DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
INI AKU...LIHATLAH!


__ADS_3

Hari-hari kami mulai berjalan normal, lebih tepatnya berusaha untuk normal. Semua penghuni rumah beraktifitas seperti biasa. Semua ingin terlihat baik-baik saja. Semua orang selalu berusaha memasang senyum diwajah. Terutama didepan Ibu. Senyum palsu.


"Mak. Aku berangkat." Satu persatu meraih tangan Ibu sambil pamit. Senyum tulus terukir diwajahnya.


"Hari ini aku agak lama pulangnya ya Mak. Pesanan lagi banyak."


"Iya. Tapi jangan lupa makan ya."


"Iih...Aku kan bukan anak kecil lagi yang harus diingatkan untuk makan." Sungutku.


"Mamak tahu kau sudah dewasa, tapi kalau sudah kerja kau seperti robot." Ucapnya sambil menarik lembut hidungku. Aku hanya bisa tersenyum kecut. Perkataannya memang benar.


Aku pun berangkat setelah berpamitan. Kunikmati setiap pemandangan yang disuguhkan alam dipagi ini. Langkah demi langkah kuhentakkan dengan penuh keyakinan. Tidak lupa doa mengiringi disana yang kuucapkan dalam hati. Hari yang cerah, matahari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur.


Segerombolan Ibu-ibu sedang berbelanja sayur. Ah! Malas rasanya bertemu mereka. Mulut mereka sering julid. Kupercepat langkah ku agar terhindar dari mereka. Namun....


"Eh...Risa. Mau kemana buru-buru?" Tanya seorang ibu.


"Kerja Bu." Sahutku. Tak lupa kulemparkan senyum palsu ke mereka.


"Nggak kuliah? katanya dulu kamu kuliah. Udah berhenti ya?" Ibu yang lain menimpali.


"Ibumu sih...pake kuliahin anak segala. Udah tahu hidup susah." Ucap Ibu yang pertama.


"Cita-cita anak sarjana, jadinya tukang jahit." Sahut ibu yang lain. Disambut tawa yang lain.


Aku begitu kesal. Tanganku mengepal dan wajahku memerah menahan marah. Ingin rasanya kujambak dan kutendang satu-persatu Ibu-ibu itu. Tapi aku masih punya akal sehat yang memberi peringatan kalau bertindak kasar kepada orang tua itu tidak baik . Kutarik nafasku dalam-dalam dan kuhembuskan dengan kasar. Aku pun mengganti ekspresiku dengan senyum manis.


"Maaf ya Ibu-ibu. Semiskin-miskinnya keluarga saya, tidak pernah tuh ngutang sayuran. Abang tukang sayur juga butuh modal kali Buk. Beli perhiasan bisa, Masa sayuran malah ngutang?!Permisi." Ucapku dengan penuh kemenangan. Aku pun pergi. Wajah mereka terlihat kesal.


Mereka pikir aku bisa diintimidasi?! Salah besar! mungkin mereka pikir aku akan bersikap seperti anak baik di sinetron yang sering mereka tonton. Hah! Hidup aja didunia sinetron.


Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat didekatku. Aku mengerutkan keningku. Siapa gerangan? Wajahku berubah sumringah kala melihat pria tampan turun dari sana. Aku sedikit terkejut dan bahagia tentunya.


"Gama?!" Pekikku.


"Selamat pagi sayang. Masuklah." Dia membukakkan pintu untukku. Dari sudut mataku kulihat bibir yang tersungging mencibir. Pastinya para ibu itu akan bergunjing antah berantah.


"Kamu kapan datang?"


"Aku berangkat pagi. Sekitar jam 6 an lah." Ucapnya dengan menggenggam tanganku sementara sebelah tangannya menyetir.

__ADS_1


"Kok mata kamu agak bengkak?"


"Masa sih? Mungkin karena tidurku agak larut semalam." Ucapku gusar. Kugosok wajahku dengan sebelah tanganku.


"Jangan bohong. Bengkaknya seperti habis nangis semalaman."


"Bukan. Ini karena tidurku cuma beberapa jam saja." Kupasang senyum yang paling manis diwajahku. Aku tidak ingin Gama mengetahui masalah yang menimpaku. Tidak untuk sekarang.


"Sarapan dulu yuk."


"Sarapan dikios aja ya, aku lagi banyak kerjaan."


Dia hanya membalas ucapanku dengan anggukan pelan dan senyum lembut nan menawan. Kami singgah sebentar untuk membeli sarapan dan beberapa minuman.


Sesampainya dikios, aku langsung cekatan membuka pintu dan mengantung kain kain. Kios ini hanya berukuran 4x4, jadi aku harus menata sedemikian rupa agar bisa memajang hasil karyaku plus kain-kain bahan jahitan. Gama terlihat sibuk membantu mengangkat manekin.


