
Entah berapa lama aku tertidur. Perlahan ku buka mataku. Ku lihat wajah-wajah khawatir di sana. Gama, Tuta, Bapak dan Mamak.
"Mak."Ucapku lemah.
"Sayang...Anak Mamak..Maafkan Mamak ya?" Dia menggenggam tanganku sambil menangis.
"Risa yang harus minta maaf Mak. Risa udah bohong."
Ibuku menggeleng cepat.
"Tuta sudah menceritakan semuanya. Seandainya Mamak mau mendengar penjelasanmu. Risa tidak akan drop begitu. Maaf ya sayang." Ucap ibu ku.
Ku lirik ke arah Tuta. Dia hanya menyebut nama Luna dengan suara berbisik. Aku pun mengangguk.
"Risa mau makan apa? Biar Bapak belikan." Ayahku memberanikan diri berbicara.
Kami memang sudah lama terlibat perang dingin. Lebih tepatnya aku menjauhi Ayahku. Kesalahannya begitu fatal bagiku.
Tapi melihat wajahnya yang begitu letih dan kuyu. Hatiku luluh seketika. Biar bagaimana pun Dia tetap Ayahku.
"Bubur ayam Pak."
"Bapak beli dulu ya?" Dia pun meninggalkan ruang rawatku.
"Kami tunggu diluar ya Ris. Kau perlu bicara dengan Tante." Gama berkata.
Ku balas dengan anggukan.
"Tuta memberikan kertas ini semalam Ris." Ibuku menunjukan form cuti dan surat rekomendasi kursus yang selalu ku bawa di tas ransel ku.
"Selama ini kau tidak pernah membantah. Selalu menuruti maunya Mamak. Mimpimu akan menjadi mimpi ku juga. Mamak rasa, menjadi penjahit juga keren."
"Keren?! Mamak sok gaul ah." Kataku sambil tertawa.
"Mulai sekarang Mamak akan mendukungmu, Nak. Lakukanlah sesuai keinginanmu."
"Makasih Mak."Kami pun saling berpelukan.
"Eits!!! Tapi tetap kau harus selesaikan kuliah mu. Paham!"
Ku anggukan kepala ku dengan cepat. Beramaan dengan itu, Bapak masuk ke ruang rawat ku.
"Ini buburnya Ris. Mau Bapak suapi?"
__ADS_1
"Iihh. Malu lah Pak! Risa udah gadis lho."
"Gadis sih, tapi gak laku-laku!" Ibuku menimpali.
Aku hanya cemberut. Bapak mengusap kepalaku dengan lembut. Rasa hangat menjalar di hatiku. Sudah lama kami tidak sedekat ini.
Dia pernah membuat sebuah kesalahan. Namanya juga manusia biasa. Tapi dia tetap Ayahku, cinta pertama dalam hidupku. Dia tetap superhero ku yang akan selalu menjadi orang pertama melindungiku disaat aku terluka.
Kupeluk tubuhnya yang sudah mulai menua. Hangat dan menenangkan. Kenangan-kenangan manis masa kecilku berputar di otakku. Bermain, bercanda dan saling memeluk.
"Bapak." Panggilku didalam hati.
Tak lama kemudian Orang tuaku pun pamit pulang. Mereka harus mengurus adik-adiku juga.
"Kenapa aku diruangan VIP? Kena berapa biayanya ini?" Bathinku.
"Woi...ngelamun aja." Tanpa ku sadari Tuta datang.
"Kebiasaan deh!!! Gama mana"
"Ciee...kangen ya?"
PLETAKKK!!! ku jitak kepalanya.
"Yaaahhh...bau ikan asin dong." Dia pura-pura merajuk.
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya itu. Seperti anak kecil.
"Dia lagi ngantar Om dan Tante pulang. Biar kita yang menjagamu di sini." Katanya kemudian.
"Kalau aku mau ke kamar mandi gimana? Kan gk lucu aku diantar laki-laki." Protesku.
"Kok jadi manja gini sih....Gemes deh...." Tuta mencubit pipiku. Aku meringis. Dengan cepat ku tepis tangannya.
"Eh Non... kau itu udah buka infus. Lagian biasanya juga kau malas di bantu...bahkan sama Tante Mira (Ibuku) sekalipun. Karena Gama yaaa...." Ucapnya menggoda ku.
"Bukaaannn.....!!!" Wajah ku memerah.
"Siapa yang menggantikan shiftku semalam?" Tanya ku kemudian.
"Kok semalam. Dua hari!!!" katanya sambil mengacungkan dua jarinya.
"Jadi aku tidak sadar selama dua hari?!Gila..." Sahutku tidak percaya.
__ADS_1
"Tapi tenang...aku sudah mengurus semuanya."
"Eh...tapi ngomong-ngomong, ruangan ini mahal gak ya? Kok aku di bawa ke VIP sih?" Tanyaku sedikit cemas.
"Yang penting kesehatan mu. Semua sudah di urus Gama. Jadi santai...Wolesss."
Aku mengerutkan kening. Heran.
Bayangan Rumah yang mereka tempati kembali terlintas di benakku. Besar, mewah dan berada di komplek perumahan elite.
"Siapa kalian sebenarnya." Tanyaku menyelidik.
"Siapa! Siapa! Kau mendadak amnesia?! ha..ha..ha... Tuta dan Gama Titik!!!!"
"Ya itu aku juga tahu!!! Maksudku...."
"Sudahlah... kami ya kami. Oke." Tuta memotong ucapanku.
Aku pun memilih diam. Karena aku tahu perdebatan ini akan jadi sangat panjang. Biarlah. Aku akan mencari tahu sendiri.
"Tut. Kau mau menjodohkan ku dengan Gama kan?" Todongku tiba-tiba.
Dia yang sedang mengunyah roti tersentak dan hampir tersedak. Setelah menyeruput kopinya dia pun menjawab...
"Hmmm...sedikit."
"Kenapa?"
"Yaaa...biar kau ada yang melindungi." Ucapnya santai.
"Tapi..."
"Shtt!!! jangan banyak bicara. Lebih baik kau istirahat. Biar kau cepat sembuh. Oke!"
Dia pun menyuruhku berbaring dan menyelimutiku.
"Tidurlah. Aku mau keluar sebentar." Kemudia dia pun berlalu.
Aku hanya pasrah. Kepala ku masih sedikit pusing jika dipaksa berpikir.
Biarkan saja dia bertingkah semaunya sekarang. Yang penting dia senang dan bahagia.
Aku pun terlelap. Tidur dengan perasaan yang begitu bahagia dan tenang.
__ADS_1