DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
PELABUHAN HATI


__ADS_3

Hatiku pernah membeku. Dan aku pernah merasa kalau tidak ada cinta yang tersisa untuk orang sepertiku. Gadis yang penuh masalah hidup.


Aku begitu menikmati waktu magang di kota ini. Disela-sela kesibukanku Gama selalu hadir. Aku akhirnya tahu jika ia punya perusahaan distributor sebuah produk makanan. Darinya aku banyak belajar cara berbisnis.


Dalam beberapa hari aku harus kembali ke kampung halamanku. Aku sudah mempersiapkan segalanya, termasuk uang 5 juta yang berhasil ku kumpulkan.


Aku tidak lupa dengan perjanjian dengan nenek sihir itu. Mana mau aku dinikahkan dengan tua bangka jahat itu.


"Hari ini aku akan mentraktirmu di Restoran mewah." Ucap Gama saat perjalanan pulang.


Memang selama di kota ini dia begitu rajin mengantar jemputku. Walaupun sudah ku katakan berkali-kali kalau aku bisa pulang sendiri.


"Kenapa tidak seperti biasa aja? Makan di pinggir jalan." Protesku.


"Sekali ini aja... ya..buat kenang-kenangan."


"Di alun-alun kota aja. Kan malam minggu...rame tuh biasanya." Bujukku lagi.


Aku memang tidak nyaman makan ditempat mewah. Beberapa kali Bosku mengajak makan bersama juga ku tolak. Aku benar-benar risih dengan cara makan yang terlalu banyak aturan.


"Risa...kumohon. Lusa kamu udah balik."


"Pakaianku tidak cocok." Aku mencari-cari alasan.


"Ha..Ha..Ha..alasanmu tidak tepat nona. Lihat dulu dirimu."


"Ah..sial!!!" Ucapku dalam hati ketika aku sadar masih memakai pakaian kerja yang termasuk formal. Setelan kemeja merah marun berbahan katun dan celana hitam dengan bahan yang sama.


"Mau beralasan apa lagi? Setuju kan?"


Kubalas pertanyaan pria pemaksa ini dengan anggukan setengah hati.


Kami pun tiba didepan sebuah Restoran mewah. Entah apa namanya. Aku malas membacanya. Aku hanya ingin cepat pulang dari tempat ini.


Seorang pelayan datang menghampiri dan menyodorkan menu. Aku tidak mengerti entah apa yang tertulis disana. Dengan cepat kuletakkan daftar menu tersebut.


"Kau saja yang pesan. Aku bingung." Ucapku. Kulihat si pelayan tersenyum mengejek.


Bodo amat!! Dianggap kampungan, kampungan deh!!! Biar saja Gama menjadi tidak nyaman. Itu bagus untukku.


Ternyata dugaanku salah. Gama sama sekali tidak merasa risih. Bahkan saat kami makan pun. Padahal cara makanku mengundang lirikan meja sekitar. Sedikit berisik. Maklumlah biasanya juga makan di warung, mana lebih sering pake tangan lagi!


"Pulang yuk.." Ajakku ketika kami selesai makan.


"Bentar lagi ya. Tuh ada pertunjukkan musik. Nikmati aja dulu."

__ADS_1


"Dengar musik, dari HP juga bisa!!" Aku mendengus kesal.


Suara dentingan piano dan gitar mulai menggema. Si penyanyi pun mulai mengalunkan lagu romantis. Aku pun mulai menikmati setiap lantunan yang merdu.


"Ris.." Gama tiba-tiba menggenggam tanganku. Aku terkejut dan sedikit malu karena suasana yang sedikit ramai.


"Jadi pacarku ya?"


Aku yang ditodong seperti itu menjadi salah tingkah. Jantungku berdetak kencang. Seperti genderang yang sedang ditabuh.


"Aku memang bukan orang romantis. Aku tidak pandai berkata-kata puitis. Mau ya?" Gama menatapku dengan tatapan lembut.


"A..aku....gimana ya..."


"Memangnya kamu masih tidak nyaman jalan berdua samaku? Masih takut?"


"Bukan...Aku nyaman kok. Aku suka kok jalan sama kamu."


"Lalu?"


