DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
RENCANA MENGHIBUR DIRI


__ADS_3

Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman Ningsih. Nampak burung burung bernyanyi sendu, pohon pohon merintih sedih, dan langit pun murung mengantar kepergian Ningsih.


Begitu juga dengan keluarga Ningsih, terlebih bu Narti yang sangat terpukul akan kepergian Ningsih. Dia tak henti menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa dirinya juga ikut andil dalam luka yang menyebabkan anaknya meninggal. Meskipun pak Narto berulang kali menyadarkan bahwa, semua sudah menjadi kehendak yang maha kuasa, tetap saja bu Narti menyalahkan dirinya.


"Maafkan ibu nduk, maafkan ibu yang tak pernah mau mengerti kamu." Isak bu Narti sambil memeluk batu nisan.


"Sudah bu, ibu jangan seperti ini. Biarkan dik Ningsih tenang di sana. Kalau ibu seperti ini, Ningsih akan tambah sedih. Biarkan Ningsih tenang di sana bu. Ayo pulang bu." Ucap Rifky sambil mengangkat lengan bu narti dan merangkulnya. Saat sudah berdiri, bu Narti roboh dan pingsan.


Beberapa warga membantu mengangkat bu Narti yang pingsan. sementara Rifky, Dia menemani Dewi yang tengah berdoa. Seusai berdoa Rifky dan Dewi pun pamit untuk pulang. Namun sebelum pulang, Pak Narto memberikan buku kecil. Buku itu di berikan sebelum Ningsih meninggal.


Setelah menerima buku itu, Rifky menggandeng Dewi menuju mobilnya untuk pulang.


Dalam perjalanan pulang, berulangkali Rifky menengok kearah Dewi yang nampak masih terisak. Mukanya pucat, dan raganya nampak lemas.


"Sudah dik, Ihklaskan dik. Semua sudah menjadi jalannya." Ucap Rifky membelah keheningan.


"Baru kemarin Dewi melihat senyum nya mas. Dan hari ini dia sudah pergi meninggalkan kita semua." LIrih Dewi sambil menyandarkan kepalanya di pundak Rifky yang masih mengemudi.


"Sudahlah dik, hidup mati kita tidak pernah tau. Kita doakan saja untuk kebaikannya."


"Iya mas." Sahut Dewi sambil bersandar.


"Adik belum makan kan? Mau makan di rumah apa beli?" Tanya Rifky mengalihkan pembicaraan.


"Kalau mas bagaimana? Adik ikut saja." Balas Dewi.


"Kalau mas mah di rumah saja, lebih enak masakan istri hehehe." Sahut Rifky sambil memeluk pinggang Dewi.


"Ya sudah berarti di rumah saja mas."


Merekapun akhirnya sampai di rumah. Setelah selesai mengganti pakaian merekapun makan bersama kemudian sholat dhuhur berjamaah. Seusai sholat nampak Rifky kembali membuka laptopnya. Di bukanya beberapa file yang dikirim oleh bawahannya. Nampak Rifky tersenyum sembari memanjatkan syukur.


Sementara Dewi yang nampak lelah, rebahan di samping Rifky sembari memeluk kaki Rifky. Di tatapnya wajah sang suami. Kemudian, tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa sayang menatapku seperti itu?" Tanya Rifky sambil mengusap rambut Dewi yang tak tertutup kerudung itu.


"Aku melihat sosok sandaran yang begitu kuat. Rasa tenang, nyaman dan damai ini selalu muncul ketika di samping mas. Aku beruntung bisa menjadi wanita yang mendampingi hidupmu. Dulu, Saat kak Ningsih menceritakan mu seolah untuk bersamamu atau di dekatmu saja seperti mimpi mas dan kini aku beneran mendampingi mu." Ucap Dewi menceritakan tentang hatinya. Rifky tersenyum.


"Semua sudah menjadi jalan yang sudah di atur-Nya." Sahut Rifky yang masih membelai rambut Dewi.


"Kalau teringat itu semua rasanya tak percaya mas."


