
lembar pertama
"rintik air hujan
telah lama membasahi ku
menyebar dingin menyelusup seisi tulang rusukku
hawa memabukkan ku yang kian menyelusup jiwa
aku yang lama teracuni cintamu
aku yang dimabukkan akan perhatianmu
dan kini semua sirna
semua hancur
dinding membentang menghalangi pandanganku
kau yang telah bersamanya mengubur cintaku
teratai ku aku ihklas asal kamu bahagia"
Lembar ke dua
"Hari telah ku lalui
tanpamu dan tanpa bayangmu
bukan aku lari
namun aku berharap dapat ihklas takdir
karna sungguh bayangmu
tak pernah luput dalam detik ku
semua karena ku terlanjur menyayangimu
dan sangat menyayangimu"
Lembar ke tiga
"Bolehkah ku bertanya
tentang arti kehidupan
dari semua cerita
dan langkah rumit yang tak bermakna
Apa semua hanya kata
yang tertulis dalam sebuah lentera
tak pernah terjamah lagi
bak secarik kertas lusuh tak terganti
hidup haruskah di mengerti
sedang semua tak mampu terakali
sedang aku terjatuh dan harus bangkit lagi
hidup apakah terus begini"
Lembar ke empat
"Kini senja telah berganti malam
menguburku bersama kenangan
__ADS_1
hingga aku merasakan kesendirian
luka yang teramat dalam
sunyi sepi kuratapi sendiri
menembus batas waktu semu
dan hati harus merelakan
raga mu tak lagi di sampingku
sakit rasanya
ku tahan penuh luka tersayat
tercabik hingga hancur
ku rasa sendiri
ingin ku berlari
membuang semua luka ini
hingga ku mampu
menjalani semua tanpamu"
Lembar ke lima
"Aku yang tengah merawat luka
berharap tak seorangpun merasakannya
dan tak seorangpun mengalaminya
biarlah aku saja dan aku saja
menjadi sosok tumpuan
tersenyum di atas luka
dan tertawa di atas duka
entah sampai kapan
biar waktu yang menjawab"
Lembar ke enam
"Teratai ku
tenanglah kau di sana
tak lama aku kan menyusul mu
dan percayalah hati ini tetap milikmu
meski cinta telah membawaku membeku
meski cinta telah membunuh rasaku
hanya satu yang membuatku tetap berdiri
senyuman mu di pintu surga yang melambai menanti ku
tenanglah di sana
teratai ku"
Nampak Dewi berhenti sejenak. Pikirannya melambung mengartikan bait bait terakhir yang ia baca. "Tenanglah di sana teratai ku, maksudnya?" Guma Dewi seorang diri.
"Mungkinkah selama ini mas Rifky menganggap kak Ningsih telah tiada" Dewi masih saja membatin untuk mengartikan maksud kalimat terakhir itu.
__ADS_1
"Cinta mu ternyata begitu hebat mas, aku tak menyangka ternyata selama ini kamu tak membuka hati karna kamu telah menguburnya sendiri. Kamu menyiksa diri mu sendiri." Lirih dewi yang kemudian menutup buku itu karena sudah tidak ada lagi tulisannya.
Kemudian di ambilnya diary bersampul kertas emas. Di halaman awal tertulis tanggal beserta tahun. Kalau di ingat ingat tahun itu pastinya awal awal Rifky kerja. Dan waktu itu pastinya Dewi masih menduduki kelas 2 smk.
Lembar pertama
"Aku tak menyangka telah melabuhkan hati pada orang yang salah. meski sakit, namun semua menjadi sebuah pelajaran. Cinta pertama yang menyakitkan. Tapi aku beruntung memiliki dua sahabat yang perduli dan selalu menghiburku. Cahyo, Ningsih ah mungkin mereka sudah menjalin hubungan . Semoga kalian selalu bahagia."
Sejenak Dewi menghentikan bacanya. Pikirannya menerka nerka tentang kisah masalalu orang yang sebentar lagi menjadi suaminya itu.
"Jadi dulu kak Ningsih itu kekasihnya mas Cahyo. Hehehe lucu juga." Dewi tersenyum sendiri sembari membuka halaman berikutnya.
Di halaman ke dua Dewi sedikit paham kalau ternyata Cahyo dan Ningsih tak pernah menjalin hubungan. Dan ternyata Ningsih menaruh hati ke Rifky dan Sampai cerita hubungan Rifky semua tertulis dan di baca oleh Dewi.
Akhirnya Dewi tau kisah pelik di kehidupan Rifky. Tentang Nani dan pernikahan Ningsih semua tertulis lengkap di diary itu.
"Semua seperti jalan takdir. Aku tau mas semua masalalu mu itu yang mungkin membuat mu trauma. Nanti aku yang akan menjagamu mas. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu." Lirih Dewi sambil memeluk buku diary itu seolah yang di peluk adalah pemilik diary itu.
