DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
PERANG DIMULAI


__ADS_3

:-):-)hi...readers...mohon kritik nya yaaa..


makasih udah mampir :-) :-)


Seminggu sudah Aku keluar dari rumah sakit. Keberangkatanku ke kota M diundur beberapa hari ke depan.


Aku sedang memberi training untuk anak baru, penggantiku di SPBU. Memang sudah menjadi aturan. Jika ingin berhenti, akan menjadi tanggung jawab kita mentraining anak baru terlebih dahulu.


Saat aku pulang dan tiba di depan rumah mungilku. Kulihat sebuah mobil mewah terparkir di depan. Aku sangat mengenal mobil itu. Tante Dewi!!!


Aku pun bergegas masuk. Tante Dewi dan ke dua orang tuaku sedang duduk berhadapan di kursi tamu. Aku merasa pasti ada yang tidak beres. Itu jelas tergambar diwajah kedua orang tuaku.


"Ngapain Tante ke sini?" Tanyaku ketus. Aku pun langsung duduk di sebelah ibu ku.


"Silaturahmilah Ris."


"Cih!!! pasti ada maunya. Dia pasti punya niat buruk." Ucapku dalam hati.


" Bisa kami bicara bertiga Risa?" Pintanya


" Kenapa aku tidak boleh ikut nimbrung? Aneh!!!" Ucapku.


Ku lihat Tante Dewi sedikit gelisah. Dia sangat tau tabiatku yang keras. Aku tidak gampang diintimidasi oleh nya.


Aku yang lembut dan ramah bisa saja tiba-tiba berubah galak dan tegas dalam bersikap. Dia sangat tau jika aku tidak gampang dibodohi.


"Tante mau bicara soal masalah orang dewasa, Nak." Ucapnya berusaha selembut mungkin.


"Sok lembut!! jijik!!! Hatiku berkata.


"Aku juga sudah dewasa, Tan." Sahutku tidak mau kalah.


"Tapi..."


"Aku anak tertua di rumah ini! jadi aku berhak tau atas apapun yang ingin Tante sampaikan kepada orang tuaku." Ku potong ucapannya.


Ku lirik kedua orang tuaku. Mereka tampak begitu khawatir dan resah.


"Aku kesini mau nagih utang!" Sahutnya kemudian.


"Kami belum punya uang Dewi." Jawab Ayahku lirih.

__ADS_1


"Ini sudah hampir setahun Bang! Bunganya aja sudah lebih besar!" Nada suaranya terdengar mengejek.


Aku hanya diam mengamati suasana. Aku harus paham dulu situasinya. Agar aku tahu harus bersikap seperti apa. Biarkan saja dia merasa menang dulu. Itu rencanaku.


"Pasti kami bayar. Bersabarlah. Aku Abang mu." Sahut Ayahku. Ibuku hanya diam dan berusaha menahan tangis.


"Sabar! Sabar! Sampai Kapan!" Suaranya sengaja di besarkan. Aku tahu tujuannya. Agar tetangga dengar dan kami malu.


"Eehemm. Tante, tolong suaranya." Kataku dengan nada suara dingin dan tatapan tajam.


Kulihat nyalinya sedikit menciut. Aku hanya tersenyum tipis.


"Kalau begitu, akan ku jual kios peninggalan Ibu!" Ancamnya.


"Jangan Dewi. Kios itu sangat berarti untukku. Pesan terakhir Ibu, itu jangan di jual. Ku mohon." Ayahku pun berlutut.


Hatiku berdenyut perih melihatnya. Tapi belum waktunya aku bicara. Sabar Risa....Sabaarr....


"Sudahlah Bang! Serahkan saja sertifikatnya."


"Tidak, Dewi! Aku sudah terlalu banyak mengalah padamu. Hasil penjualan sawah tidak pernah ku minta sepeser pun. Tapi uang Lima juta kau tagih?! Keterlaluan!!" Ucap Ayahku.


Aku gerah melihatnya. Aku sudah tidak tahan dengan semua sikapnya yang seenaknya itu.


