
Pernahkah kau diabaikan? Penjelasanmu hanya dianggap sebuah alasan yang tidak berarti.
Kau tau bagaimana rasanya? Sakit! Sakit!
Rasa sakitnya menusuk diulu hati.
Berkali-kali kucoba menghubungi menghubungi Gama. Tapi tetap tak ada jawaban.
Ku kirim pesan...
Kamu dimana? Aku mau ngomong.
Tetap tak ada balasan.
Kuputuskan untuk pergi ke Pom bensinnya Tuta. Dia pasti disana. Aku yakin dan sangat yakin.
"Dia nggak ada kesini." Tuta menjelaskan begitu aku tiba disana.
"Masa?! Bohong!" Aku sangat tidak percaya.
"Tidak ada untungnya buatku. Memang ada masalah apa?"
"Nanti aku cerita. Pliss hubungi dulu dia.." Rengekku.
"Yeee...jadian aja diem-diem! Giliran punya masalah aja datang!!"
"Ya udah! Biar aku cari sendiri!" Sahutku ketus.
"Gitu aja ngambek! Aku cuma bercanda!" Tuta pun merangkul pundakku. Tuta mengajakku duduk dikantin.
"Nggak diangkat Ris. Biarkan aja dulu. Nanti kalau udah adem, pasti nongol juga tuh anak."
Aku semakin gusar. Aku tidak ingin mengalami kegagalan lagi. Apalagi hubungan ini masih baru.
Mungkin bagi kebanyakan wanita, Aku tidak punya harga diri atau murahan mungkin. Tapi begitulah aku kalau sudah sayang.
Gama...pliss....minimal balas pesanku....Kuaduk-aduk teh manis pesananku. Aku duduk dengan gelisah. Berkali-kali ku cek ponselku, berharap ada pesan balasan. Nihil!
"Ris..tenanglah. Dia tidak akan kemana-mana. Santai..."
"Kau kan tidak tahu masalahnya!"
"Siapa bilang!? Tadi...." Tuta reflek menutup mulutnya.
__ADS_1
"Oooo...berarti kau tau ya Gama dimana?!"
"Ti..tidak. Dia...Dia cerita lewat telfon." Jelas Tuta dengan wajah nyengir kuda dan gelisah.
"Bohong!! Suruh dia kemari sekarang! atau tidak usah menemuiku sampai kiamat!" Ancamku.
"Oke...oke..Jangan ngamuk gitu dong."
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti didepan kantin. Tuta menarik tanganku menuju kesana.
"Mau kemana?" Tanyaku heran.
"Dia nunggu dimobil itu."
Kutepis genggaman tangannya. Tuta menatapku dengan kening berkerut.
"Kenapa bukan dia saja yang turun?" Rasa jengkel mulai menghinggapiku. Egoku mulai muncul.
"Kalian itu perlu ngomong berdua. Paham."
Tuta kembali menarikku, dengan cepat dia membuka pintu mobil dan mendudukkanku disana.
"Berangkat." Dia melambaikan tangan dan tersenyum.
Kami berhenti disebuah Danau tepatnya didepan sebuah warung dipinggir danau. Hari mulai senja. Cahaya lampu dari warung-warung pinggir danau menambah pesona senja.
Kami memilih tempat menghadap danau. Lebih tepatnya sih aku mengekor dibelakang Gama. Karena selama empat puluh menit perjalanan kami hanya diam.
"Kok kesini?" Aku berusaha memecah keheningan. Aku sudah tidak tahan dengan kebisuan ini.
"Biar tenang ngomongnya. Nggak berisik." Ucapnya dingin.
"Masih marah?"
Gama menatapku dengan pandangan yang sulit ku artikan. Ada marah, sedih dan..Ah! Berbagai macam emosi ada disana.
"Perasaanku ke kamu itu tidak main-main."
"Aku tahu. Perasanku juga begitu. Makanya...."
"Tapi kamu merusak kepercayaanku!" Ucap Gama tanpa menunggu kalimatku selesai.
"Coba kamu bayangkan, bagaimana shocknya aku ketika mendengar kalau kamu sedang mengadakan lamaran! Aku ingin ngasih kejutan untukmu. Ku kumpulkan keberanianku untuk menemui orang tuamu. Karena aku serius dengan hubungan ini!" Wajahnya memerah menahan gejolak yang ada didadanya.
__ADS_1
"Tapi malah aku yang mendapat kejutan yanh luar biasa." Ucapnya dengan sedikit memalingkan wajahnya dariku.
Dia pasti sangat kecewa dan sakit hati.
"Makanya dengerin aku dulu. Aku tahu kamu marah." Ucapku lembut dan Kugenggam tangannya.
"Mungkin berita yang kamu dengar dari tetangga agak berlebihan. Aku akui itu memang lamaran. Tapi aku tolak kok."
"Tapi para warga bilang kalau..."
"Aku dinikahi untuk bayar utang?" Sahutku cepat.
Gama hanya mengangguk.
"Orang tuaku tidak sepicik itu Gama. Ceritanya terlalu panjang dan.... Aku tidak tahu harus mulai darimana. Yang pasti aku tidak akan menikah dengan pria tua itu."
"Oke. Tapi jelaskan padaku duduk perkaranya. Agar semuanya jelas."
"Nanti...suatu hari nanti ya?" Entah kenapa aku belum siap untuk membuka keadaan keluargaku. Ada rasa malu yang datang menghinggapiku.
"Kenapa?"
"Tidak ada alasan apa-apa." Ucapku setengah menunduk. Aku belum siap membuka hidupku yang begitu berliku-liku untuknya.
Apakah aku munafik? Apakah aku jaim?
Bukan!Bukan!
Aku hanya tidak ingin dikasihani olehnya. Aku tidak ingin dia ada bersamaku didasari dengan rasa kasihan.
"Baiklah. Aku terima meski tidak puas dengan penjelasanmu." Gama merengkuh bahuku.
"Aku sedikit posesif dan cemburuan Ris. Kuharap kamu bisa mengatasinya." Dia membelai rambutku dengan lembut.
Tak ada jawaban dariku. Aku hanya menikmati suasana yang begitu indah. Nyaman dan tenang bersandar dibahu seseorang seperti ini. Beban berat yang kupikul seakan terangkat. Aku seperti sedang mengisi ulang energiku. Agar esok harinya aku bisa berjuang kembali.
Akankah pria ini bisa menjadi sandaranku?
Menjadi tempatku kembali ketika aku lelah untuk berjuang.
Menjadi tempat ternyaman dalam hidupku.
Entahlah...
__ADS_1