
"Aku menyayangimu dik. Apapun yang kamu minta pasti akan aku turuti." lirih Rifky yang tidak mau membangunkan Dewi.
Saat Rifky hendak keluar, nampak Dewi menggeliat. Seraut senyum terpancar kala matanya melihat sebungkus cup berisi apa yang di inginkan nya. Sejenak kemudian, wajahnya memandangi sosok Rifky. Suami yang benar sempurna di matanya. Rasa syukur terucap dalam hati tak terhitung lagi.
"Terimaksih ya mas." Rinai bulir air mata itu, berjalan menyelusuri pipi.
"Iya sayang, mas kan sudah janji." Rifky yang sudah berada di samping Dewi langsung menyeka buliran air mata itu.
"Ayo di minum es-nya sayang." Lanjut Rifky sambil membantu Dewi bangun meskipun sebenarnya tanpa di bantu masih bisa bangun sendiri.
Hari kian larut di telan gelap malam yang mulai menyelimuti. Roda dan detik waktu yang berdetak, semilir desir angin kehidupan dan nyanyian serangga malam mulai menciptakan melodi-melodi kehidupan.
Kala malam yang sejuk itu, nampak Dewi tengah duduk di beranda.Beranda yang menghadap tepat ke laut itu, memperlihatkan betapa indahnya suasana keindahan tengah lautan yang di penuhi kerlip-kerlip cahaya lampu kapal nelayan.
"Ternyata kamu di sini dik. Mas cari-cari kemana-mana rupanya sedang di sini."
Dewi yang di sapa oleh Rifky hanya tersenyum. Kemudian, saat Rifky sudah duduk di kursi sebelahnya, Dewi bangkit dan kembali duduk di pangkuan Rifky.
Berdua mereka menikmati indahnya malam itu.
"Mas malam ini aku jadi ingat. Ingat waktu pertamakali duduk di pangkuan mas." Guma Dewi sambil pandangannya lurus ke tengah lautan.
Rifky tidak menjawab, hanya kecupan dan senyumnya yang menjawab. Merekapun, kembali menikmati moment berdua itu tanpa menghiraukan cahyo yang sejak tadi di belakang mereka.
"Boy maaf mengganggu. Ada beberapa hal yang mau aku sampaikan." Ucap Cahyo yang sudah menyiapkan kata .
"Iya boy bilang saja tidak apa apa." Sahut Rifky yang setengah kaget. Sementara Dewi yang tadinya duduk di pangkuan Rifky kini turun dan duduk di sebelah Rifky.
"Besok kamu bisa datang kan di acara pertemuan dengan beberapa pembisnis di hotel X."
"Bagaimana dik?" Ucap Rifky sambil menoleh ke arah Dewi.
"Dewi boleh ikut nggak mas?" Dewi berbalik tanya. Sementara itu, Rifky mengisyaratkan ke Cahyo tentang pendapatnya.
"Baiklah, nanti kamu ikut biar di temeni Nani. Mas nggak bisa membiarkan kamu menunggu sendiri." Putus Rifky setelah mendapat pendapat Cahyo lewat anggukannya.
Setelah itu, mereka semua beristirahat karena malam sudah semakin larut dan dinginnya juga sudah terlalu memijit-mijit tulang mereka.
******
Hari telah berganti. Tiba kini hari dimana pertemuan itu di laksanakan. Tempat pertemuan itu berada di hotel bagian dari mall besar di kota itu. Tidak heran kenapa Rifky meminta Nani untuk menemani istrinya.
__ADS_1
"Mas tinggal dulu ya sayang. Kamu hati-hati." Ucap Rifky sambil mengecup kening Dewi. "Nan, minta tolong ya."
"Siap bos." Ucap Dewi dan Nani hampir bersamaan yang membuat Rifky tersenyum dan kemudian berlalu pergi.
Sepergian Rifky dan Cahyo, nampak Dewi dan Nani berkeliling mall. Mereka berbelanja beberapa Baju dan pakaian. Saat mereka berdua tengah berjalan menuju sebuah tempat makan, muncul dari arah yang berlawanan seorang pemuda yang usianya kira-kira setahun di atas usia Rifky. Penampilannya sangat rapih dengan jas dan dasi yang melekat.
"Hey kamu Dewi kan?" Pemuda tampan itu menyapa Dewi.
