
Hari ini aku begitu lelah. Kursus ku yang berjalan hampir sebulan ini, agak menguras energi. Ditambah pekerjaan yang ku jalani mengharuskanku pulang malam.
Ku buka pintu kamarku dengan malas. Jantungku seperti berhenti berdetak. Ku lihat Ibuku menangis di meja belajarku. Ku lirik Adik perempuan yang duduk di tempat tidur. Kami memang menempati kamar yang sama. Demikian juga kedua adik laki laki ku. Mereka menempati kamar sebelah.
Ibu ku hanya menatapku. Kulihat tangannya memegang selembar kertas. Aku terperanjat. Wajahku memucat. Kwitansi pembayaran kursus ku!!!!!
Oh!tidak!tidak! Hatiku menjerit.
Mulutku kelu. Tidak bisa berkata sepatah kata pun.
"Apa ini Risa?!"
"Maaf Mak." Aku menghampiri Ibuku dan bersimpuh dikakinya.
"Penipu!" Suara Ibu bergetar menahan tangis.
"A..Aku bisa jelaskan Mak." Ucapku terbata-bata.
Ibuku menatapku dengan penuh kemarahan.
"Mak. Jangan marah sama Kakak. Dia pasti punya alasan." Nanda dengan takut takut membuka suara. Ah! Gadis kecil yang pintar. Pemikirannya begitu dewasa, melebihi anak seusianya.
"Jangan ikut campur Nanda! Tidurlah!" Titah Ibu.
Nanda tidak berani melawan. Nanda menarik sedikit dan menutupi seluruh tubuhnya kemudian berbaring. Aku tahu di dalam sana dia pasti menangis. Begitu juga di kamar adik laki-laki ku dan Bapak. Mereka tidak berani keluar untuk menyudahi keadaan ini.
"Mak. Aku hanya cuti, tahun depan aku lanjutkan kuliah ku."
"Bohong!!! Kau jangan membodohiku!"
"Aku tidak berbohong Mak." Aku terisak.
"Jangan membodohiku ku Risa! Mamak memang tidak berpendidikan. Tapi Mamak masih bisa baca!" Ibu ku melemparkan kwitansi itu ke hadapanku.
"Mak. ini hanya sementara. Hanya 3 bulan. Habis itu aku..."
Belum sempat ku selesaikan kalimatku, Ibu ku menyela...
"Karena Mamak tidak sekolah, makanya Mamak ingin menyekolahkanmu dengan adik-adikmu setinggi-tingginya. Tidak peduli harus ngutang sana sini! Tidak peduli Mamak harus kerja berangkat pagi pulang hampir malam! Mamak tidak peduli dengan semua gunjingan tetangga. Yang penting kalian bisa sekolah!!! Tapi kau....!!!!" Ibu ku kembali terisak.
Aku tidak berani mengangkat wajahku. Aku hanya tertunduk sambil menangis.
__ADS_1
"Dengarkan Risa dulu Mak. Risa bisa jelaskan semua."
"Mamak tidak butuh! Mamak kecewa Risa."
JLLEBB!!! Kata itu begitu menusuk jantungku.
"Kau kemanakan isi pikiranmu Risa!!! Ibu ku histeris sambil memukul mukul bahuku.
"Sebaiknya kau pergi!" Ibu menarik tanganku dan mendorong tubuhku.
Bapak dan adik adik ku sontak menghampiri kami.
"Cukup Mak! Dengarkan dulu penjelasannya." Ucap Bapak sambil memeluk Ibu ku. Adik-adiku memeluk ku sambil terisak. Suasana yang begitu kacau.
"Pergi! Pergiii!!" Ibu ku kembali histeris.
Aku pun memutuskan untuk pergi. Aku keluar dari rumah begitu saja. Aku lari begitu saja. Otak ku sudah tidak bisa berfikir. Aku hanya berlari tanpa tujuan.
Lelah berlari, aku pun berjalan. Aku berjalan dengan langkah gontai.
Seharusnya hari ini aku bahagia. Karena Bu Fany guru kursusku memberi kesempatan emas bagiku. Dia merekomendasikan ku kepada temannya di kota M untuk dididik selama 3 bulan.
"Kau berbakat Nak. Hanya dalam satu bulan, perkembanganmu begitu cepat. Di sana kau bisa mengembangkan bakat mendesainmu. Tidak hanya menjahit. Persiapkan dirimu minggu depan." Ucapnya waktu itu.
Tapi aku terlambat. Ibu ku sudah terlanjur kecewa. Membuatku begitu hancur dan patah semangat.
Satu-satunya alasanku untuk tetap berjuang hanya Dia. Melihat semangatnya aku jadi terpacu. Aku hidup hanya untuk membuatnya bangga.
Ingin ku tebus semua letih dan keringatnya dengan kesuksesanku. Semua hinaan, sedih dan deritanya akan kuganti dengan rasa bangga.
Tapi apa yang ku lakukan. Aku gagal! Aku benar benar tidak berguna. Aku anak durhaka. Sudah berakhir! Yang dapat ku lakukan hanya menangis.
Tanpa ku sadari aku tiba di pom bensin tempat kerjaku.
Tuta berlari ketika melihatku datang.
"Hei...Apa yang terjadi?"
Aku hanya menangis dan menangis. Aku tampak begitu kacau.
"Bisa bawa aku pergi Tut? Kemana aja. Ku mohon." Pinta ku.
__ADS_1
"Oke..oke.." Tuta menuntun ku me kantor.
Dia mengambil ponsel dan mengirim pesan. Tak lama Gama datang dengan tergesa-gesa.
"Bawa dia ke rumah Paman saja." Ucap Gama.
Sepanjang perjalanan kami semua hanya diam. Tak lama kemudian kami pun sampai.
"Bik.. Bik Dewi!" Teriak Gama
Seorang wanita paruh datang tergopoh-gopoh datang menghampiri kami.
"Saya tuan." Jawab wanita itu penuh hormat.
"Siapkan teh manis hangat ya Bik. Sama kamar tamu tolong dibersihkan." Perintah Gama. Lalu Dia pun beranjak pergi.
"Gam. Tolong jagain Dia ya. Aku harus kembali kerja." Ucap Tuta. Gama hanya mengangguk.
"Ris. Gak pa pa kan aku tinggal?" Kata Tuta sambil mengusap kepala ku
Aku hanya mengangguk lemah.
"Diminum dulu teh nya."
Setelah itu Gama memapahku menuju kamar.
"Istirahatlah. Aku tidur di Ruang tahu, kalau perlu apa apa. Panggil aku ya?!" Ucapnya sambil menyelimutiku.
"Rumah yang besar." Ucapku dalam hati.
Wajah Ibuku kembali terlintas di pikiranku. Aku pun kembali menangis dan menangis. Ingin rasanya ku akhiri hidupku. Tapi aku tidak punya cukup keberanian.
"Maaf Mak." Kata itu terus ku ulang di dalam hati.
Tiba-tiba kepala ku rasanya begitu berat. Seperti ada ratusan paku yang menusuk-nusuk. Sakit sekali.
Walaupun memakai selimut tebal tubuhku menggigil. Aku berusaha membuka mata tapi gelap. Mengangkat kepala pun aku tidak sanggup.
Aku hanya mendengar suara-suara mendengung tidak jelas.
Ah...mungkin sudah ajalku.
__ADS_1
by readers...mohon dukungannyaa ya...
juga kritik dan sarannya...