"Ya begitulah kehidupan dik. Kita hanya menjalani. Selayaknya wayang yang di jalankan oleh dalangnya. Kita tinggal mengikuti alurnya, menikmati setiap adegan, dan jalani saja. Setiap manusia pasti pernah merasakan namanya sedih, duka dan pahitnya hidup. Setiap manusia juga akan merasakan namanya bahagia, gembira dan damai. Nikmati saja setiap alurnya. Nikmati meski pahit adalah cara termudah kita untuk selalu bersyukur."


"Benar mas, Allah sudah menyiapkan sesuatu yang baik buat kita. Termasuk aku bisa mendampingimu itu adalah hal terindah yang aku miliki." Dewi semakin mempererat pelukan di kaki Rifky.


"Dan aku bersyukur juga bisa menjadi imam mu dik. Wanita yang bisa mengerti posisiku. Apapun yang kamu tidak suka dari aku katakanlah biar tidak ada yang terpendam. Kamu adalah aku dan aku adalah kamu. Kurang mu adalah kurang ku. Begitu juga kurang ku juga adalah kurang mu dik."


"Iya mas. Tegur aku bila aku ada salah mas. Apapun itu, karena aku ingin tetap menjadi makmum mu."


"Ia sayang." Rifky menaruh laptopnya dan mengecup kening Dewi. Kemudian, mengambil ponselnya.


"Cahyo dan pak Rudi" Jawab Rifky sembari menyentuh panggilan grup video call.


Beberapa saat kemudian,


"Wah di pameri kemesraan pengantin baru ini kita pak." Sambar cahyo ketika panggilan terhubung dan di lihatnya Dewi yang tengah bersandar di bahu Rifky.


"Wah Pak Rudi juga nggak mau kalah." Nampak bu Desi yang bersandar juga di bahu pak Rudi." Dik sini, mas gerah di pameri kemesraan begini." Lanjut Cahyo yang tak lama Nani pun turut ikut dalam posisi yang sama seperti Dewi dan bu Desi. Rifky dan pak Rudi tersenyum.


"Nggak kreatif jadi orang." Ucap Rifky.


"Biarin, dari pada aku jadi obat nyamuk mendingan ikutan kan." Sambar cahyo.


"Ini telpon mau pamer kemesraan ya?" Tanya bu Desi sambil tersenyum melihat tingkah anak anak angkatnya.


"Gini bu, pak. Rencana Rifky dan Dewi mau liburan ke pulau. Nah rencana kami, kami mau ajak kalian semua." Jelas Rifky.

__ADS_1


"Wah tabung hijau dong." potong cahyo.


"Gas!!!" Sahut mereka bersamaan dan kemudian tertawa bersama.


"Kapan itu ky?" tanya pak Rudi.


"Besok pak. semua sudah Rifky siapin dan tinggal berangkat." Jawab Rifky yang di balas dengan acungan jempol oleh Cahyo dan pak Rudi.


"Enaknya punya bos yang sedang bahagia. wkwkwk." Celoteh Cahyo yang di sambut tawa pak Rudi dan bu Desi.


"Kamu memangnya sudah melawat boy?" Sepintas Rifky ingat akan kepergian Ningsih.


"Kemana boy?" tanya cahyo dengan heran.


"Ningsih meninggal. Kami tadi yang menjemput jenazahnya dan mengantarnya ke pemakaman."


"Innalillahi wa innalillahi raji'un. Aku bru tau boy sumpah. Nantilah aku melawat ke sana."


"Siapa itu ky?" Tanya pak Rudi bingung.


"Mantan mas Rifky pak." Jawab Dewi lirih sambil melirik ke arah Rifky.


"Yo wes( ya sudah) aku nanti sama ibu bareng melawat nya ma Cahyo. Bener nggak bu?" Ucap pa Rudi yang di balas anggukan oleh bu Desi.


"Siap pak nanti Cahyo tunggu di rumah ya?"


"Ya sudah bapak ma ibu siap-siap dulu mumpung masih siang."


Panggilan pun berakhir.


"Mas, mbk Putri nggak di ajak?" Tanya Dewi yang ingat akan kakak iparnya.


"Suami mbk sibuk dik jadi mbk nggak ikut." Jawab Rifky yang di balas anggukan Dewi. Kemudian, Dewi beranjak untuk mempersiapkan apa saja yang di bawa besok. Sementara Rifky, dia kembali membuka laptopnya dan melanjutkan kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2