DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
AKU MENCINTAINYA NAMUN DIA MASIH DALAM MASALALUNYA


__ADS_3

hari berlalu sangat cepat meniti setiap detik kehidupan. berjalan begitu saja meninggalkan semua yang lalu dan hadirlah masa depan. semua sudah menjadi suratan dan takdir yang memang sudah tergariskan. bahwa waktu akan tetap melaju tanpa bisa kembali dan tak kan terulang lagi.


******


setelah hari pernikahan cahyo itu, dan mereka kembali ke jawa timur lagi. semua berjalan seperti biasa. namun yang beda, nampak pak rudi dan bu desi tetap di jawa timur untuk sementara waktu. nampaknya bu desi masih betah di sana sehingga pak rudi memutuskan untuk tetap tinggal.


"pekerjaan ibu di jogja nggak papa itu di tinggal?" ucap dewi siang itu.


"pekerjaan ibu tetap berjalan meski tanpa ibu. ibu masih betah di sini. apalagi di temani kamu. ibu sepi di jogja tidak ada teman yang bisa di ajak bercerita seperti kamu." jawab bu desi jujur mengungkapkan apa yang di rasakan.


"dewi juga seneng ibu di sini. jadi ada temen. sepi kalau ibu nggak disini. kan mbak nani masih cuti." tutur dewi sambil tersenyum.


merekapun terus mengobrol sambil memberi makan ikan. sesekali nampak tawa menyelingi waktu mereka.


"kamu dulu kerja apa nduk?" tanya bu desi


"saya dulu ngamen di pantai bu." jawab dewi polos.


"loh kamu bisa nyanyi nduk?" tanya bu desi lagi sambil menatap dewi serius


"ya bisa bu. la dulu saya kerja apa bu selain ngamen." jawab dewi masih dengan polosnya.


"kamu masih ada keluarga?" tanya bu desi lagi. kini nampak serius. dan di balas gelengan kepala.


"tidak bu, dewi tinggal sendiri. pak rifky yang menolong saya dan meminta ikut kerja dengannya. itu mengapa apa saja permintaan beliau pasti saya turuti. sebagi balas budi akan kebaikannya pada saya." tutur dewi dengan senyum manisnya.


"anak itu entah terbuat dari apa jiwanya." guma bu desi sambil menatap jauh di sana rifky yang tengah sortir ikan," bahkan dirinya pemilik perusahaan ini saja masih mau mengerjakan pekerjaan."


"iya bu, dia memang luar biasa." puji dewi.


"kamu menyukainya?" tiba tiba bu desi bertanya hal yang lebih serius.


"ya tidak mungkin bu. saya ini siapa beliau siapa. yo mboten pas bu (ya tidak pas)" ucap dewi tersipu malu.


"suka itu tidak memandang nduk."


"ya tapi itu tidak mungkin bu hehehe" sahut dewi sambil cengengesan.

__ADS_1


mendengar jawaban itu, seolah bu desi memahami hati perempuan karena dia juga perempuan. di peluknya dewi seperti anaknya sendiri. dewi yang berada dalam pelukan bu desi seolah merasakan hangatnya pelukan seorang ibu yang tak pernah ia rasakan. untuk pertama kalinya air mata itu keluar dari dewi yang memang merindukan pelukan seorang ibu.


"kenapa menangis nduk?" tanya bu desi heran.


"pelukan ibu hangat. dewi merasakan kedamaian." lirih dewi.


"anggap aku ibumu nduk. nggak papa. aku ibu mu meski bukan yang melahirkan mu." ucap bu desi membuat dewi semakin terharu akan sikap bu desi.


"terimaksih bu." ucap desi kembali hanyut dalam pelukan hangat bu desi.


"aku akan mencoba menyempurnakan kebahagiaanmu nduk." ucap bu desi dalam hati.


suasana nampak haru. semilir angin yang menyejukkan itu seolah tak mampu mengalahkan pemandangan yang menyejukkan itu.


*******


hari pun berlalu, kesibukan, dan semua bau pekerjaan telah merambat menyusuri setiap inci dan lekuk tubuh yang bermandi keringat.


seminggu telah berlalu semenjak hari itu. roda kehidupan dan semua fase berjalan seperti biasanya. hanya saja siang itu nampak di hiasi pemandangan yang indah. pemandangan yang cerah dan angin yang bertiup sepoi sepoi.


