DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
GELOMBANG HIDUP


__ADS_3

Hari-hariku mulai berjalan normal dan tenang. Aku mulai disibukkan dengan kegiatan menjahitku. Dengan uang tabungan, Kuputuskan menyewa sebuah kios kecil dipasar tradisional kotaku.


Aku sedang berpacu dengan waktu, karena waktu cuti kuliahku sebentar lagi mau habis. Jadi aku harus bisa mengumpulkan uang dan membuat usaha ini berjalan lancar.


Selain menyelesaikan pesanan, aku juga mulai menjahit baju-baju siap pakai yang kujual dimedia sosial yang kudesain sendiri.


Yaah...sedikit melelahkan memang. Berangkat pagi hari dan pulang sore bahkan hampir petang. Belum tentu setiap hari ada pemasukan. Namanya juga masih baru dan merintis. Tapi aku harus bisa kuat demi impian yang bersemayam dikepala.


"Mak. Aku pulang." Ucapku sambil membuka pintu.


"Eh...Ada tamu." Ucapku ketika mataku melihat ada seorang wanita diruang tamu.


Keningku berkerut karena aku merasakan atmosfir aneh diantara kedua orang tuaku juga wanita itu. Mata Ibu sembab dan merah seperti habis menangis. Ayahku bersikap aneh. Dia gelisah dan resah serta agak memucat ketika aku tiba. Wanita itu duduk dengan wajah angkuh disana.


"Ada apa ini?" Kataku begitu aku duduk di sebelah Ibu.


Mereka hanya diam dan saling pandang. Hatiku semakin tidak enak. Sudut mataku melihat Adik-adiku mengintip dari kamar dengan wajah sedih. Ah! Pasti mereka tidak diijinkan ikut campur disini. Ini pasti masalah serius.


"Mak?" tanyaku dengan lembut. Ibu langsung terisak.


"Aku istri kedua Bapakmu." Ucap wanita itu dengan nada ketus sambil berpangku tangan dan bersandar di sofa.


Aku terkejut. Kupandang Ayahku dengan tatapan tajam. Aku begitu marah. Dia hanya mengangguk lemah.


"Oh..!! Jadi wanita ini selingkuhan Bapak dulu?! Aku pikir Bapak sudah berubah! Ternyata...." Aku tidak sanggup melanjutkan kata-kataku. Dadaku bergemuruh menahan amarah. Pikiranku kacau. Kukepalkan tanganku berharap aku tidak lepas kendali.


"Bapakmu minta pisah Nak" Ucap Ibu disela-sela tangisnya. Dia merangkul lenganku. Aku tahu dia tidak ingin aku meledak dalam amarah.


"Pak!" Kupanggil Ayahku. Aku butuh penjelasan walaupun itu tidak akan mengubah apapun.


"Maaf. Aku mencintainya dari dulu."

__ADS_1


" Dari dulu?! Aku tidak paham apa maksud Bapak."


"Dia ini mantan kekasih Bapakmu dulu Ris." Ibuku menimpali dengan suara lirih.


"Aku dan Mamak dulu dijodohkan Risa. Bapak tidak bisa menolak permintaan kakek dan nenekmu dulu. Tapi aku juga cinta dan sayang sama Mamakmu."


"Omong kosong!" Ucap Ibu ku. Dia begitu berang. Matanya memancarkan kebencian yang sangat besar.


"Kau sendiri yang tidak Mau dimadu. Aku bersabar begitu lama karena anak-anak kita masih kecil. Tapi sekarang mereka sudah besar. Mereka pasti bisa mengerti."


"Jangan kau buat anak-anak jadi alasan Pak! Aku tahu jika suaminya baru meninggal. Betul kan Ayu?!"


Wanita yang dipanggil Ibuku dengan nama Ayu itu sedikit gugup mendengar ucapan Ibu.


"Kalian betul-betul biadab!" Ibu kembali menangis. Baru kali ini kulihat Ibu begitu marah. Mungkin dia sudah lelah menahan semua sakit hati dan kecewanya. Dia mungkin sudah bosan berpura-pura tidak tahu.


Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang wanita menyakiti sesama wanita. Bagaimana bisa seorang suami yang sudah hidup bertahun-tahun dengan harinya tega berkhianat hanya karna cinta masa muda.


"Ini Mbak. Silahkan tanda tangan." Wanita itu menyodorkan selembar kertas. Surat Cerai!


