
Kepulanganku disambut dengan senyum bahagia keluargaku. Kupeluk mereka satu persatu. Aku begitu rindu.
Bahagiaku sederhana. Bisa berkumpul dan bercengkrama dengan mereka saja sudah begitu menyenangkan. Seberat apapun jalan yanh harus kutempuh, terasa tidak berarti.
"Kuenya enak Kak." Ucap Sammy dengan mulut yang penuh. Lucu sekali. Kuusap kepalanya.
"Pelan-pelan. Nanti kau tersedak." Sahutku.
"Kakak agak kurusan. Capek ya kak kerjanya?" Ucap Yuda.
"Nggak ah. Biasa aja." Sahut ku lembut.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Muncul sebuah pesan dilayar. Gama...ya itu pesan dari Gama. Tanpa kusadari bibirku menyunggingkan senyum dan wajahku memancarkan binar bahagia.
"Ehemm...!! Pesan dari siapa Ris, Bahagia bener?" Tanya Ayahku dengan sedikit mengulum senyum.
"Teman Pak." Sahutku sedikit malu.
"Ooh...Teman." sahut Ayahku lalu melirik Ibu dengan tatapan penuh arti. Sementara Adik-adiku cekikikan sambil saling menyikut.
"Pasti pacar kakak." Ucap Nanda sambil tersenyum nakal.
"Iiihh..anak kecil sok tau!!! Risa mau kekamar ya.. mau istirahat." Pamitku. Jelas itu hanya sebuah alasan. Aku hanya menutupi rasa malu.
Belum sempat aku beranjak dari duduk, sebuah mobil masuk kepekarangan rumah. Tak lama Tante Dewi muncul. Dan dia duduk dikursi tamu seenaknya. Lancang sekali.
"Udah pulang?! Kok Tante tidak dihubungi?" Wajah angkuh dan licik begitu tergambar diwajahnya.
Aku pun mengurungkan niat untuk pergi kekamar. Aku kembali duduk di kursi tamu.
"Harus ya?!" Jawabku ketus.
"Harus dong. Banyak ya oleh-oleh yang kau bawa." Ucapnya sambil mengambil sepotong kue yang dimeja.
Aku pun segera beranjak kekamar dan mengambil uang yang sudah kupersiapkan sebelumnya. Aku begitu jengah dengan kelakuan Tante Dewi yang seenaknya itu.
"Nih! Tante hitung!"Kuletakkan tumpukan uang seratus ribuan dihadapan Tante Dewi."
Dia mengambil uang itu dan mulai menghitung.
"Lima Juta?! Bunganya mana?!"
"Uang yang ku pinjam kan hanya segitu Dewi!!" Ucap Ayahku.
"Kita kan saudara Wi. Apa kau lupa dengan kebaikan Abangmu. Dia yang biayai kuliahmu dulu." Suara Ibu mulai bergetar.
"Itu kan dulu. Bisnis ya bisnis!"
"Pokoknya sesuai perjanjian, Risa harus menikah dengan Pak Gunardi. Besok akan kubawa dia kemari."
"Tega sekali Kau Dewi!!" Ibuku menangis dipelukan Ayahku.
"Aku tidak setuju!" Bantah Ayahku.
"Kita punya surat perjanjian yang sah. Tiaras materai lagi." Ucap Tante Dewi sambil menunjukan surat perjanjian yang terbubuh tanda tanganku disana.
"Kalau tidak mau, kasih aku uang Lima belas juta lagi dong!!"
"Dewi!!!" Ayahku begitu geram. Dia hendak menampar Tante Dewi.
Segera kucegah. Jika sampai terjadi, maka akan menjadi bumerang bagi kami. Tante Dewi pasti melaporkan ke polisi. Dan ujung-ujungnya dia akan meminta uang.
"Jangan besok Tante. Lusa aja ya." Ucapku.
"Risa..."Serentak orang tuaku berteriak. Wajah mereka begitu terkejut dengan ucapanku. Kukedipkan mataku. Aku memberi kode, jika aku bisa mengatasinya.
