
Hari kian beranjak, dari malam menuju pagi, pagi menuju siang dan kini siang pun berangsur menuju sore yang tak lama berganti malam.
Sisa sisa pesta masih nampak walaupun tinggal sampah yang berdiam diri di pelataran rumah Dewi. Beberapa pemuda, bapak bapak dan ibu ibu nampak tengah duduk sabil bercanda di teras rumah Dewi.
Malam itu rupanya adalah malam pembubaran panitia. Terlihat di sela canda itu nampak beberapa sambutan menyelingi. Mulai sambutan tuan rumah, di susul sambutan dari perwakilan muda mudi dan kemudian yang terakhir sambutan ketua panitia yang membubarkan susunan panitia.
Mengakhiri acara nampak rasa syukur terucap dari para tamu malam itu. Yang kemudian berangsur satu persatu dari mereka pulang ke rumah masing masing dan kini menyisakan beberapa orang yang masih duduk duduk sambil ngobrol obrolan ringan.
"Nak Rifky ini kerja apa ya sekarang?" Tanya seorang bapak bapak.
"Kulo (saya) memelihara ikan di laut pak." Jawab Rifky sopan.
"Dulu jumpa dengan nduk Dewi di mana nak?"
"Ting (di) sekolahan pak, Dulu dik Dewi ini adik kelas saya." Jelas Rifky dengan santun.
Percakapan pun berlangsung sampai larut malam. Rasa kantuk yang sejak tadi di tahan nampaknya membuat Rifky menguap berkali kali.
"Nak Rifky kalau sudah ngantuk tidur dulu nggak papa. Lanjut besok saja obrolannya. Bapak tak nemenin yang lain main kartu." Ucap bapak bapak itu yang menyadari Rifky yang sudah menahan kantuknya.
"Njih (iya) pak, ngapunten (maaf) saya masuk dulu pak." Ucap Rifky sambil bangkit dan masuk ke dalam.
Sesampainya di kamar nampak dewi tengah menunggunya sembari memainkan ponselnya.
"Kamu belum tidur dik?" Tanya Rifky.
"Belum mas. Adik nungguin mas. Kata ibu, sebagai seorang istri itu jangan tidur terlebih dahulu sebelum suaminya pulang." Jawab Dewi polos membuat Rifky tersenyum dan duduk di sampingnya. Di rangkulnya pundak Dewi dan perlahan di peluknya yang membuat jantung Dewi berdegub kencang.
Untuk pertama kalinya tubuhnya di peluk oleh seorang cowok. Di peluk serta di perlakuan lembut oleh seorang Rifky membuat Dewi terbang melayang.
Perlahan Rifky membawa Dewi ke ranjang tempat tidur mereka. Di rebahkan nya kepala Dewi di pahanya dan perlahan di usap lembut rambut hitamnya.
"Malam ini Dewi bahagia banget mas." Ucap Dewi manja.
"Kenapa dik?"
"Berada di sampingmu adalah kebahagiaan yang tak terukur lagi mas." Jawab Dewi sambil menatap lekat mata Rifky.
Mereka benar terhipnotis suasana romantis itu.
Tatapan matamu dewi ku telah melumpuhkan ku
anggun mu
paras mu
sempurna
__ADS_1
menatapmu kini membuatku melayang
membuat relung jiwaku seperti taman bunga
aku bahagia memilikimu
memilikimu yanng tak pernah terpikir oleh ku
tetaplah di samping ku
melengkapi hidupku
dan biarkan aku selalu menjadi sandaran mu
menjadi tempat berlindung mu
dewi ku
atas nama cinta
ku ingin selalu bersamamu
tetaplah di sisiku
Tatapan mereka masih beradu. Seolah mulut sudah beralih ke mata dan pikiran.
malam ini aku bahagia
berada di sisimu yang selalu ku damba
inginku berlama sandar di paha mu
menikmati belaian tanganmu di rambutku
menikmati tiap detik bersama mu
menghabiskan sisa hidup bersama mu
pangeran ku
jadikanlah aku tempat berlabuh mu
jadikan aku tempat peneduh mu
hingga nanti malaikat maut menjemput ku
tetaplah di sampingku
__ADS_1
temani aku
aku selalu menyayangimu.
