
Malam hari di pom bensin
Aku sedang asyik menggambar. Jam di tangan ku menunjukkan pukul 21.00. Sepi. Tidak banyak kendaraan yang mengisi bahan bakar. Hanya satu atau dua. Itu hal yang biasa.
Untuk mengusir rasa bosan memang biasanya aku suka membaca atau menggambar. Kalau Tuta tidak datang merecoki. Aku suka membuat sketsa pakaian. Hal itulah yang membuatku begitu yakin untuk mengikuti kursus menjahit.
"Mbak. Bensin dong!"
"Eh!? Maaf."Aku sedikit terkejut. Aku terlalu larut menggambar, sampai aku tidak sadar ada konsumen. Dengan cekatan ku selesaikan tugas ku.
"Isi berapa bang?" Tanyaku.
"Sepuluh Ribu." Aroma alkohol begitu menyengat saat pria ini berbicara.
Dengan cepat ku selesaikan tugasku. Aku menangkap gelagat aneh dari kedua pria ini. Dari sikap dan lirikan matanya membuatku tidak nyaman.
Lalu Si pengemudi mendorong motornya sedikit menjauh dariku. Sementara yang satunya menyerahkan uang seratus ribuan padaku.
Ketika aku sedang merogoh tas kecil di pinggang ku, Tiba-tiba.....
"Serahkan Isi tas itu! Cepat!!" Bentaknya sambil menodongkan pisau ke arah ku.
Aku begitu terkejut. Aku menelan ludah. Jantungku berdetak hebat. Ku lihat Security menghampiri kami dengan perlahan. Sementara Pria satunya bersiap di sepeda motornya.
"Jangan ada yang mendekat atau berteriak!!! Atau aku akan melukai gadis ini!!! Aku hanya butuh uang nya!! Cepat!!!" Ancamnya setengah berteriak.
Semua orang hanya bisa diam mematung di tempat. Suasana begitu tegang dan mencekam.
Aku menarik nafas perlahan. Aku harus menguasai keadaan. Ku perhatikan keadaan dengan seksama dan hati-hati.
Perlahan ku gerakkan tanganku. Aku berpura-pura melepas tas pinggang ku. Ketika Pria itu sedikit lengah....BRAK!! Ku piting tangan nya dan ku tendang bagian bawah lalu ku banting.
Pria itu meringis kesakitan. Orang-orang di sekitar pun mulai beraksi menangkap ke dua penjahat itu.
Semua teman-teman ternganga. Tak terkecuali Tuta dan Gama. Mereka pun menghampiri ku.
__ADS_1
"Ada.. Ada yang luka? di bagian mana!?" Tuta sibuk memutar badan ku.
"Iihh!! Tuta!!! Pusing nih!!!" Sungutku.
"Sory. Namanya juga khawatir.He..He..He."
"Nih!! cuma tergores doang!! Ku tunjukan sisi lenganku yang tergores.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu di kantor. Biar tangan kamu di obati." Gama menarik tangan ku.
Di kantor.....
Dengan telaten Gama mengobati luka ku. Khawatir. Begitu jelas terukir di wajah tampannya. Dan jelas aku agak risih.
"Tidak usah terlalu panik Gam. Cuma luka kecil." Dia hanya diam dan meneruskan aktivitasnya.
Tuta masuk ke ruangan dengan tergesa-gesa.
"Polisi sudah mengurus para ******** itu!!!" Ucapnya penuh emosi. Lalu tiba-tiba Dia memelukku.
"Aku takut banget lho Ris." Suaranya sedikit bergetar. Mungkin dia masih trauma dengan rasa kehilangan.
"Oops. Sorry. Kekencengan ya?"
"Kamu pernah belajar bela diri?" Tanya Gama.
"Pernah. Sampe sabuk hitam." Ucap ku santai.
"What!? Pantesan kau galak dan jutek. Gak ada takutnya lagi."
Aku hanya tertawa mendengar ucapan Tuta.
"Tapi kejadian ini jangan sampai ke telinga orang tuaku ya?!"
"Kenapa?!" Gama terlihat tidak setuju.
__ADS_1
"Aku gak mau buat Ibu ku khawatir. Kasihan dia. Nanti makin banyak beban pikiran."
"Turuti aja lah Gam." Pungkas Tuta sembari menepuk pundak Gama.
"Kalian pada lapar gak?" Tanya Tuta.
"Lapar lah!" Ucapku.
"Oke. Biar aku yang beli. Kalian tunggu disini." Belum sempat aku protes, Tuta berlalu begitu Cepat.
Lagi! Dan lagi! Aroma perjodohan ada disini.
Kau mau menjodohkan ku dengan Gama kan?! Ku kirim pesan lewat Whatsapp.
Tak lama ku terima pesan balasan. Ku buka pesan itu. Hanya emoticon tertawa. Uhhh!!!! Dasar Tuta!!!!
"Kok wajah kamu kelihatan kesal Ris?"
"Si cungkring tuh!!! Seenaknya saja!!"
"Si cungkring?" Dahi Gama berkerut.
"Eh. Maksudku Tuta. Maaf. Jadi gak enak hati. Hehe."
" Gak enak kenapa?"
"Dia kan adikmu. Kau pasti tidak suka kalau ku panggil yang aneh-aneh."
"Gak ah. Malah aku senang dia punya teman seperti kamu. Hidupnya jadi lurus."
"Memangnya dulu hidupku bengkok?!" Protes Tuta yang tanpa kami sadari sudah di depan pintu.
"Otakmu yang bengkok!" Sahut ku sambil tertawa.
"Berarti kau yang gila, mau berteman sama orang berotak bengkok!" Sungutnya.
__ADS_1
"Sudah. Mending kita makan. Kalian ini ribut terus." Gama melerai.
Gamaliel. Pria ini memberi kesan aneh di hatiku. Aku pun tidak tahu mengartikan rasa yang perlahan lahan menjalar memenuhi ruang hatiku.