.


sentuhan sentuhan hangat yang tak lagi di inginkan. rayuan rayuan romantis yang tak ingin di dengarkan. dan deru nafas yang memberat hanya menyisakan tangis yang semakin kering tanpa air mata. menjalani kewajiban tanpa rasa tanpa hasrat dan tanpa jiwa. pasrah pada hidup yang tak pernah di inginkan.


"hal yang selama ini aku jaga harus ku serahkan pada orang yang tak pernah ku cinta." ucapan itu selalu keluar mengakhiri kewajibannya sebagai seorang istri seraya melihat sang suami yang sudah terlelap tidur setelah melepas hasratnya.


menangis tanpa suara tanpa air mata seolah menjadi teman malam.


"bahkan rahim ini yang selalu ku jaga harus terisi oleh benih dari orang yang tak ku cinta. Tuhan, maafkan aku yang tak bersyukur akan takdirMu dan kehendakMu." ucapnya dalam batin menemani dewi malam yang telah menjemputnya menuju alam bawah sadarnya.


pernikahan itu rupanya tak pernah membuatnya bahagia. kasih sayang dan semua perhatian itu tak pernah bisa memenangkan hatinya. ningsih, meski rahim telah terisi benih. separuh jiwa telah terisi dalam dirinya, dan kehidupan yang serba berkecukupan itu menyelimuti harinya. namun tak pernah bisa menyentuh hatinya. hatinya masih utuh untuk orang yang kini tak lagi mengenalnya.


itu sangat menyakitkan. harus kehilangan orang yang di sayang, harus menikah dengan orang yang tak di cinta dan harus tetap bersandiwara menjaga keutuhan rumah tangga serta harus tetap menjalankan kewajiban sebagai seorang istri berbakti dan melayani suami. menjadi tekanan tersendiri untuknya.


seolah seperti boneka. hidup bernyawa namun tak bisa mengendalikan dirinya. bertindak sesuai dengan kemauan empunya. sedikitpun tak bisa mengelak atau semua akan menjadi aib buat keluarga. pilihan yang kembali harus membuatnya pasrah dengan keadaan.


memang hidup berkecukupan. apa apa serba tersedia. bahkan semua orang menghormatinya. memujinya bahkan menyanjungnya karena dirinya istri orang yang sangat sangat di hargai dan berjasa buat orang orang di sekitarnya. namun, sekali lagi tak pernah bisa membuatnya bahagia. semua karena suaminya hanya baik di mata orang namun tidak di rumah tangganya.


kesuksesan dan segalanya adalah alat. ya alat yang selalu di salah gunakan. mungkin tak banyak orang tau. karena kebaikannya menutupi keburukannya. walaupun kenyataan sangat sangat buruk. semua hanya ningsih yang tau, karena dia yang menjadi pendampingnya.

__ADS_1


mungkin inilah yang membuat hati ningsih tak mampu di luluhkannya. hal yang tak pernah di inginkan seorang wanita, hanya menjadi pemuas hasrat. habis setelah itu semua hanya simbolik bukan cinta yang sesungguhnya. dan bisa seenak hati memuaskannya juga kepada wanita lain ketika halangan datang pada dirinya.


ya..... itulah kenyataan bila seseorang hanya memikirkan kekuasaannya sebagai alat. baik di pandang mata namun buruk di belakang punggung. semua itu tentunya semakin membuat ningsih hanya bisa menangis meratapi nasib dan membiarkan raganya menjadi boneka berkedok istri.


******


pagi harinya, ketika burung bernyanyi di atas dahan yang masih basah, ketika angin mulai menyejukkan raga, ketika ayam ayam meronta ronta meminta jatah sarapannya, ketika asap asap kuda besi menderu memacu pistonnya, ketika mentari tersenyum menyapa dunia dan ketika hari baru menyambut mengganti hari lama. nampak ningsih tergeletak di dalam kamar mandinya. darah segar mengalir menyusuri pahanya dan mengalir mengikuti lobang kecil di sudut kamar mandi.


tak ada yang mengetahuinya sampai saat dimas bangun dari tidurnya dan hendak membersihkan badannya dari sisa hasratnya subuh tadi, di jumpainya ningsih yang sudah tak sadarkan diri itu.


"dik bangun dik, dik" ucapnya yang mulai panik. namun tak ada respon apapun dari ningsih. secepatnya dimas membawa ningsih ke klinik. namun semua terlambat.


awal yang menjadi sebuah bencana keluarga ningsih. pasalnya meski sehat setelah itu, namun vonis membuatnya menjadi wanita yang tak bisa berbuat apa apa karena rahimnya tidak bisa untuk bersemayam benih lagi.


kesedihan yang seolah beruntun dan tak ada ujungnya. tekanan yang semakin menggerogoti jiwa. tanpa penguat dan tanpa suport dari siapapun. membuatnya mengingat masalalu yang semakin menyiksanya.


"kak, mungkin benar katamu. aku sudah mati semenjak kau pergi." lirih ningsih dalam ruang kesehatan yang malah membuatnya semakin terpuruk.


belum habis kepedihan itu menjamah hidupnya. kini seolah cambuk siap menghujani raganya. dimas yang di harapkan akan tetap mendampinginya ternyata hanyalah mimpi pahit yang akan di dapatkan. ya mimpi pahit bagi perempuan sebagai seorang istri yang akan di ceraikan atau bahkan harus menerima surat perceraian.

__ADS_1


"maaf dik, aku melakukan ini karena aku dan keluargaku butuh keturunan. dan kamu tidak bisa mewujudkan itu." ucap dimas dengan surat cerai yang sudah berada di tangannya dan meminta ningsih untuk menandatanganinya.


"semua biaya sudah aku bayar." lanjut dimas seraya pergi membiarkan ningsih yang hanya bisa menangis meratapi semua yang telah terjadi.


jiwa yang sudah lama menahan luka, raga yang sudah lama di tikam derita kini seolah tak mampu lagi menyangga. ningsih tak sadarkan diri di temani luka yang menggerogoti hidupnya. kesehatannya drop. jiwanya drop dan harapannya telah sirna.


segala upaya telah di lakukan, namun semua berujung buntu dan tak berarti apa apa. ningsih tertidur seperti hidup tak bernyawa. jiwanya terbang dalam padang rumput luas tak berujung dan raganya tertinggal dalam dunia nyata yang seolah sudah tak di inginkannya lagi.


"pak bagaimana ini?" isak bu narti sambil mengusap kening anaknya yang tergolek tak berdaya itu.


"semua sudah menjadi jalan cerita. kita hanya bisa berdoa." lirih pak narto sambil menyeka air matanya sendiri.


"kenapa ini yang harus terjadi kepada anak kita pak?" ucap bu narti lagi bersama isak tangisnya.


"ibu sendiri yang memilihkan jalannya. kenapa ibu bertanya ke bapak" ucap pak narto sambil berjalan meninggalkan bu narti yang tengah menangisi keadaan ningsih putrinya. bukan kecewa, namun ia seolah semakin tak kuat bila harus melihat itu semua.


"maafin ibu nduk yang tak pernah mengerti perasaanmu. bangun nduk ibu janji akan menuruti semua kemauan mu" isak bu narti semakin menjadi. namun ningsih masih tergolek tanpa respon apapun selain hembusan nafas teraturnya.


sementara itu, nampak pak narto yang berada di taman rumah sakit hanya menangis melihat putri kesayangannya tergolek tak berdaya.

__ADS_1


"apa yang harus bapak lakukan nduk untuk bisa membuatmu bangun." lirihnya yang terlihat menyayat hati.


__ADS_2