"Makasih ya." Ucapku sesaat setelah selesai berkutat dengan acara susun menyusun.


Sejenak kami pun berhenti dan mulai menyantap makanan yang sudah kami beli. Hatiku begitu berbunga-bunga. Sebuah harapan mulai muncul disana. Harapan kelak aku bisa bersanding dengan pria tampan ini.


"Yang..." Ucapku disela-sela sarapan kami.


"Aku tidak tampil nyentrik lho yang. Masa cuma pake kaos sama jeans dibilang tampil mencolok? Kalau aku datang pake kebaya, itu baru namanya mencolok."


"Iiih....aku serius...kamu malah ngelawak." Aku tidak bisa menahan untuk tidak tertawa mendengar ucapannnya itu.


"Maksudku mobil kamu itu lho yang...terlalu mewah. Aku malas jadi bahan omongan tetangga."


"Biasanya kamu cuek tuh sama omongan orang."


"Aku bisa tahan, tapi tidak dengan mamak." Aku menundukkan kepala sambil mengaduk aduk sarapanku.


"Baiklah. Jangan manyun dong. Lain kali aku akan datang pake sepeda motornya Tuta aja.Mobil akan aku titip ditempatnya." Dia mengusap lembut kepalaku.


"Makasih yang." Aku pun beranjak dari dudukku dan mulai bekerja.


"Sebenarnya aku mau kasih kabar baik untuk kamu."


Aku menghentikan sejenak pekerjaanku dan memberi perhatian terhadap ucapannya.


"Akhir pekan ini, aku mau ajak kamu kepesta pembukaan cabang perusahaanku dikota ini. Aku bakal menetap disini."

__ADS_1


Dahiku berkerut. Aku sama sekali tidak paham ucapannya.


"Jadi aku akan buat cabang disini. Dan mengelola semua usahaku dari sini. Biar bisa dekat sama kamu. Gimana? Kamu suka?"


Aku hanya melongo. Aku tidak mengerti jalan pikiran pria tampan ini.


"Tau Ah! Aku pusing. Terserah kamu saja." Aku pun kembali melanjutkan pekerjaanku.


"Memangnya kamu sudah dapat gedungnya?" Tanyaku lagi kemudian.


"Sudah. Di komplek perumahan Bukit Asri."


Aku hanya manggut-manggut. Dalam hati hanya bisa berdecak kagum. Itukan komplek elite. Orang kaya mah bebas.


"Bagaimana kalau kamu buka usaha disana juga. Pasti seru."


"Jangan gila kamu. Mana punya modal aku nyewa tempat disana."


"Aku belikan untuk kamu."


"Sayang. Pelangganku itu kebanyakan Ibu-ibu dengan ekonomi menengah kebawah. Kalau buka disana, aku tidak akan punya pelanggan. Lagipula aku tidak mau bergantung sama orang lain."


"Termasuk aku? Pacar tampanmu ini?!"


"Aku hanya ingin sukses melalui keringatku sendiri. Biarkan aku menikmati setiap prosesnya." Aku berhenti sejenak lalu mengambil setumpuk selebaran bertuliskan "Dee Taylor" yang kuletakkan disudut ruangan.


"Daripada kamu mengusikku terus menerus, lebih baik kamu bagikan selebaran ini. Agar usahaku ini semakin dikenal orang. Paham Lovely?"


"Kalau aku beli kios yang lebih besar untuk kamu? Gimana? Menurutku ini terlalu sempit yang...biar kamu kerjanya lebih maksimal."


"Tuan Gama....lebih baik bagikan saja selebaran ini ya...sekali tidak tetap tidak." kusodorkan setumpuk selebaran itu kepadanya.


"Oke sayang. Itu sangat mudah. Cepatlah selesaikan pekerjaanmu. Agar kita bisa menghabiskan waktu lebih lama." Ucapnya sambil mengedipkan matanya. Dia pun berlalu.


Bukan tanpa alasan aku menyuruhnya seperti itu. Aku hanya ingin dia mengenalku dan seluruh kehidupanku. Aku ingin dia bisa melihat kehidupan yang kujalani itu seperti apa. Butuh perjuangan yang berat.


Aku juga ingin dia tahu, hidup bukan selalu tentang uang. Ada nilai-nilai kemanusiaan yang tidak bisa diganti dengan uang.


Aku berharap dengan membagikan selebaran itu, Dia bisa bertemu dengan berbagai macam orang dari kalangan seperti ku.


"Hidup yang kujalani tidaklah mudah Gama. Lihatlah dan nilailah...kenalilah Aku dan seluruh hidupku. Sebelum kita jatuh cinta semakin dalam." Ucapku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2