"cukup buatku melihat senyum mu mas, mengagumimu tanpa engkau tau." lirih dewi sembari tersenyum menikmati indah rasa yang ada di hatinya.


sementara itu, nampak di depan mes di tempat santai bu desi dan pak rudi melihat itu semua. mereka tersenyum melihat apa yang di lihatnya. sejurus kemudian nampak bu desi termenung dan...


"kasian anak itu pak. hanya berani menyimpan apa yang di rasakan." ucap bu desi sambil melihat dewi yang tengah mengamati rifky.


"iya bu, andai saja rifky tau semua ini." ucap pak rudi juga yang sama sembari melihat rifky bekerja.


"aku tau betul perasaan dewi pak. melangkah dia tak berani. dia hanya bisa mewujudkan semua kebaikan rifky. yang di pikir hanya itu." keluh bu desi yang di sambut anggukan pak rudi. kemudian,


"nanti bapak ngomong ke rifky. sudah saatnya dia juga berkeluarga. sudah seharusnya juga dia bisa move on. dan bapak yakin belum ada wanita yang singgah lagi di hatinya. biar nanti pelan pelan bapak bilang." putus pak rudi sambil menyeruput kopinya.


******


saat hati menjelang sore, saat semua mahkluk meninggalkan kesibukannya. saat semua orang mulai istirahat melepas rasa lelahnya. saat mentari mulai turun dan melambaikan tangannya. nampak rifky duduk di di pinggir pantai di bawah pohon pines tempat biasa dia melepas lelah.


"sendiri saja ky" tegur pak rudi yang datang menghampirinya.

__ADS_1


"iya pak, menikmati sore seperti ini rasanya damai." sambut rifky sambil bergeser. tak lama kemudian muncul bu desi bersama dewi membawa nampan berisi kopi dan camilan.


"kurang lengkap ky kalau tanpa ini." sahut bu desi sambil menunjukkan kopi. sementara itu dewi menyiapkan tikar.


"wah ini ibu anak kompak banget." serobot pak rudi sambil mengedipkan mata ke arah rifky.


"wah wah ada angin apa ini ya kok tumben" ucap rifky sambil tersenyum.


"ya biar makin komplit aja ky. mumpung suasana mendukung. iya ndak pak?" ucap bu desi sambil melirik ke arah dewi.


merekapun terhipnotis oleh cerita dan suasana senja yang menyejukkan. canda, tawa dan sedikit percakapan serius mengisi waktu itu. sampai ketika hari mulai meremang, nampak pembicaraan semakin serius.


"ky, aku dan sahabatmu itu sudah bahagia. kapan kau akan menyusul?"


"melihat kalian bahagia aku sudah pasti sangat bahagia pak." rifky mengulang jawaban yang sama.


"apa kau akan seperti ini terus? jangan kamu siksa hati kamu ky. bilang adakah gadis yang bisa mengisi hatimu saat ini?"


"tidak ada pak," jawab rifky singkat.


"misal ada gadis yang mau menemanimu dan menjadi pendamping mu apakah kamu mau ky?" pertanyaan pak rudi mulai menjurus dengan inti.


"saya tidak tahu pak. mungkin raga ini bisa menerimanya namu hati saya, saya tidak tahu. saya takut mengecewakan. itu mengapa saya memilih tetap sendiri sampai detik ini." jelas rifky yang memperkuat bahwa hatinya masih tertinggal di masalalunya.


"sesakit itukah mas?" tiba tiba dewi menyela


"tidak, aku tidak merasa sakit. hany saja aku belum bisa melupakan detik bersamanya." jelas rifky lagi.


suasana kembali sunyi tanpa kata yang mampu memecah deru ombak dan angin pantai sore itu. suasana benar menjadi beku. dan sangat sangat beku. semua pertanyaan telah menjadi satu kesimpulan. bahwa rifky masih tertinggal dalam masalalunya.


sampai saat azdan magrib berkumandang, tak ada percakapan yang berarti lagi dan mereka pun beranjak untuk kembali ke mes tempat mereka istirahat.


dalam perjalanan itu, nampak langkah dewi pelan. batinnya terbang menuju suara hati.


"biarlah rasa ini juga menemaniku mas, aku bahagia melihat senyummu. meski hatiku tak mampu menyentuh hatimu. aku mencintaimu mas meski hatimu masih tertinggal di masalalu mu." batin dewi dengan air mata yang mulai mengalir di sudut pipinya.


bersambung,

__ADS_1


__ADS_2