Berjuta perasaan terlontar lewat pikiran mereka. Syair syair yang saling mengagumi membuat mereka terbang melayang. Perlahan, di angkatnya tubuh Dewi naik. Kecupan hangat mendarat di kening Dewi. Mendapat kecupan itu, Dewi langsung memeluk Rifky. Air matanya leleh membasahi pipi.
Rifky yang menyadari itu langsung mengusap air mata itu dengan lembut. Dia tau betul apa yang di rasakan oleh Dewi. sekali lagi di kecup nya bibir Dewi. Bibir ranum yang selama ini di jaga oleh Dewi dan hanya Rifky yang menjamahnya untuk pertama dan terakhir dalam hidupnya.
"Mas, " Lirih Dewi
"Sabar ya sayang. Jangan sekarang. Nanti di suatu tempat yang indah kita melakukannya. Aku janji." Ucap Rifky sambil mengeluarkan senyum manisnya. walaupun dalam hatinya entah mengapa bayang bayang masa lalu mengusik.
"Iya mas, Dewi akan selalu menunggu. Menunggu hari dimana harta yang selalu Dewi jaga ini mas ambil." Lirih Dewi yang kembali hanyut dalam dada bidang Rifky.
Merekapun terlelap, terbang bersama Dewi mimpi yang selalu menemani malam malam mereka.
Masalalu mungkin memanglah sudah berlalu. Namun, terkadang masalalu selalu menjadi dinding yang kokoh. Dinding yang selalu membuat ngeri setiap jiwa. Dampak ringannya adalah seseorang susah move on dan yang lebih parah adalah tidak bisa move on serta selalu di hantui bayang bayang masalalu.
Begitulah yang di rasakan oleh Rifky. Wajah seorang Ningsih selalu saja membuatnya sulit melangkah. Bahkan di mimpinya pun selalu menghantuinya. Meraung raung dan memintanya untuk datang menjemputnya. Hati Rifky benar tersiksa.
"Mas bangun mas mas." Ucap Dewi yang melihat Rifky gelisah dalam tidurnya. Keringat yang deras dan mulut yang seolah berbicara namun tidak ada suara membuat Dewi semakin panik.
"Mas bangun. Mas..." Ucap Dewi yang kemudian memeluk Rifky yang membuat Rifky bangun.
"Astaghfirullah...." Ucap Rifky mulai membuka mata. Secepatnya Dewi bangun dan mengambilkan air minum untuk Rifky.
"Di minum dulu mas." Ucap Dewi sambil mengulurkan segelas air minum. Setelah beberapa teguk di taruh nya gelas itu di meja samping tempat tidur. Nampak Rifky mengatur nafasnya yang sempat tak beraturan itu.
"Mas mimpi buruk ya?" Tanya Dewi setelah Rifky agak tenang.
"Iya dik." Lirih Rifky sambil menatap lekat wajah Dewi.
"Cerita lah mas. Aku ini istrimu." Ucap Dewi meyakinkan.
"Kamu tidak akan marah?"
"Aku sudah menjadi milikmu mas, tentu aku tidak akan marah. Aku akan selalu mendampingi mu apapun yang terjadi." Yakin Dewi.
Perlahan Rifky menceritakan tentang mimpinya yang bertemu dengan Ningsih. Menceritakan semuanya tentang rintihan Ningsih yang memanggil manggil namanya.
"Begitu besar rasa cintamu kepadanya dan begitu besar pula rasa cintanya kepadamu mas sampai ikatan batin melekat di antara kalian." Batin Dewi sambil memeluk Rifky yang masih terisak.
"Besok kita jenguk kak Ningsih ya mas." Ucap Dewi menutup cerita Rifky tentang mimpinya.
"Tapi kamu dik.."
"Aku tidak apa apa mas. Bukankah kita sudah berjanji untuk menjenguknya. Percayalah aku baik baik saja." Tutur Dewi meyakinkan Rifky. Dan Rifky pun mengangguk.
__ADS_1
Rasa tenang, nyaman dan damai terselubung di hati Rifky. Bahagia memiliki seorang istri yang mengerti akan masalalu yang belum ada ujungnya. Begitu pula dengan Dewi, Dia senang melihat kejujuran Rifky. Dia bahagia bisa berada dalam pelukan hangat suaminya itu.
Mereka kembali terlelap bersama dawai dawai kehidupan di awal pernikahan mereka.