
Waktu kembali cepat melaju. Menyelusuri lorong lorong kehidupan. Membawa setiap mahkluk untuk terus bergerak menjalankan cerita hidupnya masing masing.
Pagi itu, kala mentari baru bangun dari tidurnya, kala nelayan mulai menyandarkan kapal kapalnya, kala orang orang berjalan menyelusuri bisingnya kota, kala anak anak sekolah menunggu bus pengantarnya tiba, dan kala hiruk pikuk jalanan mulai ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.
Nampak sebuah kantor di pinggir pantai. Dengan ting tiang kokoh yang menyangga atap. Dengan beberapa bak dan selang yang tertata rapi, itulah kantor Rifky. Kantor sekaligus tempat kerja yang menjadi awal mula kesuksesan Rifky.
Nampak di sana Rifky yang sedang tertegun. Memandangi tempat kerjanya. Tempat kerja yang sudah sebulan ini di tinggalnya.
"Pagi pak, Selamat menempuh hidup baru." Sapa jupri dan beberapa karyawan yang sudah berbaris menyambut kedatangan bosnya.
"Pagi juga temen temen terimakasih untuk sambutannya. Berasa seperti presiden saja saya hehehe." Canda Rifky menyambut sambutan karyawannya.
Nampak Dewi, Nani, bu Desi dan pak Rudi jalan menghampiri kemudian di ikuti Cahyo yang ikut menyusul setelah mengunci mobil dan menurunkan semua barang.
"Pak ini ada sedikit kenang kenangan dai kami semua untuk pernikahan bapak. Semoga bapak dan bu Dewi menjadi keluarga sakinah mawadah dan warahmah serta segera di beri momongan." Ucap jupri sambil menyerahkan kado ke Rifky.
"Wah terimakasih temen temen." Ucap Rifky nampak bahagia di sambut, di beri kado dan di doakan oleh karyawan karyawannya.
"Terimakasih doanya temen temen semua." Dewi tak kalah bahagia.
Kemudian satu persatu mereka menyalami dan memberi ucapan ke Rifky dan Dewi. Setelah itu kembali mereka bekerja. Sementara Rifky masih tertegun melihat semua karyawannya dan di sampingnya Dewi memeluk pinggangnya sambil tersenyum.
"Mereka sudah seperti keluargaku dik." Guma Rifky sambil menggandeng Dewi masuk di ikuti Cahyo, Nani, bu Desi dan pak Rudi.
*****
Hari kini kembali melaju. Sudah 2 bulan berlalu cepat membawa Rifky kembali bersama karyawan karyawannya dan juga sudah 3 bulan Rifky dan Dewi membangun rumah tangga mereka.
__ADS_1
Hari hari berlalu dengan kebahagiaan yang berlipat ganda. Semua pekerjaan berjalan lancar, semua usaha maju dengan pesat dan hubungan rumah tangga Rifky harmonis tanpa penghalang.
Pagi itu, Nampak Dewi yang baru bangun langsung lari ke kamar mandi. Terdengar suara muntah muntah yang membuat Rifky bangun dan menghampiri. Belum sampai Rifky membuka pintu kamar mandi, nampak dengan langkah terhoyong Dewi berjalan keluar. Namun, belum sempat Rifky bertanya sudah terlebih dahulu dikagetkan dengan tubuh Dewi yang linglung dan ambruk dalam dekapannya.
"Dik, dik kau kenapa sayang. Di.." Panggil Rifky yang mulai panik melihat Dewi pingsan.
"Ada apa Ky?" Tanya bu Desi yang ikutan bingung.
"masuk bu nggak di kunci." Ucap Rifky. Kemudian setelah bu Desi masuk," Dewi bu, Tadi muntah muntah pas Rifky hampiri dia langsung pingsan."
"Ya sudah ayo buruan bawa ke rumah sakit le." Ucap bu Desi.
"Iya bu." Ucap Rifky yang sudah menggendong Dewi kemudian berjalan menuju tempat parkiran mobil di ikuti bu Desi.
"Itu kenapa Dewi bu?" Tanya pak Rudi yang melihat bu Desi berlari mengikuti Rifky yanng menggendong Dewi yang tengah pingsan.
