
Hari kini terus berlalu. Tak terasa semua terlewati begitu cepat. Walaupun tak secepat jet atau pesawat tempur, namun kehidupan yang telah lalu memang cepat berlalu.
Hari itu, usia kandungan Dewi telah menginjak usia ke 9 bulan. Tanda-tanda kelahiran itu mulai terlihat yang akhirnya Dewi pun masuk dalam ruangan bersalin.
Sementara itu, napak Rifky masih tergolek tanpa tanda-tanda akan bangun. tubuhnya semakin kurus dan kulitnya pucat seperti mayat hidup. Jiwanya melayang dalam bawah sadar meninggalkan raga yang memang sudah lama di tinggalnya tanpa kepastian.
'di mana aku kini, dunia seperti tak berujung. Kemana orang-orang yang selama ini menemaniku? kenapa aku di sini sendiri? Istriku dimana kamu? kemana kalian semua?' Rifky berbicara seorang diri sambil terus berjalan. Langkah terus membawanya ketempat sunyi tak berpenghuni. Seolah seperti dia berjalan namun tak berpindah tempat.
'ibu? Ibu apakah itu kamu? ini ananda Bu. Ananda merindukan Bunda' Jerit Rifky yang melihat sosok yang Bukan lain adalah ibunya sendiri.
"Kenapa kamu disini? Duniamu dan dunia ibu jelas tak sama. Kembalilah nak, anak istrimu sudah menantimu. Ibu juga merindukanmu, namun kamu harus tetap hidup. Anak istrimu sudah lama menunggumu." Ucap Ibu Rifky yang kemudian menghampiri Rifky dan memeluknya. Rifky tak mampu berkata dan hanya hanyut dalam pelukan hangat Ibunya yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Meskipun kita tidak akan bersama namun percayalah ibu selalu ada dalam hati dan jiwamu. Pulanglah, kasihan anak dan istrimu." Tuturnya lembut menghangatkan hati dan jiwa Rifky.
"Rifky selalu ingin bersama dengan ibu."
"Ibu pun sama, bersabarlah dan lanjutkan ceritamu. Suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Pulanglah Ibu selalu menunggumu di sini."
Buliran air mata menemani langkah dan pelukan yang mulai memudar dan menyisakan genggaman kosong. Bola mata yang tadi terpejam menikmati hangat pelukan seorang ibu kini perlahan membuka dan menyaksikan langit-langit yang jelas berbeda. Rifky terbangun dari tidur panjangnya.
"Mas, Mas Rifky bangun mas." Pekik Nani yang melihat Rifky dalam kebingungan.
Tanpa berkata setelah melihat Rifky sadar, cahyo langsung memanggil Dokter yang merawat kesehatan rifky. Dan tak lama pun Dokter itu datang langsung memeriksa Rifky.
"Subhanallah, ini memang sebuah mukjizat yang tak pernah di sangka." Ucap Dokter itu dengan senyum nya yang menandakan sebuah hasil yang baik.
__ADS_1
"Dimana Istri saya Dokter? Apakah dia baik-baik saja?" Suara itu lirih namun jelas terdengar.
"Tentu dia baik-baik saja tuan. Dan cepatlah pulih, sebentar lagi keluarga kalian akan bertambah." Jawab Dokter itu sambil tersenyum. "Istri anda sedang dalam ruangan persalinan." Lanjutnya.
"Bolehkah saya menemaninya?"
"Tentu saja kalau itu membuat anda merasa lebih baik."
Singkat ceritanya dengan menggunakan kursi roda, Rifky di bawa masuk kedalam ruangan persalinan Dewi. Sontak saja Dewi nampak kaget dan seolah tidak percaya.
"Mas."
"Iya Dik, aku datang menemanimu. Aku yakin kamu bisa." Lirih Rifky yang nampak masih lemas bersandar di kursi roda. Dewi nampak tersenyum dan memegang tangan Rifky. Buliran keringat yang sejak tadi keluar kini seolah menjadi sebuah tenaga baru. Semangat dan perjuangan untuk melahirkan seorang anak kini pun seperti mendapat cahaya dan sepertinya pula anak yang kini masih dalam perut Dewi seolah tak sabar ingin keluar dan menyapa ayahnya yang lama tertidur itu.