"Kamu yakin? Dengan orang sepertiku? Status kita...."


Belum sempat kuselesaikan ucapanku....Cup...Gama mengecup keningku. Rasa hangat menjalar dihatiku. Aku tidak marah. Aku tidak takut. Begitu nyaman.


Akupun mengangguk pelan.


Dia kembali mengecup lembut keningku. Matanya begitu berbinar.


Diperjalanan pulang.....


"Baru jadian, lusa kita langsung LDR-an ya Gam..lucu deh." Ucapku.


"Kok Gama sih?! Sayang dong! Yank gitu!!!" Protesnya.


"Iih!!! Apaan sih!" Protesku.


"Harus mulai belajar. Biar terbiasa...yaaaa. Kalau soal LDR-an, tidak usah khawatir. Tiap minggu aku bakal datang. Cuma 2 jam perjalanan kok." Tangannya pun menggenggam tanganku.


"Lagi nyetir lho..ntar gak fokus."


"Tenang ya sayang..kamu bakal sampai dengan selamat."


"Tapi aku punya satu permintaan."


"Banyak juga boleh."

__ADS_1


"Iiiihh. Apaan sih...!!?? Tuta jangan dikasih tau dulu ya..." Rengekku.


Entah kenapa aku bisa begitu bertingkah manja kepadanya. Aku bisa merengek, ngambek dan bertingkah layaknya gadis muda lainnya.


Aku yang biasanya galak, mandiri dan selalu bersikap kuat. Kerasnya hidup yang membuat ku tumbuh seperti itu. Tidak berlaku dihadapan Gama. Mungkin karena dia begitu dewasa dan perhatian.


"Kenapa?" Tanyanya dengan wajah heran.


"Dia pasti mengejek ku habis-habisan. Kamu tau sendiri tingkahnya seperti apa."


"Dia pasti ikut bahagia kok." Ucap Gama meyakinkan.


"Soalnya aku pernah bilang ke dia, kalau aku tidak akan pacaran dulu sampai cita-cita ku tercapai. Kami juga taruhan waktu itu...."


"Taruhan?!"


"Jika aku pacaran, aku bakal lari keliling komplek Pom bensin sambil teriak."


"Teriak apa?"


"Aku bucin! Budak Cinta sampai 5 kali putaran." Ucapku sambil meringis.


"Dia pasti sudah lupa. tenang aja.. Otaknya kan agak gesrek."


Gama tersenyum. Dia mengusap lembut kepala dan wajah ku. Diperlakukan seperti itu, membuat wajahku merona. Aku hanya tersenyum dan menikmati setiap detik moment indah ini. Moment yang sudah lama tidak kualami. Kupikir aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Kupikir rasa ini tidak akan pernah hadir lagi. Hatiku yang pernah ku tutup rapat, kembali dibuka oleh pria yang satu ini.


Hari kepulangan....


Aku sedang berada diruangan Bu Kimaura.Aku sedang menunggu kedatangannya. Aku akan pamit hari ini.


"Maaf ya Ris. Ibu terlambat. Agak macet tadi."


Dia pun duduk dihadapanku.


"Gak apa pa, Bu." Sahutku.


"Aku sangat berharap jika kau tetap disini. Perkembanganmu begitu cepat. Kau sangat berbakat. Sampai detik ini tawaranku masih berlaku lho."


"Aku juga betah disini Bu. Aku juga masih haus ilmu dari Ibu. Tapi aku punya tanggung jawab kepada orangtuaku. Kuliah ku harus selesai Bu."


"Baiklah. Aku tidak akan membujukmu lagi. Kalau butuh bantuan jangan sungkan-sungkan hubungi saya. Sukses ya." Ucapnya sambil memberikan sertifikat kepadaku. Kami pun berjabat tangan.


Aku pun melangkah pergi. Aku pulang naik Bus, karena Gama tidak bisa mengantar. Dia masih punya urusan yang tidak bisa ditinggal.


Aku hanya ingin cepat sampai dirumah. Bertemu dengan keluarga ku. Mamak, Bapak dan adik-adik ku. Dengan bekal ilmu yang kudapat aku akan mengubah hidup ku dan keluarga ku.

__ADS_1


__ADS_2