DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
DI BURU OLEH WAKTU


__ADS_3

Kini malam penuh bintang itu hanya menjadi lukisan dibalik duka kabut yang memenuhi pelataran rumah sakit. Tetesan-tetesan air mata mulai membumi. Rasa khawatir dan cemas berbulir keringat seperti air yang membasahi tubuh seusai mandi.


"Katakan apa yang terjadi?" Ucap Pak Rudi panik.


"Ceritanya panjang pak. Yang pasti ini sebuah dampak dari dendam masalalu.Maaf karena saya tidak bisa menjadi tameng. Rifky melarang saya ikut campur pak." Jelas Cahyo.


"Terus bagaimana keadaan mereka berdua sekarang?"


"Saya belum tau pak. Di perjalanan tadi darah terus keluar dari samping dada Rifky. Dia pingsan sebelum sampai Rumah sakit. Sementara Dewi, Dia pun sama pak. Saya harus memastikan kalau kandungan Dewi dan Dewi selamat, itu yang Rifky pinta." Jelas Cahyo lagi.


"Ya Tuhan, kuatkanlah mereka berdua." Lirih Pak Rudi.


Tak beberapa lama kemudian, muncul beberapa polisi menghampiri mereka.


"Selamat malam pak, kami dari kepolisian hendak menyelidiki kasus yang menimpa saudara Rifky dan saudara Dimas yang membuat meninggalnya saudara Dimas. Mohon kerja samanya." Ucap salah satu polisi itu.


"Orang yang kamu cari tengah kritis di dalam. Tidak mengurangi rasa hormat saya kepada anda, sebaiknya anda-anda kembali sekarang. Saya yang akan urus besok." Ucap Pak Rudi yang sudah berubah seperti seekor singa yang marah.


"Baik kami akan kembali. Kami harap Bapak tidak berdusta. Terimakasih selamat malam." Sembari memberi hormat polisi-polisi itu berlalu pergi.


"Polisi tidak tau aturan." Upat Pak Rudi sambil duduk.


Waktu berlalu singkat meski yang di tempuh sudah melewati puluhan kali putaran detik jam.


Pagi itu, nampak Pak Rudi juga Cahyo nampak masih cemas dan belum sempat memejamkan mata. Dari dalam ruang VVIP itu muncul Nani dengan langkah lemah di temani seorang Dokter.


"Mas." Lirih Nani menghampiri Cahyo.


"Kamu sudah sadar dik. Bagaimana kondisimu sekarang?"


"Aku baik-baik saja mas. Hanya sedikit pusing."


"Saudari Nani tidak apa-apa pak. Hanya sedikit pengaruh obat penenang yang mencemari tubuhnya. Namun bapak jangan khawatir kami sudah menetralisirnya dan secepatnya akan pulih kembali." Jelas Dokter itu sambil tersenyum.


"Lalu bagaimana dengan kedua anak kami Dok?" Sela Pak Rudi.


"Mereka masih dalam perawatan. Dan sampai saat ini masih belum sadarkan diri."


"Mereka akan baik-baik saja kan Dok?"


"Mari keruangan saya." Pinta Dokter itu.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Pak Rudi di temani Cahyo dan Nani mengikuti Dokter itu.


"Jadi begini Pak, untuk saudari Dewi memang saat ini kami masih terus mencoba untuk melakukan yang terbaik. Baik untuk saudari Dewi sendiri maupun janin yang berada di rahim nya. Tapi kami pastikan keduanya selamat." Jelas Dokter itu setelah sampai di ruangannya.


"Hal yang sangat mengkhawatirkan adalah saudara Rifky. Walaupun luka tidak terlalu serius namun, peluru yang sempat bersarang itu mengandung racun yang sangat ganas. Hampir sebagian darahnya sudah tercemar racun itu. Kami harus terus memantau racun yang sudah menyebar itu. Sementara ini kami sudah mencoba untuk membersihkan darah dari racun. Dan dalam hal ini kami minta kerja sama dari Bapak. Kami membutuhkan pendonor darah untuk saudara Rifky."


"Memangnya apa Dok golongan darahnya?"


"AB-. Golongan darah ini sangat langka Pak. Kami harap secepatnya Bapak dan pihak keluarga segera mencarikan pendonor darah dengan golongan darah tersebut. Kita sedang mengejar dan di buru waktu saat ini. Bukan kami mendahului takdir, kalau dalam 2 hari ini saudara Rifky tidak menerima transfusi darah, kami tidak yakin saudara Rifky mampu bertahan."


Sontak Pak Rudi, Cahyo dan Nani kaget mendengar penjelasan Dokter itu. Nyawa Rifky seperti berada dalam tanduk. Itu yang membuat mereka kaget dan benar terpukul. Mereka berulang kali menghubungi semua kenalannya masing-masing untuk mendapatkan pendonor darah secepatnya untuk Rifky. Namun, semua terasa mustahil. Yang mereka hubungi hanya bisa berkata kalau ingin membantu mencarikan.