__ADS_1
"Benarkah?! Pak Gunardi pasti senang sekali. Dia sudah lama mengincarmu." Tante Dewi tersenyum penuh kemenangan.
"Kau tidak menipuku kan?! Jangan pikir kau bisa kabur." Ancamnya.
"Aku selalu memegang ucapanku Tante."
"Baiklah. Bersiap-siap ya cantik. Lusa kami datang untuk perkenalan." Dia pun beranjak pergi.
Sepeninggal Tante Dewi.....
"Kenapa kau menerimanya, Nak?" Ucap Ibu sambil berlinang air mata.
"Lebih baik kita jual rumah ini, atau ladang kita." Tambah Ayahku.
"Bapak sama Mamak tenang saja. Risa bisa mengatasinya." Ucapku meyakinkan mereka. Sekaligus juga untuk diri ku sendiri.
Jujur saja aku juga belum tau, tindakan apa yang harus ku ambil. Aku juga sangat bingung.
Menikah dengan tua bangka itu! memikirkannya saja aku merinding. Menikah dengan anaknya pun aku tidak sudi. Mereka sama-sama ********. Sok berkuasa! suka menindas warga yanh lemah! Anak gadis dikampung ini banyak dirusak oleh mereka. Sebagai alat pembayar utang orang tua mereka. Mereka bekerja sama dengan Tante Dewi.
"Pak..Mak..Akan ku pikirkan jalan keluarnya. Percaya ya sama Risa. Rumah dan ladang merupakan peninggalan nenek dan kakek. Harus kita jaga."
"Baiklah Nak." Ucap Ayahku.
Malam harinya, Dikamar...
Aku tidak bisa tidur sama sekali. Pikiranku begitu mumet. Aku begitu gelisah. Otakku bekerja dengan keras. Apa yang harus kulakukan?
Mencari pinjaman bukan solusi yang tepat. Pak Gunardi pasti menjanjikan sesuatu yanh besar kepada Tante Dewi. Jadi walaupun aku bisa membayar, Tante Dewi pasti mencari cara lain.
Ahhh!!! Aku pusing sekali.
Hari yang kujanjikan telah tiba. Suasana begitu suram. Tidak ada senyum diwajah-wajah orang yang kukasihi.
Mereka datang begitu cepat. Sekitar pukul sepuluh pagi.Para tetangga mulai berbisik-bisik. Sudah pasti menggunjingkan keluargaku.
Pak Gunardi membawa begitu banyak makanan dan pakaian lengkap. Seperti seserahan.
"Sebentar ya." Jawab Ibu. Raut wajahnya begitu khawatir.
Aku pun keluar kamar dengan menggunakan kemeja berwarna kuning lembut yang longgar serta celana jeans hitam.
"Waahh...cantik sekali. Manis. Duduk dekat Abang sini." Ucap Pak Gunardi sambil menepuk kursi disebelahnya.
"Maaf. Belum sah!" Sahutku ketus. Aku memilih duduk didekat Ibuku.
"Tidak berdandan saja, kau begitu manis. Tidak salah pilih aku."
"Namanya juga keponakanku Bang."Tante Dewi menimpali.
Aku begitu jijik mendengar semua ocehan manusia biadab ini. Namun tiba-tiba...
"Permisi." Terdengar suara didepan pintu.
Kami pun menoleh dan betapa terkejutnya aku ketika yang kulihat adalah Gama. Aku pun reflek berdiri dan menghampiri.
"Ka..Kamu kapan sampai?" Tanyaku antara senang dan takut bercampur.
"Jadi benar kata orang-orang didepan, kalau kamu mau menikah!" Wajah Gama begitu marah.
"Aku bisa jelaskan!"
"Aku kecewa sama kami!" Gama pun berlalu pergi. Aku ingin mengejarnya, tapi Tante Dewi menahanku. Aku tidak punya pilihan lain.
"habis ini aku akan menjelaskan semuanya Gam."Ucapku dalam hati.