"Oeee,,,, oeeee, oeee." Dan akhirnya Lahirlah anak laki-laki yang sembilan bulan itu ada dalam perut Dewi.
Dewi tersenyum bahagia. Dikecupnya tangan Rifky dengan senyum yang seolah melebur semua rasa sakit dan letih kala itu. Semula keraguan yang membuatnya putus asa karena melahirkan tanpa mataharinya, kini terbayar sempurna. Tuhan seolah mendengar semua doa-doanya.
Sementara itu di tempat lain.
Dengan tenang nampak Pak Rudy duduk dalam persidangan kasus yang menimpa Rifky. Dengan tenang pula dia mendengarkan hasil dari keseluruhan sidang yang di bacakan oleh hakim. Dia yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Semua usahanya dan melihat semua yang di jalaninya membuatnya yakin kalau memang Rifky tidak bersalah dalam perkara ini.
"Semua bukti dan pembelaan yang telah kami peroleh dan sudah kami pelajari mengenai perkara yang menimpa saudara Rifky dan saudara Dimas. Dan semua persyaratan yang benar mengarah untuk pembelaan dari saudara Rifky juga sudah kami terima baik saksi maupun semua buktinya.
Semua yang di lakukan saudara Rifky mengarah kepada sebuah tindak mencuri hak hidup seseorang dilakukan karena terpaksa untuk melindungi diri dan keluarga. Semua di lakukan karena unsur harus membela diri dari ancaman korban yang bernama Dimas.
__ADS_1
Menurut Pasal 49 KUHP, yang berbunyi:
1) Tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta Benda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu yang melawan hukum.
2) Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsung disebabkan oleh keguncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak dipidana.
Maka dari itu, hasil dari persidangan ini menyatakan bahwa saudara Rifky dinyatakan tidak bersalah."
"Tok tok tok!!!" Suara itu mengakhiri keputusan sidang hari itu.
Ucapan syukur pun berulang kali terucap dari mulut pak Rudi. Dan rasa tidak sabar menyampaikan hasil sidang itu, membuatnya langsung pulang dan segera mengabarkan berita bahagia itu.
Kembali ke rumah sakit. Nampak kini bayi kecil mungil dan tampan itu, tengah berada dalam pangkuan Rifky. Mata yang sipit, hidung pesek dan bibir yang imut itu, seolah tengah menanti asma Allah yang terucap dari suara ayah yang tengah memangku nya.
'Allahu akbar Allahu akbar'
Lirih namun teramat merdu membuat siapapun yang mendengarnya terasa adem. Nampaknya itu juga di rasakan oleh Dewi yang masih terbaring. Suara merdu yang lama tidak ia dengar itu kini seolah membawanya hanyut dalam kerinduan yang terobati.
Dulu, suara merdu itu telah menjadi candunya dan kini, kembali lagi ia mendengarnya. Dulu teramat adem ketika mendengarnya saja, kini suara pemiliknya pun sudah menjadi miliknya.
"Tok tok tok!!!!!" Ketukan pintu itu membuyarkan lamunan Dewi.
Tak berapa lama setelah ketukan itu, pintu pun terbuka bersamaan dengan masuknya Pak Rudi, bu Desi, Cahyo, Pak Soleh, Putri dan suaminya. Nampak Bu Desi yaang langsung berhambur ke arah Rifky dan meraih bayi mungil yang langsung berada dalam gendongannya. Sementara yang lainnya duduk di kursi dan mengitari tempat tidur Dewi.
"Biar lengkap, saya beritahukan bahwa hasil sidang hari ini selesai dan hasilnya menyatakan bahwa Rifky bebas dan tidak bersalah." Ucap Pak Rudi yang membuat semua orang di ruangan itu berkali-kali mengucapkan rasa syukur.
__ADS_1
Matahari yang sempat redup itu kini nampak bersinar terang. Mendung-mendung yang sekian lama menutupi seketika lenyap. Hari baru sepertinya telah di mulai kembali bersama dengan kelahiran anak pertama Dewi dan Rifky, terbangunnya Rifky dan kabar persidangan yang baik. semua seolah menegaskan bahwa duka pasti berlalu.
maaf buat pembaca semuanya karena belakangan ini banyak kegiatan jadi membuat sedikit telat updatenya. terimakasih untuk yang tetap menanti updatenya DAWAI KEHIDUPAN INI.