
siang itu lebaran ke 4.
"jadi kan boy?" sapa cahyo yang sedang duduk di ruang tamu rumah rifky.
"aku orang yang tepat janji." balas rifky meyakinkan cahyo.
"ya ya ya aku percaya." sunggut cahyo manyun. "tapi kamu yakin boy, nampaknya masih ada aura yang terpaksa."
"insya Allah boy. tujuan baik kenapa tidak." tegas rifky
mereka pun sepakat akhirnya jalan. tak ada percakapan apapun. hanya degub jantung rifky yang mengimbangi suara deru mesin.
sampailah akhirnya mereka di rumah ningsih. rumah yang masih sama seperti dulu. rapi, sederhana dan masih khas rumah desa. yang membedakan adalah kali ini tidak hanya ningsih yang menyambut. namun, nampak pak narto tersenyum menyambut calon tamunya.
"dari rumah jam berapa tadi nak?" sapa pak narto.
"ini langsung dari rumah pak belum kemana mana. sekitar jam 1 tadi." jawab cahyo santun.
"monggo duduk dulu, bapak kebelakang dulu ya?" ucap pak narto mempersilahkan cahyo dan rifky duduk.
"njih pak terimakasih." sahut cahyo yang di ikuti anggukan rifky.
sementara pak narto ke ruang belakang, nampak ningsih baru masuk dari pintu utama. rautnya kaget kedatangan sosok tamu yang di tunggu. " e ada mas cahyo. loh ada kak rifky juga uda dari tadi ya?"
"baru aja sampai dik." jawab cahyo kemudian mereka berjabat tangan.
selang beberapa menit di sela percakapan mereka, pak narto kembali dengan gelas berisi teh hangat.
__ADS_1
"baru pulang nduk?" tanya pak narto
"njih pak baru saja masuk." jawab ningsih sambil membatu menurunkan air minum untuk rifky, cahyo, pak narto dan dirinya." monggo kak di minum maaf seadanya."
"jadi repot repot pak, dik." sahut cahyo
sedari tadi rifky seperti orang yang tidak bisa bicara. tanggapan percakapan itu hanya di sahut dengan senyuman dan gerakan kepala.sepatah katapun belum keluar dari mulutnya. masih membisu dengan senyuman.
melihat gelagat itu nampaknya pak narto paham, " nak rifky baru mudik ya. pulang kapan dari jawa timurnya?" tanya pak narto mencoba membuka suara rifky.
"njih pak. baru pulang malam lebaran pak." jawab rifky santun dan singkat.
" wah tak kirain sudah lupa kamu nak tempat ini gegara kelamaan di atas air." canda pak narto
"njih mboten pak, memang kemarin banyak kerjaan buat nutup pas liburan lebaran. jadi njih baru ini bisa kemari pak." terang rifky.
"banyak ya nak yang dari magelang sini?" lanjut pertanyaan pak narto. yang membuat cahyo dan ningsih amat takdim mendengarkan percakapan mereka
"saya sendiri pak. kebanyakan teman saya dari bondowoso, banyuwangi dan madura. njih bisa di bilang setiap hari dengar bahasa madura." jelas rifky santun.
"yang kamu kerjakan itu apa nak di sana?" pak narto semakin kepo.
"saya memelihara ikan pak di jaring apung. baik memberi makan, mengganti jaring dan juga membersihkan jaring yang kotor. tapi terkadang saya ke darat untuk cek bibit di bak yang ada di darat.keseluruhan kerja di laut pak." jelas rifky
"apa aja sekarang yang penting halal pak. bisa buat pengalaman, tambah saudara tambah temen." sambung rifky dengan senyuman.
"betul yang penting di temenin, di tekuni dan terus belajar. jangan malas malas, jangan gengsi dan penting bekerja halal." sahut pak narto.
__ADS_1
"njih pak benar sekali itu." rifky membenarkan ucapan pak narto kemudian," rokok pak monggo." sambung rifky sembari menawarkan rokok 345 yang di sambut pak narto.
sembari merokok mereka lanjut bercerita. sementara itu Ningsih dan cahyo hanya menjadi pendengar. dalam hati ningsih dia kaget melihat perubahan kakaknya yang dulu tidak pernah merokok sekarang menjadi perokok.
"nak, bapak sudah tau persis hubungan kamu dengan anak ku, bapak pribadi merestui kalian. yang terpenting kalian saling menjaga. sebuah hubungan pasti ada kalanya di terjang prahara. tapi jika saling sama sama pasti bisa melewatinya. intinya kalian harus saling percaya. jujur bapak apresiasi perilaku kamu yang sopan dan tidak neko neko itu." ucap pak narto yang membuat rifky sedikit kaget dan hanya bengong. begitu juga dengan ningsih dan cahyo yang langsung melongo seperti tidak percaya.
rifky hanya mencoba mengambil jalan tengah," njih matur suwun pak sudah mempercayakan putri bapak kepada saya. insya Allah saya akan menjaga amanah ini."
"bagus, bapak percaya kamu. kalau gitu bapak tak kebelakang dulu. kalian lanjutin obrolannya." ucap pak narto sambil beranjak untuk kembali ke belakang.
setelah kepergian pak narto nampak suasana menjadi hening membeku. tak ada sepatah katapun yang ada ningsih menunduk tak mampu berkata. cahyo pun bingung harus bagaimana. namaun, nampak rifky mulai menata raganya dan setelah mengambil nafas dalam,
"dik kakak sudah tau semuanya. maaf telah menghilang beberapa waktu setelah hari itu. kakak kembali untukmu, dan kakak ingin memperbaiki semuanya dari sekarang jika kamu berkenan." ucapan rifky itu membuat ningsih hanya menatap dalam mata rifky.
"kakak memaafkan ku?" lirih ningsih.
"tanpa kamu minta." jelas rifky tegas.
"terimakasih kak sudah selalu mempercayakan untukku. maaf juga pernah melukaimu." ucap ningsih masih lirih.
"lupakan hari itu, mulai hal baru." balas rifky tegas.
setelah itu, suasana kembali normal dengan cerita dan canda tawa. hal yang pernah terjadi tak terlintas lagi. memang diakui, rifky pandai dalam membuka suasana dan pandai melupakan luka di depan orang yang ia sayang.
"kenapa kakak sekarang jadi doyan rokok. setau adik, kakak tak pernah merokok dulu." pertanyaan itu sedari tadi ningsih simpan. namun melihat kakaknya yang berulang kali menghisap dan menyalakan rokoknya membuat rasa penasarannya menggunung.
"setiap orang punya alasan dik." jawab rifky singkat yang membuat ningsih berhenti bertanya soal itu.
__ADS_1
bersambung,