
malam yang cerah itu. setelah berlalu hari dan waktu. di tengah tenangnya lautan, dengan segelas kopi hitam menikmati malam hari di bulan ramadhan. nampak rifky duduk sambil bermain gitar. kebiasaan saat santai yang membuatnya fresh.
mungkinkah diri ini
dapat merubah buih
yang memutih
menjadi permadani
seperti pinta
yang tertulis dalam novel cinta
drrrt
suara ponsel yang bergetar menghentikan rifky bernyanyi.
"boy, sombong amat yang sudah jadi bos" chat cahyo membuka percakapan
__ADS_1
"ya bukan begitu boy, aku jarang pegang ponsel. banyak hal yang memaksa aku buat malas pegang ponsel." balas rifky
kemudian, percakapan itu di lanjutkan dengan telpon.
"tumben lu angkat telpon ku?" tanya cahyo.
"apa aku matikan nih, di angkat malah kampret " gerutu rifky.
" siaul. eh boy gimana kabar mu?" tanya cahyo
"ya alhamdulillah. semua masih aku jalani. Allah memang maha adil boy. disaat aku dalam gundah kemaren kemaren, anugrah ini membuatku bisa sejenak lebih untuk tidak terpuruk. banyak kegiatan yang membuatku benar bisa menyingkirkan pikiran yang memperburuk keadaan." jawab rifky santai.
"kapan kamu pulang lagi?"
"boy, maaf ni ya sebelumnya. apa kamu tidak pernah lagi kontak dengan ningsih?"
deg, pertanyaan itu membuat rifky sedikit kaget.
"aku memilih untuk menghindar boy. bukan apa, tapi keadaan memaksa seperti itu. aku tak ingin mengusiknya. sekarang dan dulu keadaan berubah boy. aku di paksa harus jadi lelaki yang punya harga diri dan tau posisi. aku menjaga perasaan seseorang boy." jawab rifky mencoba tenang.
__ADS_1
"tapi bukan harus menghindar kan?"
"mungkin itu yang terbaik. memang beberapa kali dia chat ke aku ya cuma tidak aku tanggapi. aku tidak mau terbawa suasana." jelas rifky
"itu bukan hukuman kan boy? pasalnya setelah hari itu, kehidupan asmaranya kacau tak seperti yang kamu pikirkan. bisa di bilang orang yang bersamanya hanyalah singgah dan menambah luka." ucap cahyo membuat rifky kaget.
"aku tak pernah tau itu boy. identitas ku tak ingin jadi penghalang mereka itu yang ada di pikiranku. karena aku ingin seseorang yang tak pernah memandang statusku sekarang." jelas rifky lagi
"ningsih hanya tau kamu yang dulu. dia tak pernah tau karena sampai sekarang aku tak pernah menceritakan apapun tentang kamu. aku masih menjaganya boy." sahut cahyo menjelaskan.
"ningsih selalu menanyakan kabarmu lewat aku. dia selalu berangan kembali seperti dulu. dia kangen masa dimana kamu selalu ada boy. aku melihatnya tersiksa. apa hatimu tega boy?" lanjut cahyo
"entahlah boy, nanti aku pikirkan pas aku pulang. waktu seminggu mungkin cukup buatku untuk mencoba menenangkan hati sebelum bertemu dengannya lebaran nanti." jawab rifky
"dia menyayangimu. aku faham dari semuanya. dan disini aku hanya penghubung, aku yakin perasaan itu masih ada di hatimu. cobalah memberinya kesempatan. untuk melihat sejauh mana perasaannya. jangan terlalu memberi cukup ikuti." ucap cahyo memberi solusi.
"baiklah akan ku pikirkan besok setelah di rumah." balas rifky
setelah itu panggilan telpon berakhir menyisakan rifky yang kembali menatap lautan tenang di malam hari. semilir angin yang mulai datang menusukkan hawa dingin. namun, tak membuat rifky beranjak.
__ADS_1
bersambung.
(maaf ya lama up ide terkadang ngandat)