
"Hallo pak." Ucap Rifky kala telepon tersambung.
"Iya Ky hallo, ada apa Ky?" Jawab pak Rudi di seberang sana.
"Rifky minta restu bapak. Besok Rifky dan Dewi menikah pak." Sahut Rifky dengan nada seperti berat.
"Menikah? Apa bapak tidak salah denger ini Ky?" Ucap pak Rudi nampak tidak percaya.
"Benar pak, semua memang seperti terburu. Namun, semua ini ada alasannya." Jelas Rifky.
"Apa kamu yakin?" Ucap pak Rudi yang masih belum yakin.
"Kenapa bapak tanya seperti itu? Apakah Rifky terlihat ragu?" Rifky nampak gugup di saluran telepon.
"Menikah itu sakral Ky, bukan hanya sekedar permainan. Ada sebuah janji yang tidak hanya sekedar di ucapkan. Kamu tau itu kan? Sekarang kamu katakan apa alasanmu menikah. Atas dasar apa kamu menikah Ky?"
Rifky terdiam seolah menerima cambuk. Ucapan pak Rudi itu benar mengusik pikirannya. Bukan karena apa, namun dasar kasihan bukan alasan yang tepat untuk di ucapkan.
"Apa yang ingin kamu katakan Ky? Ceritakan Ky, bapak tau ini bukan kamu yang bapak kenal." Ucap pak Rudi membuyarkan lamunan Rifky.
Dengan pelan Rifky ceritakan semuanya. Dan pak Rudi pun mulai memahami.
"Aku hanya bisa mendoakan Ky, mungkin memang dia jodohmu." Ucap pak Rudi di akhir percakapan.
Setelah panggilan berakhir, suasana hati Rifky belum juga reda. Gejolak kian memuncak, keputusan yang di ambilnya dan ucapan sudah tidak mampu lagi di tarik. Dalam hati Rifky hanya berdoa dan berharap kalau ini semua sudah jalan hidupnya.
"Kak," Suara Dewi membuyarkan lamunan Rifky.
"Iya dik kamu sudah bangun. Kamu pengen apa biar kakak ambilkan." Ucap Rifky sambil memegang tangan Dewi yang masih terbaring di ranjang rumah sakit itu.
"Tidak, adik Tidak pengen apa-apa." Ucap Dewi sambil memandang lekat wajah Rifky. Dewi tersenyum tipis.
"Kakak beneran serius mau menikahiku?" Dewi kembali meyakinkan akan keputusan Rifky.
"Apakah adik tidak mau menikah denganku?" Rifky berbalik tanya. "Menurut ku, sudah tidak saatnya lagi untuk membuang waktu hanya untuk sekedar pacaran. Antara kamu dan aku sudah saling mengenal lalu apa lagi?"
"Kak, aku sayang kakak. Tapi aku tau hati kakak bukanlah untukku. Masih ada kak Ningsih di hati kakak." Lirih Dewi.
"Maukah kamu menunggu sampai hati ini hanya ada nama mu?" Tanya Rifky sambil memegang tangan Dewi.
__ADS_1
"Aku masih tetap menunggu kak. Jujur mendampingi mu kak aku sudah bahagia." Tutur Dewi sambil tersenyum tipis.
"Terimakasih dik. Cepat sembuh ya. Besok kita akan menikah di sini. semua sudah di atur oleh Cahyo. Kalau kamu sudah sembuh baru nanti di rayakan."
"Aku tidak ingin meriah kak. Sederhana saja aku sudah bahagia."
Malam pun ikut bahagia mendengar ungkapan dua hati itu. Seolah semua sudah tergaris meski dalam suasana yang tidak baik. Dewi yang terbaring dengan kondisinya itu seolah mendapat ribuan bunga yang membungkus hatinya.
******
Pagi harinya, nampak Cahyo sudah datang di rumah sakit. Kedatangannya bukan lain bukan tidak untuk menemui Rifky. Membahas tentang pernikahan.
"Boy, sepertinya pernikahanmu di undur. Hari ini jadwal KUA sangat padat." ucap Cahyo sambil berbisik. Namun rupanya masih terdengar oleh Dewi.
"Tidak apa apa mas. Biar lebih matang persiapan kami dulu. Lagi pula aku masih belum sanggup buat bangun." Lirih Dewi.
"Usahakan paling lama 5 hari dari sekarang boy." Tegas Rifky yang membuat Cahyo tak berkutik selain mengiyakan.
Melihat Cahyo seperti itu lantas Dewi menarik nafasnya, "Kenapa mesti terburu buru mas? Aku pasti cepet sembuh kok. Aku percaya kamu mas." Ucap Dewi.
