
drrrrrt
ponsel rifky bergetar. membuat rifky bangun pagi itu.dengan mata masih sayup, di bukanya ponselnya.
"kak, kakak di mana? kenapa ponsel kakak tidak aktif? adik tunggu hari ini di rumah. ada yang mau adik bilang." pesan dari Ningsih itu mengingatkannya semalam ponselnya lowbat.
"maaf dik semalam ponsel ku lowbat. insya Allah kakak datang." jawab rifky sambil bangun dan menuju kamar mandi untuk mandi dan kemudian sholat subuh.
setelah hari menjelang siang.
"ayo boy, pake motorku aja. aku kok tidak enak perasaannya. rasanya pengen cepat sampai aku." ucap rifky yang langsung starter motornya dan tanpa menjawab cahyo langsung naik.
motor pun melaju kencang. hingga membuat cahyo berulang kali mengingatkan untuk memperlambat motornya. namun sepertinya tidak di gubris sama sekali oleh rifky.
dan sesampainya di rumah ningsih cahyo hanya menggeleng kepala karena di geret oleh rifky.
"masuk kak." ucap ningsih lirih. nampak matanya seperti habis menangis semalaman.
__ADS_1
"iya dik kenapa menyuruh kakak datang kemari dan kenapa matamu seperti habis menangis." rifky langsung mengintrogasi. namun, bukan mendapat jawaban, malah menambah rifky bingung. pasalnya ningsih hanya menunjukan cincin di jari manisnya.
"maksudnya apa itu dik?" tanya rifky.
"ibu menjodohkan ningsih ke anaknya pak Marjono ketua kelompok tani di desa ini." ucap bu narti membuat rifky seperti hilang topangan. lemas.
"nak dimas tau betul pertanian, dia sekolah dan lulusan sarjana pertanian. bentar lagi menjadi mantri pertanian. di desa ini banyak yang sukses karena ilmunya dan modal darinya." lanjut bu narti.
"alhamdulillah baguslah kalau seperti itu bu. masa depan ningsih akan lebih baik lagi." ucap rifky seolah tak terjadi apa apa.
"tentu, karena ningsih hidup di kampung bukan di air." sindir bu narti.
sementara itu ningsih hanya menggeleng tanda tak setuju air matanya terus menetes. dan cahyo hanya bisa menggelengkan kepala." kenapa kamu harus mengalah lagi boy, tunjukan siapa kamu jang kamu biarkan hati dan jiwamu di seperti inikan." batin cahyo dalam hati.
"njih mpun bu saya pamit dulu. semoga semua berjalan lancar seperti yang di inginkan dan nantinya dik ningsih dan mas dimas menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah." ucap rifky sambil bangkit kemudian mencium punggung tangan bu narti namun di tepis oleh bu narti. rifky pun berlalu keluar di ikuti cahyo.
sebelum rifky menghidupkan motornya, nampak Ningsih berlari dan menahannya." jangan pergi kak adik mohon jangan pergi." isak ningsih.
__ADS_1
" maaf dik, tidak ada yang bisa kakak lakukan lagi. ingat semua sudah ada yang mengatur. bukan tak sayang namun, belajarlah menyayangi orang tuamu. jodoh rejeki pati sudah tergaris." ucap rifky mencoba memberi pengertian. kemudian melepaskan pegangan ningsih sambil tersenyum.
"jangan kak adik mohon," pinta ningsih yang sudah di taring oleh bu narti.
"percayalah kata kata kakak. jangan membuat semua semakin sulit. kakak pergi dulu. assalamualaikum." ucap rifky kemudian berlalu pergi dengan motornya.
"berhenti." teriak cahyo rifky pun memberhentikan motornya.
"kenapa boy?" sahut rifky sambil mematikan motornya.
"tidak kah kamu ingin berjuang boy. tapi kenapa sekarang kamu menyerah seperti ini?" tanya cahyo.
"haram bagi laki laki mendekati perempuan yang sudah di pinang boy. apapun alasannya." jelas rifky singkat.
"tapi lihat ningsih tersiksa boy?" desak cahyo.
"ini baru awal boy. nanti berangsur hari akan berubah. biarkanlah hari yang menjawab. melawan orang tua itu juga tidak baik." jelas rifky yang membuat cahyo hanya diam kemudian mengambil alih motor rifky. dia masih ingat betapa membahayakan bila rifky yang mengemudi dalam hati yang kacau itu.
__ADS_1
"aku yang depan." cahyo langsung menghidupkan motornya.
bersambung,