"Pak. Berdirilah." Ucapku kemudian.


"Kasih kami waktu Tan." Tambahku lagi."


"Enak saja!! Tapi...sebetulnya Aku punya tawaran menarik sih....Risa harus menikah dengan Pak Gunardi...Gimana?" Tante Dewi tersenyum licik. Sangat memuakkan.


Jika tidak ingat adanya Tuhan dan hukum, sudah pasti wanita ini kubanting.


"Kau sudah gila!!! Dia itu seusia Abangmu!!!! Istri nya juga sudah banyak...!!!" Ibuku akhirnya buka suara.


"Ya ampun...itu hal biasalah kakak ipar di jaman sekarang. Jadi selingkuhan aja banyak, apalagi cuma jadi istri ke empat."


"Sampai kapan pun aku tidak akan setuju!!" Ibuku begitu marah.


"Yaahh...tinggal ku jual saja kios itu. Ahhh...sekalian juga rumah ini. Karena kita punya hak yang sama atas semua peninggalan orang tua kita kan Bang?" Kata Tante Dewi dengan sorot mata mengejek.


"Dewi..." Ucap Ayahku dengan suara mulai bergetar.

__ADS_1


"Kalau mau menggugatku, dengan senang hati menerimanya. Tinggal sewa pengacara hebat. Kalian mana mampu." Ancamnya lagi.


"Wanita licik ini pasti akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya itu."Rutukku dalam hati.


Aku pun memutar otak ku. Aku tidak boleh kalah darinya.


"Tapi aku juga punya permintaan Tante." Jawabku.


"Apa itu?" Sahutnya.


"Hmmm...Beri aku waktu Tiga bulan. Jika dalam waktu itu kami tidak membayar, aku bersedia dinikahkan."


Orang tuaku begitu terkejut. Ku tatap keduanya dengan tatapan meyakinkan kalau aku bisa menyelesaikannya.


"Kalau Aku tidak mau!?"


"Akan ku pastikan Putri (sepupuku, anak tunggal Tante Dewi) tau tentang Bisnis gelapnya Tante." Kataku dengan nada mengancam.


Tante Dewi pun gelagapan. Memang sih selain jadi rentenir, dia juga menjadi mucikari. Putri hanya tau kalau Ibunya bisnis jual beli tanah.


"Kau mengancamku?" Ucapnya berusaha terlihat tidak panik.


Aku tersenyum. Aku bisa saja menggunakan itu untuk menghentikan kejahatannya. Tapi utang tetaplah utang. Harus dibayar. Begitu ajaran Bapak.


"Tante tau kan kalau aku selalu menempati janji. Gimana,Tan?"


"Baiklah. Tapi kau harus tanda tangan Surat perjanjian. Begitu juga dengan Orang Tuamu."


Aku pun bersedia. Setelah berhasil meyakinkan Orang Tuaku, Kami pun memberi tanda tangan. Lalu Tante Dewi pun pulang.


"Ini semua salah Bapak." Kata Ayahku sepeninggal Tante Dewi.


"Sudahlah Pak, Mak. Aku tahu kalau uang itu dulu untuk berobat Sammy. Aku yakin bisa melunasinya. Tidak usah dibahas lagi ya....nanti adik-adik dengar." Mereka pun mengangguk.


Yang masih menjadi pikiranku adalah Pak Gunardi. Dia adalah Seorang preman yang disegani. Terkenal kejam dan kasar. Dia juga memiliki banyak anak buah.


Pak Gunardi memang tukang kawin, tukang mabok dan suka main tangan terhadap istrinya. Menurut desas-desus, dia juga berbisnis obat-obatan terlarang.


Membayangkannya saja Aku sudah bergidik ngeri. Tapi bukan Risa namanya jika tidak bisa melewati tantangan ini.


"Semangat Risa....Kau Pasti bisa.... Wanita ular itu harus kalah. wanita lirik itu harus diberi pelajaran!!!!" Ucap ku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2