"Bagaimana kondisi anak-anak itu Pak?" Bu Desi dengan rasa khawatir menanyakan hal itu saat Pak Rudi dan Cahyo tiba di tambak.


"Kritis Bu. Secepatnya kita harus menemukan pendonor darah dengan golongan darah AB-." Jawab Pak Rudi. "Nanti Ibu ke rumah sakit temani Nani. Bapak mau ke kantor polisi dan kamu Cahyo, hubungi semua PMI-PMI untuk menanyakan stok darah itu."


"Baik pak." Sahut Bu Desi dan Cahyo hampir bersamaan.


Di tempat lain, nampak Dewi baru saja sadar dari pingsannya. Terlihat di samping Dewi, Nani yang tengah tersenyum dan bersyukur.


"Buat rebahan saja dulu mbk. Sekarang semua sudah aman. Mbak tidak usah khawatir lagi." Ucap Nani dengan senyumnya.


"Mbak tenang dulu. Mas Rifky bilang kalau sementara mbak aku yang temani. Dia janji akan segera sembuh." Hibur Nani.


"Tapi dia baik-baik saja kan?"


"Tentu, Mas Rifky masih dalam proses penyembuhan. Tidak lama lagi pasti kesini."


Nani terus berusaha meyakinkan Dewi kalau Rifky baik-baik saja. Semua itu ia lakukan untuk menguatkan hati Dewi. Suaminya pun meminta juga untuk tetap merahasiakan semuanya demi kesehatan dan kondisi Dewi.


Hari semakin larut. Suasana langit yang bertabur bintang seolah bertolak belakang dengan Cahyo yang masih kesana kemari mencari seorang pendonor untuk Rifky. Dia seolah tidak mau berhenti sebelum mendapatkan calon pendonor darah.


"Kemana lagi harus ku cari Ky. Ku harap kamu tetap bertahan." Lirih Cahyo yang kebetulan di dengar oleh bapak-bapak tukang ojek.


"Sesulit apapun kalau sudah rejeki pasti dapat mas." Tegur bapak itu. "Kehidupan seseorang sudah ada yang mengatur. Berdoa dan berusaha pasti ada jalannya. memangnya ada apa mas?"


"Saya tengah mencarikan pendonor darah untuk sahabat saya yang kini kritis di rumah sakit pak."


"Golongan darahnya?"


"AB-" Jawab Cahyo lesu.

__ADS_1


"Kebetulan saya AB- mas. Saya siap membantu. Ayo anterin ke rumah sakit itu."


Ucapan Bapak-bapak itu seolah seember es yang mengguyur tubuh Cahyo. Tanpa ba-bi-bu lagi ia segera membawa bapak itu ke rumah sakit.


Di rumah sakit.


Ketegangan kembali saat tubuh Rifky yang lemah mengejang. Tetesan keringat dan raut kecemasan walau terlihat tenang itu mengisi seisi ruang ICU di mana Rifky di rawat.


"Kita harus secepatnya mendapatkan transfusi darah Sus." Pekik Dokter itu kemudian berjalan keluar.


Bersamaan dengan itu, Cahyo muncul membawa Bapak-bapak yang menjadi pendonor darah. Dokter pun segera mengecek kondisi Bapak itu sebelum melakukan pengambilan darah.


"Bapak sudah siap?"


"Sudah Dok. Ambil saja sesuai yang di perlukan untuk menyelamatkan anak itu."


Kemudian mereka berjalan masuk untuk melakukan transfusi darah.


Selang beberapa waktu, nampak Dokter itu keluar.


"Bagaimana kondisinya Dok?" Tanya Pak Rudi yang sudah datang.


"Untuk sementara ini kondisinya kembali membaik. Mari ke ruangan saya. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan."


"Baik Dok." Sahut Pak Rudi kemudian mengikuti Dokter itu bersama Cahyo.


"Jadi begini pak, meskipun saudara Rifky sudah mendapatkan tambahan darah, namun itu tidak berjalan lama. Semua ini harus saya sampaikan." Ucap Dokter itu setelah sampai di ruangannya.


"Maksudnya Dok?"


"Sel darah merah yang ada dalam tubuh Rifky seolah termakan oleh racun yang bersemayam dalam tubuhnya. Untuk sementara ini kami hanya bisa terus melakukan transfusi darah untuk menutup kekurangan sel darah merah dalam tubuh Rifky." Jawab Dokter itu dengan raut sedih.


"Jadi?"


"Ya setidaknya kita tetap mempersiapkan pendonor darah. Kita tidak tau seperti apa nanti atau besok. Lebih baik bersiap dari pada terlambat. Kita di buru waktu pak." Jelas dokter itu.


"Baik Dok, lakukan yang terbaik."


"Tentu, kami akan melakukan sebaik dan semampu kami pak." Jawab Dokter itu kemudian, "Kami sedang menghubungi Dokter terbaik di negara ini. Kebetulan beliau adalah teman saya. paling lambat lusa beliau sudah datang."


"Terimakasih Dok."

__ADS_1


__ADS_2