"Iya saya Dewi."Jawab Dewi singkat sambil menerka-nerka siapa pemuda yang menyapanya. "Mas Dimas ya?"
"Iya, wah kamu belum lupa. Mau kemana ini?"
"Mau cari makan mas. Mas sendiri?"
"Aku hanya sedang berjalan-jalan. Kebetulan aku punya restauran di sini. Kamu mau mencoba menu di restauran ku. Gratis untukmu dan temanmu."
"Bolehlah. Iya nggak Nan."
"Siapa dia?" Bisik Nani.
"Dia suaminya kak almarhumah kak Ningsih. masa kamu lupa."
"Nih kamu pilih sendiri menunya. Bahan yang di pakai disini semua aman karena aku tanam sendiri dan petik sendiri dari perkebunan ku." Ucap Dimas sambil mengulurkan buku menu kemudian duduk di samping Dewi.
sebenarnya Nani merasa sedikit risih dengan sikap Dimas ke Dewi. Namun apalah daya, dia hanya asisten Rifky yang di tugaskan untuk menemani kemanapun Dewi pergi selama Rifky berada di ruang pertemuan.
"Yah jatuh." Ucap Dewi saat dompetnya terjatuh. Nampak foto Dewi saat Resepsi tengah memeluk Rifky suaminya.
"Anak itu selalu saja." Batin Dimas kala melhat foto itu dan bergegas tersenyum untuk menutupi kegusaran hatinya.
Drttttttt
Ponsel Dimas berdering yang membuat dia harus sedikit menjauh untuk mengangkat telpon. Tak berapa lama kemudian, Dimas kembali sembari tersenyum.
"Aku tinggal bentar ya. Kalian nikmati saja dulu makannya. Aku ada urusan sebentar. Nanti aku bilang ke pelayan untuk mengurus kalian."
"OK mas terimakasih."
Dimas hanya tersenyum dan berlalu pergi menuju ruang pelayan. setelah beberapa saat kemudian, dia kembali keluar dan hilang di telan keramaian.
Kini tinggalah Dewi dan Nani yang tengah berbincang menunggu makanannya. Nampak mereka tengah membicarakan soal Dimas.
__ADS_1
"Aku kok sedikit curiga dengan tatapan mas Dimas tadi bu." Ucap Nani.
"Curiga kenapa Nan?"
"Tatapannya seperti lelaki hidung belang saja."
"Hahaha, kamu ini bisa saja Nan."
"Serius bu. Dari tadi saya perhatikan dia loh."
Dewi dan Nani saling pandang dan kemudian suasana pun hening.
"Ini kok lama ya bu."
"Mungkin karena memasaknya dadakan kali Nan."
"Tapi ya nggak selama ini juga kali bu."
Dewi hanya mengangkat pundaknya. Karena tak lama dari itu 3 pelayan datang membawa hidangan yang sudah di pesan.
Mereka pun melahap makanan itu, karena perut sudah bergejolak minta di isi. Tak ada hal yang aneh dan mengkhawatirkan. Mereka hanya terus melahap memenuhi seruan perutnya yang masih lapar. Dan semua hidangan pun habis di lahap mereka.
Di tempat lain,
Nampak Rifky yang baru keluar dari ruang pertemuan. Di sampingnya Cahyo mengikuti langkah Rifky yang berjalan menuju tempat yang sudah mereka tentukan. Dan ketika sampai,
"Lah mereka belum kesini boy, hadeuh." Lirih Rifky sambil menepuk jidatnya.
"Sebentar biar aku chat istriku." Ucap Cahyo sambil mengirim pesan ke Nani.
"Kita tunggu saja sebentar boy." Lirih Rifky sambil duduk di kursi.
Tak berapa lama kemudian,
"Kami sudah pulang mas. Habisnya lama sih." Balasan pesan Nani.
"Ya sudah kalau gitu kita pulang saja boy, Sudah capek banget aku."
"Ayok gass." Sahut cahyo sambil bangkit mengikuti Rifky yang tengah berjalan menuju parkiran.
Sebetulnya mereka bukan letih. Namun bertemu dengan Dimas membuat mereka harus menahan muak. Jujur saja Rifky bisa mengusir Dimas dari pertemuan itu, namun rasa profesional kerjanya membuatnya harus menempatkan diri dimana kerja dimana hati.
__ADS_1