DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
SECERCA HARAPAN


__ADS_3

Siang itu terasa terik mentari menyengat kulit. Hiruk pikuk dan semua kegiatan manusia yang mulai mengumpulkan berjuta asap menambah hawa yang teramat panas.


Siang itu, kembali Pak Rudi memenuhi panggilan kepolisian untuk melengkapi beberapa keterangan terkait dengan kasus dan tragedi berdarah yang menimpa Rifky.


Dari semua saksi mata dan keterangan yang di dapat dari Cahyo, Pak Rudi memantapkan langkah dan yakin kalau Rifky bukan di pihak yang salah. Yang dilakukan Rifky semata hanya untuk membela diri dan melindungi orang yang menjadi pendamping hidupnya.


"Mari silahkan masuk pak." Sapa seorang polisi yang berjaga di depan ruang sidik.


"Terimakasih." sahut Pak Rudi yang kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. Terlihat di sana sudah hadir beberapa orang yang salah satunya adalah kuasa hukum Rifky yang memang sudah di siapkan oleh Cahyo.


"Baik pak setelah hari ini, kita lanjutkan di meja persidangan." Ucap Juru sidik mengakhiri pertemuan siang itu.


"Baik pak." Sahut Pak Rudi sambil menyalami polisi itu kemudian pamit keluar.


"Semua akan baik-baik saja pak. Saya pastikan keadilan akan berjalan sebaik mungkin. Pak Rifky bukan dalam kondisi bersalah. Dia hanya melindungi diri." Tutur Pak Alex yang menjadi kuasa hukum Rifky.


"Saya percayakan semuanya kepada anda. terimakasih." Balas Pak Rudi sambil berpamit untuk pulang.


Di Rumah sakit.


Nampak berulang kali Dewi menanyakan kondisi Rifky. Hatinya terlihat tidak tenang dan terus memaksa untuk bertemu dengan suaminya itu. Dia merasakan ada kejanggalan dan hal yang di sembunyikan.


"Ada apa ini?" Tanya Pak Rudi yang baru tiba.


"Kenapa aku tidak boleh melihat mas Rifky? Sebenarnya ada apa Pak, Bu?"


"Kamu ingin melihat suamimu nduk?" Tanya Pak Rudi.


"Nggih Pak. Saya mohon pak."


"Apa kamu sudah merasa baikan?"


"saya sudah baik pak. Tolong pak Saya ingin lihat mas Rifky."


"Baiklah ayo Bapak antar. Tapi kamu harus janji, apapun kondisi suamimu, tetap kuat jangan menangis."

__ADS_1


"Ia Pak Dewi janji."


Kemudian dengan ditemani mereka semua, Dewi berjalan ke ruangan di mana Rifky di rawat. Nampak di dalam ruangan itu, Cahyo bangkit dari duduknya kaget melihat kehadiran istri sahabatnya itu. Namun dia kembali duduk ketika Pak Rudi mengedipkan mata tanda persetujuan darinya.


"Mas, bangun sayang. Kamu pasti kuat dan tidak akan membiarkan anakmu lahir tanpa suara azdanmu. Bangun matahariku jangan meredup seperti ini." Batin dewi sambil menghampiri dan duduk di kursi yang berada tepat di samping ranjang rawat Rifky. Tangannya perlahan mengusap pipi Rifky yang nampak pucat.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan mas Rifky?"


"Suamimu koma akibat luka tembak yang mengandung racun." Lirih Pak Rudi namun masih terdengar oleh Dewi.


Dewi hanya diam dengan tatapan sedih melihat mataharinya tergolek tak bisa apa-apa. Di usap-usapnya punggung tangan Rifky yang berada dalam genggamannya. Sesekali di kecup lembut tangan suaminya itu. Entah apa yang dalam benaknya, hanya siratan kesedihan yang terlukis.


"Yang sabar nduk, suamimu pasti kuat." Ucap Bu Desi menghampiri dan duduk di kursi sebelah Dewi sambil merangkul Dewi. Dewi hanya mengangguk sambil tersenyum sebentar ke arah Bu Desi.


"Saya mau di sini temani mas Rifky Bu."


"Iya nduk boleh. Nanti biar semua di urus oleh Cahyo." Sahut Bu Desi sambil memberi kode ke Cahyo.


