
Gimana guys....?!
dilanjut yaa...please di coment
Aku tiba didepan rumah. Aku melirik jam ditangan ku. Ternyata hampir setengah delapan.
"Aku pulang." Kataku.
Aku disambut adik bungsu ku Sammy yang berusia 9 tahun.
"Kakak bawa makanan ya?!" Dia langsung meraih bungkusan ditangan ku. Dia pun berlari memanggil ibu dan kedua saudaraku yang lain. Nanda dan Yuda nama mereka.
Yuda berusia 16 tahun sementara Nanda berusia 13 tahun.
Mereka melahap habis sate padang yang ku bawa. Melihat mereka senang hatiku pun terasa hangat. Sangat mudah membuat keluarga ku bahagia pikirku.
Sekilas aku melihat mata ibuku agak merah. Seperti baru saja menangis. Jika aku bertanya pun, ibu tidak akan pernah jujur. Karena memang pada dasarnya dia memiliki sifat seperti ku. Dia selalu menyembunyikan rasa sakit, sedih maupun lelahnya.
"Mak. Risa udah gajian. Ini Mak." Ku sodorkan uang sebesar 400.000.
"Uang beli bedak Mak."Candaku. Aku berharap pemberianku bisa manghapus sedikit lukanya.
__ADS_1
Dia pun tersenyum dan berkata "Makasih ya sayang."
Aku mengangguk dan pamit untuk masuk kamar. Aku tahu uang itu tidaklah besar dan uang itu tidak akan pernah dipakai untuk keperluanya sendiri. Tapi setidaknya dengan uang itu bisa mengurangi bebannya walau hanya sedikit.
ENAM BULAN YANG LALU
Sore kala itu, aku mendapati ibu ku menangis di dapur sendirian. Aku yang baru pulang kuliah merasa heran.
Aku langsung menghampirinya. Karena ku pikir dia sedang sakit.
"Mamak kenapa?" Ucapku lirih.
Aku tidak kaget. Karena sebulan lalu aku tanpa sengaja membaca pesan mesra di ponsel Ayahku.
"Aku sudah tahu Mak." Pungkas ku.
Dengan wajah terkejut Ibu bertanya "Kapan kamu tahu!? kok bisa?!" Garis halus diwajahnya semakin jelas terlihat. Aku pun menceritakan semuanya.
"Aku bingung Mak. Aku gak mau liat mamak sedih. Makanya aku memilih untuk diam." Aku menunduk berusaha untuk tidak menangis.
Dia memeluk ku. "Cukup hanya kita yang tahu ya nak. Adik adik mu jangan sampai tahu."
__ADS_1
"Kenapa mak?!" Protes ku.
"Adik adik mu masih terlalu kecil Risa. Kasian mereka. Lagipula Mamak tidak mau Bapak kehilangan rasa hormat dari anak anak nya. Dia tetap kepala keluarga kita. Mungkin dia hanya khilaf."
"Tapi Mak....."
"Risa. Bapak sudah minta maaf. Dia sampai sujud Ris. Dia sudah janji tidak akan begitu lagi.Mamak hanya punya kamu yang bisa Mamak andalkan. Mamak mohon."
Dengan terpaksa Aku pun mengiyakan permintaannya. Tapi sejujurnya aku tidak bisa terima.
Memang tingkah Ayahku berubah beberapa bulan ini. Dia menjadi gampang marah. Angkuh dan semakin jarang makan dirumah. Ketika makanan tidak sesuai selera, Dia akan marah dan pergi.
Dia semakin pelit bahkan terlalu pelit menurutku. Padahal bisnis jual beli telur yang dirintisnya mulai membuahkan hasil.
Dia suka membentak jika ibu atau adik adik ku meminta uang. Bahkan untuk uang sekolah sekali pun.
Padahal dulu yang jadi tulang punggung keluarga adalah Ibu. Dia menggarap lahan kami sendirian. Disela sela itu dia bekerja sebagai buruh tani di ladang tetangga. Tidak heran jika tubuh ibuku agak kurus dan terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.
Dengan semua itu, aku harus memaafkannya?! Aku harus tetap hormat?! Apa aku bisa?! Entah lah.
Aku rasa Ibu ku dibutakan oleh cinta. Persetan dengan pernikahan.
__ADS_1