DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
Pengusik hidup


__ADS_3

Pagi yang indah.


Kuhirup udara pagi sedalam dalamnya. Pemandangan pagi dari jendela kamarku memang selalu menakjubkan. Kulihat mentari masih tersenyum malu malu dari ufuk timur.


Setiap pagi aku selalu mengingatkan diriku jika suatu hari nanti aku akan menjadi sesuatu. Suatu hari nanti akan ada secercah cahaya kebahagiaan. Suatu hari nanti........


Drrrrttttt!!! Bunyi ponsel ku membuyarkan lamunan pagi ku. Ahh!! Dia lagi. Ku abaikan panggilan itu. Hatiku terasa nyeri. Dan berhasil merusak mood ku di akhir pekan yang cerah ini.


Kuputuskan untuk mandi. Setidaknya dinginnya air dapat sedikit mengobati rasa sakit di ulu hatiku. Dan berharap panggilan itu berakhir.


Ternyata aku salah. Seharusnya aku tahu panggilan itu tidak akan berakhir sampai aku menjawabnya.


Puluhan panggilan dan pesan silih berganti datang. Dan itu sangat mengganggu.


"Ada apa lagi!?" Dengan suara ketus aku akhirnya menjawab.


"Bisa kita ketemu? Aku ingin bicara Ris."


"Bicaralah! Dari telpon saja" Aku jengah meladeninya.


"Ku mohon ris. Aku janji ini yang terakhir."


"Aku sibuk. Tidak punya waktu!"

__ADS_1


"Risa. Aku mohon." Suara itu begitu memelas.


Lama aku terdiam. Aku menarik nafas panjang. Dan akhirnya berkata iya. Kebetulan aku sedang libur kerja dan kuliah.


"Makasih ya." Suara dari seberang mengakhiri obrolan kami.


Suasana hati ku kacau. Aku marah! Aku kesal! Aku benci! Aku sakit! Aku hancur!


Ingatanku kembali kemasa itu. Masa dimana aku begitu hancur. Masa dimana aku begitu terpuruk.


Panji adiswara. Lelaki yang untuk pertama kali berhasil merebut hatiku. Lelaki yang berhasil meyakinkan ku bahwa tidak semua laki laki itu jahat.


Aku sangat terkenal dengan image cewek cuek dan jutek jika berhubungan dengan laki laki yang punya niat untuk lebih dekat.


Tapi panji berhasil mengubah semua itu. Dua setengah tahun yang lalu. Kala itu Ica sahabat ku berkata "Ris. Aku kenalin ya sama temennya pacar ku. Dia baru pulang dari perantauan."


"Nggak ah." Pungkas ku


"Aku dah bilang sama Chandra lho. Katanya udah on the way ke sini."


Aku memasang muka kesal. Ica memang selalu seenaknya. Aku menghentakan kaki tanda protes dan bersiap untuk pergi.


"Ris. Ini impian ku. Aku pengen double date bareng sahabat ku yang paling baik ini. hehe."

__ADS_1


Ica mengapit lengan ku dan memasang muka memelas.


"Okelah. Aku mengalah deh." Ucapku asal.


Masih jelas di ingatanku saat pertama kali kami bertemu.


Dia datang dengan sepeda motor bebek yang biasa. Pakainnya casual. Dia hanya mengenakan kaos biru dan jeans. Sangat sederhana. Itu kesan pertama ku.


Sangat kontras dengan Chandra pacarnya Ica. Yang sedikit bergaya borju lengkap dengan motor gedenya.


"Panji. Kamu pasti Risa." Ucapnya begitu sampai di depan kami.


Dia berkulit kuning langsat dan tinggi. Senyumnya manis sekali. Aku masih ingat senyum itu.


Berkali kali aku menolak ajakannya dengan nada ketus. Pesan dan telponnya yang selalu ku abaikan. Tapi dengan berbagai cara dia berusaha mendekatiku. Melalui sahabat ku dan juga keluarga ku.


Dan pada akhirnya aku membuka hati untuknya.


Dan itu menjadi kisah yang begitu manis dalam perjalanan hidupku. Aku bisa berbagi beban dengannya. Setidaknya aku punya bahu untuk bersandar disaat dewi fortuna tidak berpihak padaku.


Tapi itu dulu.


Kurebahkan tubuhku dikasur mungilku. Air mataku kembali menetes. Luka itu kembali menganga. Dan aku tidak tahu kapan akan membaik.

__ADS_1


__ADS_2