
Gama dan Tuta POV
Gama sedang duduk di ruang tamu. Sudah seminggu lebih dia tinggal di kota kecil nan sejuk ini. Matanya memang tertuju ke TV yang sedang menyala. Tapi pikirannya melayang entah kemana.
"Ngelamun aja!!" Tanpa Gama sadari Tuta sudah duduk di sampingnya.
"Bikin kaget aja! Gimana hasil percakapan dengan Paman?"
"Aku setuju mengambil alih SPBU itu. Rasanya aku sudah mampu."
"Baguslah. Aku senang mendengarnya. Kau sudah dewasa sekarang. Aku senang dengan segala perubahanmu." Gama menepuk pundak Tuta.
"Ini semua berkat Risa. Entah sihir apa yang Dia miliki, sampai semua tabiat buruk ku hilang."
"Dia memang unik. Awalnya aku merasa kau hanya melebih-lebihkan cerita tentangnya. Tapi setelah bertemu, Dia memang istimewa." Jelas Gama.
" Kau harus berjanji padaku, jangan pernah bongkar identitas ku kepadanya. Kau juga termasuk."
"Kenapa?" Tanya Gama heran.
"Dia alergi dengan Orang kaya."
"Alergi?! Maksudmu tidak suka?"
"Yaa... begitulah. Dia punya kenangan buruk dengan orang berduit. Katanya mereka jahat."
"Kelihatannya kau menyukainya. Kenapa tidak kau nyatakan perasaanmu?"
"Sudah Gam. Tapi aku ditolak. Dia lebih nyaman menjadi sahabatku. Katanya agar dia bisa selalu menjagaku."
"Pacar juga bisa kan?"
"Jika suatu saat kita putus, maka akan terjadi jarak kata Dia. Dan menurutku itu masuk akal. Aku bisa menerima nya."
"Tapi kenapa kau berusaha membuat kami dekat?"
__ADS_1
"Dibalik semua keceriaannya, dia punya luka Gam. Dia pernah dikhianati. Dan menurutku kau lebih pantas untuknya. Kau lebih dewasa."
"Kau tau kan Gam, kepergian Mama adalah pukulan besar untuk ku. Lalu Gadis itu datang dengan segala keanehan dan kebaikannya. Saat semua wanita menatapku jijik dengan semua tindik di tubuhku. Pakaianku seperti preman jalanan. Dia menerima semua itu."
"Yaah..aku sangat ingat dengan jelas semua gaya dan tingkahmu itu. Sangat jelas."Gama menegaskan.
"Entah terbuat dari apa hatinya itu. Walaupun aku tahu kehidupan nya juga tidak mudah. Tapi masih mau repot mengurusi orang lain."
"Kehidupan berat? Maksudmu?" Gama bertanya sedikit penasaran.
"Kau cari tahu sendirilah! Cinta butuh perjuangan bro!!!
"Anak ABG ngomongin cinta!! Kau tau apa?"
"Aku tau segalanya. Karena aku lebih playboy dan lebih banyak pengalaman. Usiaku sudah 23 Tahun. Paham?!"
"Ya..Ya...ya kau memang playboy." Gama tersenyum mengejek.
"Jangan jangan....kau masih mengharapkan Anisa ya?!"
Gama tersentak mendengar nama itu. Wajahnya berubah merah.
"Siapa yang marah?!" Ucap Gama gelagapan.
"Wuahaaahaha... Berarti tebakanku benar. Badan aja yang besar!!!Hati helo kitty!!!"
"Sialan!" Gama melempar bantal sofa ke arah Tuta.
"Eits. Tidak kena." Tuta tertawa terpingkal pingkal.
"Cih!! Dasar bocah!!"
"Aku tidak memaksa Gam. Sudah ah! Aku mau istirahat. Silahkan dilanjutkan melamunnya. Hahaha...." Tuta pun beranjak pergi.
Anisa. Entah kenapa setiap kali nama itu disebut rasa nyeri di ulu hati selalu saja datang menghampiri.
__ADS_1
Kenangan pahit yang begitu membekas kembali muncul di ingatan Gama. Terluka tapi tidak berdarah. Luka yang selalu membuat dada sesak.
Jalanan cinta yang dibangun bertahun-tahun, kandas begitu saja. Anisa memilih pergi dan menyerah.
Perbedaan! Hanya Perbedaan Agama membuat semaunya hancur berantakan.
3 TAHUN LALU.....
"Gam. Kita sudahi saja hubungan ini." Ucap Anisa sambil menggenggam erat tangan Gama.
Air matanya mengalir begitu deras. Dia sudah tidak menghiraukan tatapan pengunjung cafe yang lagi ramai.
"Nis. Bertahanlah sedikit lagi. Ku mohon."
"Kau tau bagaimana kerasnya orang tuaku. Terutama Ayahku."
"Aku akan terus berusaha meminta restu."
Anisa menggeleng pelan.
"Bagaiman dengan orang tua mu?! Mereka juga tidak mengijinkanmu menjadi mualaf."
"Kita bisa menikah di luar negri. Kau tau kan di luar negri bisa menikah beda Agama. Kita...kita hanya perlu mendapat restu." Ucap Gama panik.
"Gama." Ucap Anisa lembut. "Hubungan ini tidak akan pernah berhasil. Tidak akan pernah ada ujungnya." Bibir Anisa bergetar berusaha menahan segala gejolak.
"Aku yakin kita bisa sayang." Pinta Gama.
Kembali Anisa hanya menggeleng.
"Aku juga berat melepasmu. Tapi aku tidak mau kita semakin tersakiti. Aku akan pergi ke luar negri Gam. Jaga diri baik baik ya?" Anisa pergi meninggalkan Gama yang masih terperanjat.
Ini seperti mimpi buruk. Dia masih belum percaya dengan semua kejadian ini.
flashback off
__ADS_1
Akankah dia sanggup membuka pintu hatinya lagi? Akankah Seorang Derisa mampu mengobati luka itu? Akankah.... akankah.....
Tidak ada yang tahu tentang hari esok. Manusia hanya berencana pada akhirnya Tuhan yang akan menentukan.