
Aku melangkah dengan malas. Kembali kulihat isi pesan Panji. Cafe IBOB menjadi tempat pertemuan kami.
Awalnya Panji menawarkan Taman Kota sebagai tempat pertemuan. Tapi aku menolak karena terlalu sepi menurutku. Aku takut nanti terjadi fitnah. Aku takut nanti dituduh menggoda calon suami orang.
"Sempurna." Ucapku dalam hati ketika kulihat suasana cafe yang ramai. Aku memang sengaja mengatur waktu dipukul 4 sore. Karena aku tahu cafe pasti akan ramai.
Kuhampiri panji yang sudah tiba terlebih dahulu.
"Aku tidak punya waktu banyak!!" Ucapku ketus. Lebih tepatnya aku mencoba menyembunyikan rasa gugup ku. Jauh di hati kecil ku masih terselip rindu.
Di meja kami sudah tersedia dua teh tarik. Dia sengaja memesan minuman kesukaan ku pikirku dalam hati.
"Maaf Ris." Panji tertunduk.
"Tidak perlu!" Pungkasku.
__ADS_1
Hening. Lama dia terdiam dan perlahan dia mengangkat wajahnya.
"Aku mencintaimu. Bahkan sampai detik ini. Aku harap kita masih bisa selalu bertemu. Tolong jangan abaikan telfon ku ya?" Ucapnya lirih. Seketika darahku mendidih.
"Dasar gila! Kau akan menikah! Aku tidak mau!" Dadaku bergejolak.
"Aku mohon." Pintanya.
Rasanya aku tidak percaya. Entah setan apa yang hinggap di kepala pria ini.
" Kamu bukan orang ketiga. Kamu yang lebih dulu ada dihidupku."
"Yaa. Sampai kau selingkuh dengannya. Kalian bersekongkol menjalin hubungan dibelakang ku. Dan Dia calon istri mu itu dengan gampangnya berpura pura menjadi sepupu mu! Agar bisa dekat dengan ku dan mencari tahu tentang hubungan kita!" Tubuhku bergetar hebat. Aku putuskan untuk menumpahkan semua isi hati ku yang sudah lama ku pendam.
Panji hanya terdiam.
__ADS_1
"Aku pernah memaafkan mu dulu. Melupakan pengkhianatan dan semua kebohongan mu. Tapi diam diam kau masih berhubungan dengannya dan kau akan menikah dengannya!!" Ku tatap panji dengan tajam.
"Tapi rasa sayang ku jauh lebih besar untuk mu Ris. Awalnya kudekati dia untuk mengusir kesepian ku. Karena kamu begitu sibuk kuliah dan kerja. Tapi akhirnya aku juga sayang padanya. Dia bisa menerima kalau aku punya kamu."
"Tutup mulut kotormu itu panji!" Bentak ku. Aku tidak habis pikir dengan bahasanya yang sok lembut dan menyebutku dengan kata kamu?! Cihhh!!!! Aku benar benar meledak kali ini.
"Aku peringatkan kau!!! Jangan pernah mengganguku lagi! Jangan pernah mencoba menelfon atau apapun itu! Apalagi menjumpai keluarga ku. Akan kuhabisi kau!" Aku pun beranjak. Panji terperanjat. Wajah nya begitu terkejut sampai dia tidak sadar kalau mulut nya menganga. Dia sama sekali tidak percaya jika aku bersikap begitu keras padanya. Aku memang tidak pernah menunjukan sisi keras ku padanya. Tapi aku rasa ada gunanya juga aku punya sikap sedikit brutal.
Aku pergi dengan senyum kemenangan. Ada rasa puas dan lega dihatiku. Padahal beberapa hari yang lalu aku masih menangis mengingat dirinya.
Tapi hari ini aku merasa beruntung tidak berjodoh dengan laki laki yang tidak setia seperti dia.
Biarkan saja dia menikah. Biarkan saja wanita itu merasa menang. Ya wanita itu memang pernah menghinaku. Mengataiku dengan kata gadis murahan, miskin, ******* dan bla bla bla..... Biar waktu yang akan menjawab semuanya.
Sudah cukup aku membuang waktuku dengan hal yang tidak berguna. Aku harus kembali fokus pada impian dan cita cita ku.
__ADS_1