Tanpa ba-bi-bu lagi Cahyo langsung mengurus semuanya. Meminta agar Dewi dan Rifky satu kamar. Dan Dokter pun mengijinkan karena memang kondisi Dewi sudah membaik. Dokter juga bilang munkin ini bisa menjadi sarana menguatkan kembali mental Dewi sehingga bisa dengan cepat pulih kembali.


"Intinya jangan sampai stres saja mas." Ucap Dokter itu di akhir pembicaraan.


Siang itu, kala Pak Rudi tengah menghadiri sidang pertama kasus Rifky, nampak Dewi tengah duduk memandangi wajah Rifky yang masih terbaring.


"Kapan kamu bangun mas? Sepi rasanya tanpa kasih sayang di hari-hariku. Bangunlah mas." Lirih Dewi sambil menggenggam tangan Rifky.


tok tok tok!!!!!!


"Selamat siang nona. Saya Dokter Yuli yang akan menangani suami anda." Ucap Dokter yang bernama Yuli itu.


"Iya Dok selamat siang. Silahkan Dokter."


Dokter itupun berjalan menghampiri. Dia langsung mengecek kondisi Rifky. Nampak raut mukanya sedikit kaget.


"Ini mustahil Nona. Dari hasil Lab yang saya terima ini benar di luar nalar. Racun yang masih bersemayam itu harusnya membuat Tuan Rifky tak akan selamat. Tapi, ini beneran di luar nalar kalau sampai detik ini harapan masih ada." Ucap Dokter itu sambil menggelengkan kepalanya seolah tak percaya.

__ADS_1


"Maksudnya Dok?"


"Jadi begini, Racun yang mengalir dalam darah Tuan Rifky ini akan memakan sel darah merah dan menghambat pertumbuhan sel darah merah. Sedikit saja terlambat bisa fatal akibatnya." Jelas Dokter itu.


"Apakah suami saya bisaa selamat Dok." Lirih Dewi yang mulai berkaca-kaca.


"Saya yakin masih bisa meskipun tidak akan seperti dulu."


"Lakukan yang terbaik Dok."


"Pasti Nona."


Bersamaan dengan ucapan terakhir Dokter itu, nampak Putri kakak Rifky datang dan langsung masuk kedalam dengan linangan air mata.


"Kamu kenapa dik. Bangunlah mbk datang." Isaknya yang membuat suasana menjadi haru.


"Ini Nona Putri kakak dari pasien ya?" Tanya Dokter itu.


"Iya Dok saya kakaknya."


"Baguslah, membaca semua yang tadi saya baca, semua harapan pasti ada. Kita akan mulai nanti sore. Siapkan kesehatan Nona. Darah Nona sangat di butuhkan oleh Tuan Rifky."


"Baik Dok lakukan secepatnya."


Singkat cerita, Sore pun tiba. 3 pendonor darah termasuk Putri pun sudah bersiap untuk di ambil darahnya. Sementara Rifky, kini dia sudah memulai proses detoksifikasi racun yang mengalir dalam darah dan mulai merambat ke tubuh. Kalau semua berjalan lancar setidaknya harapan itu masih ada.


"Banyak berdoa saja nduk. Semua pasti baik-baik saja." Hibur Bu Desi sambil merangkul Dewi. Dewi hanya mengangguk.


'Kamu pasti bisa melewati ini semua mas, aku yakin kamu bisa mas. Aku dan anakmu di perut ini selalu menunggumu. Cepat sembuh mas, cepat bangun matahariku. jangan biarkan mendung menutupi sinarmu.' Batin Dewi dalam hati


Sampai waktu hampir menunjukkan pukul 9, Lampu di atas pintu ruangan itu baru padam. Menandakan kalau semua sudah selesai. Dan tak lama pun Dokter Yuli keluar dari ruangan itu.


"Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar untuk proses yang pertama." Senyum Dokter itu membuat kelegaan. Tanpa di komando merekapun bersama mengucap syukur.


"Terimakasih Dokter." Lirih Dewi

__ADS_1


"Saya hanya perantara Nona. Kalau Allah menghendaki maka tidak ada yang mustahil. Secerca harapan itu walau sedikit saja pasti akan kita usahakan buat semua pasien. Itu tugas kami Nona."


Mendengar itu, Dewi langsung teringat akan kata Rifky. "Meskipun hanya secerca namun harapan itu pasti ada."


__ADS_2