Karena panik, Rifky mengemudikan dan membawa mobilnya membelah jalan dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Hingga membuat mereka cepat sampai di rumah sakit.
Kini nampak Rifky yang mondar mandir menunggu sang istri yang tengah di periksa oleh dokter.
"Duduklah Ky, istrimu pasti baik baik saja." tegur bu desi yang melihat kegelisahan Rifky.
Tak beberapa lama kemudian, nampak dokter itu memanggil Rifky untuk masuk. Rifky pun masuk di temani bu Desi dan pak Rudi.
"Bapak apakah suami dari ibu Dewi?" Tanya dokter itu.
"Iya benar dok saya suaminya." Jawab Rifky.
__ADS_1
"Selamat ya pak, ibu Dewi tengah hamil." Ucap dokter itu membuat Rifky kaget.
"Apa dok istri saya hamil?" Rifky kembali bertanya.
"Iya pak benar. Istri bapak hamil. Mual di awal kehamilan bisa terjadi karena meningkatnya sejumlah hormon secara drastis pada tubuh ibu Dewi. Ketika sel telur yang sudah dibuahi menempel pada dinding rahim, tubuh akan memproduksi hormon human chorionic gonadotrophin (HCG). Sehingga hal inilah yang diduga menyebabkan mual. Dan pada kondisi tertentu ini bisa membuat seorang ibu pingsan karena lemas. tapi bapak tidak usah khawatir, hal ini wajar dan biasa terjadi pada ibu di usia kehamilan muda. Cukup banyak istirahat, atur pola makan yang bernutrisi dan jangan stress." jawab dokter itu yang langsung di sambut syukur oleh bu Desi dan pak Rudi. Sementara Rifky nampak langsung sujud syukur dan kemudian,
"Sekali lagi selamat ya pak atas kehamilan istrinya. Nanti setelah sadar bisa langsung pulang. Untuk administrasi dan resep obatnya bisa di ambil di depan. saya permisi dulu." Ucap dokter itu kemudian meninggalkan ruangan.
"Terimakasih dok." ucap Rifky yang di balas senyuman.
Tak berapa lama kemudian, "Mas aku dimana?" Tanya Dewi yang sudah sadar.
"Kamu di rumah sakit sayang." Jawab Rifky sembari mengusap rambut Dewi.
"Aku kenapa mas? rasanya mual pusing dan lemas." Tanya Dewi tyang masih nampak lemas.
"Kamu hamil sayang. kita akan segera memiliki seorang anak." Jawab Rifky dengan senyum bahagianya.
"Alhamdulillah terima kasih ya Allah." Lirih Dewi," Terimakasih mas."
"Mas yang harus terimakasih sayang. Kamu bentar lagi akan memberikan keturunan buat mas dan menjadikan mas seorang bapak. Terimakasih sayang." Sahut Rifky kembali mencium kening Dewi.
"Kamu harus banyak istirahat ya nduk, jangan capek capek." Ucap bu Desi yang juga duduk di sebelah Dewi. Dewi menjawabnya dengan anggukan.
Setelah menyelesaikan administrasi dan menebus resep, serta Dewi sudah nampak segar merekapun kembali ke Rumah yang berada dalam lingkungan hatchery tempak kerja Rifky.
Hari hari pun kini nampak semakin bahagia dengan akan hadirnya sang buah hati. Perhatian Rifky pun juga meningkat. Dewi tak pernah lagi lepas dari pandangannya. Begitu juga dengan orang orang di sekitar mereka, Semua ikut merasakan kebahagiaan yang Rifky rasakan. Mereka semua turut memperhatikan Dewi. seolah tidak ingin istri bos nya itu luput dari pengawasan tau lebih beratnya sampai celaka.
__ADS_1
Dan yang lebih memperhatikan adalah bu Desi. Dia beneran menjaga anak angkatnya itu. Baginya yang belum pernah memiliki seorang anak itu seolah mendapat ganti dari cucu yang nantinya akan lahir dari rahim anak angkatnya. Pola makan dan semua kegiatan Dewi selalu iya pantau. Hal hal yang berbahaya selalu ia larang membuat Dewi merasa sangat di perhatikan.