"Baiklah aku ikut saja." Ucap Rifky pelan yang di sambut senyum Cahyo. "Aku hanya tidak mau kamu merasa sendiri. Ada aku kan di sini." Kali ini untuk pertama kalinya Rifky menurunkan volume suaranya.
Semua seperti teka teki, memendam hati dan ketika muncul seolah seperti dadakan. Memang sangat membahagiakan namun, semua terasa begitu cepat.
Suara ketukan pintu itu, membuat canda tawa sejenak terhenti. Di tambah lagi yang datang adalah pak Narto. Sebesit tanda tanya pun menari nari di kepala Rifky, Dewi maupun Cahyo. Walaupun semua itu akhirnya terungkap dengan kalimat sapa dari pak Narto yang menanyakan kabar Dewi.
"Bapak denger kemarin kamu jatuh sakit dan dirawat di sini. Baru sekarang bapak bisa jenguk. Sekarang bagaimana kondisimu Nduk?" Ucap pak Narto.
"Alhamdulillah sudah mendingan pak. Dewi sudah ingat semuanya sekarang." Ucap Dewi di temani dengan senyum tipisnya. "Bagaimana kondisi kak Ningsih sekarang pak?" Lanjut Dewi balik bertanya.
"Masih belum berubah Nduk. Kalau sudah membaik bapak akan merawatnya di rumah." Lirih pak Narto, "Semua sudah bapak serahkan Nduk. Biar Allah yang mengatur semuanya."
"Begitu pelik hidup kak NIngsih." Ucap Dewi sambil melirik ke arah Rifky.
"Semua itu sudah tergariskan. Bukankah kita hanya menjalani." Saut pak Narto. "Ya sudah kamu cepet sembuh. Bapak balik ke ruang Ningsih dulu." Lanjut pak Narto kemudian pamit dan keluar.
Setelah kepergian pak Narto itu, tidak ada percakapan sedikitpun. Baik Rifky maupun Dewi. Mereka hanya saling menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Sedang Cahyo, dia sendiri bingung seolah canggung.
"Mas Cahyo, boleh Dewi bicara sebentar berdua dengan mas Rifky?" Ucap Dewi membuka keheningan.
__ADS_1
"Oke dik, aku cari makanan dulu. Kalian mau makan apa biar aku bawain sekalian." Ucap Cahyo yang seolah mengerti kondisi.
"Aku pengen masakan padang mas. Kalau kak Rifky?"
"Aku ikut saja." Sambar Rifky sambil mengeluarkan uang yang kemudian di berikan ke Cahyo.
"Siap." Sahut Cahyo yang kemudian berjalan keluar meninggalkan Dewi dan Rifky berdua.
"Mas," Ucap Dewi setelah beberapa saat Cahyo pergi.
"Iya dik. Kamu mau bilang apa?" Sahut Rifky.
"Apa mas beneran mau menikahiku?"
"Kamu bertanya itu lagi. Ada apa dik?"
"Mas, dari dulu aku menyukaimu. Walaupun kamu tidak mengenalku. Semua cerita mu aku tau mas. Bagaimana hubungan kamu dengan kak Ningsih aku juga tau. Aku dari dulu sangat mengagumimu, sangat sangat mengagumimu, meskipun hanya melihatmu dan mengenalmu dari jauh."
"Lalu?" Potong Rifky.
Dewi menatap lekat wajah Rifky dengan senyum manisnya.
"Aku tau sampai detik ini rasa sayang itu belum surut. Tapi mengapa mas memilihku sebagai pendamping mas?"
"Karna aku melihat cinta tulus mu." Jawab Rifky singkat.
"Meski hanya pelarian, Aku tetap bahagia bisa mendampingi mu mas. Aku selalu bilang, meski hanya bisa melihat senyum mu aku sudah bahagia. Dan sekarang kamu memilihku sebagai pendamping mu. Aku sangat bahagia mas." Tutur Dewi masih sambil menatap lekat wajah Rifky.
"Pernikahan itu bukan pelarian dik. Aku memilih mu sekali lagi karna aku melihat cinta tulus mu." Jelas Rifky.
"Terimakasih mas. Dan aku akan tetap menunggumu dan cinta mu benar utuh untuk ku."
"Terimakasih dik. Aku akan selalu menjagamu." Ucap Rifky sambil mengecup tangan Dewi.
"Ehem!!!!"
Suara cahyo itu merusak suasana.
"Kau merusak suasana saja boy." Dengus Rifky manyun.
__ADS_1
"Aw rupanya kita mengganggu ini." Serobot Nani yang ternyata datang tepat di belakang Cahyo.
Merekapun tanpa di komando tertawa secara bersamaan.