"Mak!" Adik-adiku berteriak dan menghampiri kami. Mereka memeluk erat Ibuku. Perih sekali melihat pemandangan itu.


Kutarik nafas dalam dalam dan kuhembuskan secara kasar. Aku harus bisa mengendalikan keadaan. Aku tidak mau keadaan psikis adik dan ibuku semakin kacau.


"Kalau memang Bapak ingin hidup dengan wanita ini, silahkan. Kami tidak akan menghalangi kebahagiaan kalian." Aku diam sejenak. Ingin kulihat seperti apa reaksi mereka.


"Iya. Aku rasa lebih baik seperti itu. Tidak ada gunanya menahanmu." Sambung Ibu di sela- sela tangisnya. Ibu hendak mengambil surat cerai itu tapi segera ku tahan.


"Bapak tidak akan pernah bisa menceraikan Mamak! Tidak akan pernah kuijinkan itu!" Ancamku.


"Biarlah Ris. Mamak sudah ikhlas." Ucap Ibu lirih.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala dan menggenggam tangan Ibuku.


"Sudah cukup Mamak mengalah. Sudah waktunya Mamak menikmati hidup. Walaupun tanpa suami, Mamak bisa bahagia. Aku hanya ingin memberi mereka sedikit pelajaran." Kualihkan pandanganku kepada ayah dan wanita itu.


"Apa maksudmu perkataanmu itu Risa?!" Ucap Ayahku.


Aku tersenyum sinis. Jika tidak mengingat norma, aku sudah pasti meludah.


"Bapak pikir aku berkata begitu karena rasa sayang? Bapak salah! Aku ingin sedikit menyiksa istri cantik bapak ini."


"Hei! Jangan mulai kurang ajar ya! Kau tidak akan bisa menyentuhku. Iya kan sayang?" Ucap Wanita itu sambil bergelayut manja dilengan Ayah yang disambut usapan lembut tangan Ayahku.


"Anda pikir saya preman?! Hah! Saya lebih senang menggunakan otak saya daripada tinju saya nyonya. Walaupun terkadang tinju bisa sedikit membantu. Saya hanya ingin anda dicap perusak rumah tangga orang! wanita murahan! wanita jahat dan sebutan lainnya seumur hidup anda."


"Risa! Kau....!" Wajah Ayahku memerah menahan amarah.


"Itu juga berlaku untuk Bapak! Agar Bapak dihantui rasa bersalah seumur hidup. Kalian pikir bisa hidup bebas dan tenang? Jangan mimpi!"


"Dasar anak kurang ajar!" Bapak melayangkan sebuah tamparan diwajahku.


Semua orang terpekik dan terkejut. Adik-adiku mulai menangis memeluk ku. Untuk pertama kalinya dalam hidup Bapak berani menamparku. Sakit dihatiku melebihi sakitnya wajahku yang memerah. Aku tidak bisa menangis, hanya mataku saja yang menatap tajam kearahnya.


"Cukup! Sebaiknya kalian pergi! Aku tahu kau mengincar rumah dan kios peninggalan orang tuamu. Kau boleh mengambil kios itu tapi tidak dengan rumah ini! Pergi kalian! Sebelum kulaporkan kekepala desa."


Mereka pun pergi dengan wajah sedikit kecewa. Mereka berharap setelah perceraian bisa mengusai semua peninggalan kakek. Tapi nyatanya mereka pulang dengan tangan kosong.


Sepeninggal mereka, tangis Ibuku semakin menjadi. Kami hanya diam dan memeluk beliu. Kutepuk punggungnya dengan lembut. Biarlah segala sesak yang dipendamnya selama bertahun-tahun tumpah bersama air mata.


"Mamak masih punya kami. Aku dan abang bisa kok jagain kalian." Ucap adik bungsu ku dengan polosnya sambil mengusap lembut air mata Ibu.


"Iya sayang. Mamak pasti kuat. Mamak masih punya kalian, kebanggaanku. Kalian harus jadi orang. Ya..". Ada sedikit binar bahagia yang muncul dimata Ibuku. Ibu memang wanita hebat dan terkuat didunia ini.

__ADS_1


"Iya Mak. Kami akan berjuang untuk kebahagiaan Mamak. Kelak akan kubeli mulut orang-orang julid itu dengan kesuksesanku." Ucap Nanda.Kami pun tertawa bersama.


Begitulah hidup, kadang menangis kadang tertawa. Terkadang kita tertawa dalam tangis, terkadang pula kita menangis dalam tawa.


__ADS_2