__ADS_1
"Sayang, gak boleh begitu didepan calon suami ya? Abang cemburu lho." Ucap Pak Gunardi dengan tatapan genit. Rasanya aku ingin muntah mendengar ocehan tua bangka ini. Aku kembali duduk.
"Sebelum Bapak melangkah lebih jauh, aku ingin mengatakan sesuatu." Ucapku.
"Apa itu Adik manis?"
Kutarik nafas panjang berulang kali. Aku berdoa supaya cara ini sukses. Kubuka bajuku dengan cepat. Aku hanya mengenakan tank top bertali agak lebar.
Semua orang yang berada di ruangan terpekik melihat tubuhku yang penuh tato. Semalam aku menjumpai temanku yang bekerja sebagai pembuat tato. Tentu saja yang dibadanku bukan tato sungguhan. Entah tinta apa namanya aku tidak tahu. Yang pasti tato ini bisa dibersihkan.
"Bapak yakin menikah denganku?" Tanyaku.
"Bukannya kau gadis lugu dan polos?!"
"Lugu? kata siapa?" Sahutku mulai merasakan celah kemenangan. Aku tau jika Pak Gunardi suka gadis lugu yang masih polos.
"Risa! jangan coba-coba menipu Kami! Kau tidak mungkin begini" Ucap Tante Dewi.
"Ha..ha..ha...Kenapa Tante terkejut? Tante lupa kalau aku suka karate? Sabuk hitam lho Tan...Jadi Aku gaulnya kebanyakan sama laki-laki."
"Apa kalian tau jika...." Belum sempat Tante Dewi menyelesaikan ucapanya, Ayahku pun berkata:
"Kami juga terkejut Wi. Apa semua ini Risa? Kami tidak pernah mengajarkanmu yang tidak baik!"
Orang tuaku mulai mengikuti permainanku. Rencanaku berjalan dengan baik.
"Gimana Pak? Masih mau lanjut? Sebenarnya aku tau lho rahasia bisnis Bapak."
"Apa maksudmu?"
"Ehemm..Bapak buka bisnis Judi kan di warung ujung desa? Kan itu ilegal Pak.."
"Jangan sok tau!" Bentaknya.
"Aku punya informan yang akurat lho... Apa Bapak berani kita cek kesana? Tapi polisi juga harus ikut dong. Sekalian juga rumah bordir Bapak yang terselubung itu. Tante Dewi juga terlibat disana."
"Kau mengancamku!" Ucapnya marah.
"Aku tidak suka mengancam Pak. Aku lebih suka bertindak langsung. Anda tidak begitu mengenal saya Pak Gunardi!!" Ucapku dengan tatapan dingin.
"Aku punya teman-teman yang tidak pernah anda bayangkan. Silahkan Bapak pilih.." Tambahku lagi.
"Baiklah! Aku tidak akan mengusikmu dan keluargamu. Ayo kita pergi!!"
"Risa!! Kau lihat surat ini?! Aku akan menuntutmu jika pernikahan ini batal!" Ancam Tante Dewi.
"Silahkan! Itu yang kutunggu. Polisi akan datang dan mulai menyelidiki. Waahh!! Aku tidak sabar. Sekalian undang wartawan seru kali ya....Biar sepupuku bisa tau kelakuan Orang tuanya!!!" Tantangku.
"Sudah Dewi!! Kita pulang!" Ucap Pak Gunardi. Mereka pun beranjak pergi.
Ahhh...Lega rasanya. Kami pun tersenyum penuh kemenangan.
Gama!!! Ingatanku kembali ke pria tampan itu. Ku ambil ponsel dan kuhubungi dia. Berkali-kali, tapi tidak ada jawaban.
Wajahnya yang penuh kemarahan masih jelas kuingat. Bagaimana ini? Masa nasib cintaku hanya seumur jagung....
Baru selesai masalah yang satu, datang lagi masalah baru.
Ku kirim pesan padanya
(Yank...aku mau jelasin semua. Ketemu yuk )
Tak lama pesanku di balas
(Semua sudah jelas! Semoga bahagia.)
__ADS_1
Seketika aku lemas. Hatiku terasa nyeri.