Sementara itu, nampak Rifky yang tengah mencari sesuatu di dalam tas nya. Berulangkali di membuka dan meneliti seisi tasnya dan nampaknya dia tidak menemukan benda yang di carinya.
"Di mana lah kamu peri emas ku. Seingat ku aku taruh di tas hadeuh." Gerutu Rifky yang masih mencari cari benda yang di sebutnya peri emas.
Rifky tidak tau kalau benda yang ia cari kini tengah berada di tangan Dewi. Tengah di nikmati dan di baca oleh Dewi.
"Hadeuh, kayaknya sudah aku masukkan tas kemaren. Masa iya tertinggal." Keluh Rifky sambil menggaruk kepalanya sendiri.
Kembali ke tempat Dewi. Orang yang tengah asik membaca diary yang di sebut repi emas tadi.
Lembar ke dua peri emas
"Kenapa dia harus memilih ku, dan kenapa dia harus menganggap aku lebih dari seorang kakak. Sungguh aku belum sanggup dan jujur aku belum sanggup. Rasa takut kehilangan ini selalu menghantui."
Kembali Dewi berfikir sejenak. Dalam benaknya terbang menerpa kalimat yang di tulis oleh Rifky itu. Dia mulai faham, selama ini Ningsih duluan yang menyukai Rifky.
"Memang karisma mu mas membuat kami kaum hawa terpesona." Lirih Dewi sambil tersenyum sendiri.
Lembaran ke tiga peri emas.
"Hari ini dan malam ini aku mencoba membuka hati untuknya. Aku sudah siap dengan segala resiko. Bukankah menyenangkan adiknya itu juga bagus. Jadi hari ini aku mencoba untuk menerimanya. Peri emas terimakasih untuk selama ini telah menjadi tempat ku berkeluh kesah."
Lembaran ke empat peri emas
"Hari ini, semua yang aku takutkan dulu terjadi. Aku tidak menyangka dia lebih percaya omongan orang yang baru di kenalnya. Dan memilih pergi ke lain hati tanpa menunggu penjelasan dariku. Peri emas kenapa semua ini kembali terjadi pada ku."
Dewi mencoba mengingat peristiwa yang di tulis oleh Rifky. Dan dia ingat waktu itu Ningsih sempat curhat kepadanya. Ningsih menceritakan semua yang di alaminya. Ningsih mengambil keputusan tanpa menanyakan kebenaran terlebih dahulu. Walaupun dia sudah mencoba mengingatkan Ningsih, tapi rasa cemburunya menghancurkan segalanya.
Lembaran ke lima peri emas
"Peri emas, setelah sekian lama aku tak menjamah mu, malam ini aku ingin menuliskan sekelumit perasaan luka walaupun aku bahagia. Dia akan menikah, meski bukan dengan aku. Aku sudah terlanjur menyukainya, namun saat seperti ini dia pergi dari hidupku selamanya. Hancur lebur rasanya hatiku.
Peri emas, biarlah rasa cinta ini tetap ku jaga untuknya yang kini bukan untukku."
Tak terasa air mata meleleh membasahi pipi Dewi. Dia seolah merasakan seperti apa rasanya hati seorang Rifky saat itu. Saat benar mencintai namun di tinggal pergi.
Lembaran ke enam peri emas
"Hai peri emas, hari ini aku merasa lebih baik. Setelah berhari hari di jogja menjadi saksi kebahagiaan orang yang aku sayangi dan pulang di temani wanita cantik namun malang nasibnya. Jujur hatiku tergerak untuk menolong nya. Harapanku, wanita itu bahagia dan lekas lebih baik lagi hidupnya.
Satu hal lagi, sepertinya aku pernah melihatnya tapi entah dimana. mungkin kebetulan saja."
"Haaa, mas Rifky sebenarnya ingat dan pernah bertemu denganku." Ucap Dewi lirih kembali tersenyum tipis.
Lembaran ke tujuh peri emas
"Peri emas, malam ini tolong bantu aku.Harus bagaimanakah aku mengambil sikap? Aku tak menyangka dia memiliki rasa padaku. Jujur aku bingung berbuat. Hati kecilku bergejolak saat dekat dengannya. Namun pikiran ini selalu saja di hantui masalalu. harus bagaimana aku mengambil sikap. Apa aku harus membiarkan hati ini untuknya, atau sebaliknya.
ahh biarlah semua berjalan. biarkan waktu yang menjawab."
"Kau begitu tertekan mas, tapi kenapa kamu tak pernah bilang? semua kau pendam sendiri dan orang lain hanya menikmati senyum mu yang di balut luka itu." Lirih dewi seraya menutup buku diary itu, karena tidak ada lagi tulisan setelah itu.
"Mas, aku akan menunggumu benar untukku. Aku tidak akan pernah memaksamu. Cintaku tetap untukmu mas." Ucap Dewi sambil menatap keluar jendela.
Nampak bintang berhamburan seolah tersenyum padanya.
__ADS_1