
Putra Adiguna POV
Kematian ibuku menjadi pukulan besar dalam hidupku. Sebagai anak bungsu dari dua bersaudara dan satu-satunya laki-laki membuat ku begitu kehilangan.
Kala itu aku masih duduk di bangku Jelas dua SMA. Aku kehilangan semangat hidup. Duniaku runtuh seketika. Aku begitu dekat dengan ibu.
Setahun kepergian ibu, ayahku menikah lagi. Pikiran jiwa mudaku memberontak. Laki laki biadab! Pria hidung belang! tidak setia! Dan segala sumpah serapah keluar dari mulutku.
"Papa bukan mengkhianati Mama Putra." Kak Regina menjelaskan kala itu.
"Aku tidak terima!!titik!! Dia itu pengkhianat!" Aku berteriak frustasi.
"Papa perlu ada yang ngurus. Kasihan Papa. Usia ibu baru kita juga tidak terpaut jauh dengan Papa."
"Tidak ada yang boleh menggantikan posisi Mama! Dia bukan ibuku!"
"Mereka menikah hanya menjadi teman hidup. Bukan nafsu semata Putra!!! Agar Papa tidak kesepian paham kamu?! Suara Kak Regina meninggi.
"Terserah!!! Aku pun hidup semauku! Tidak ada yang berhak mengaturku!" Ancamku.
Mulailah aku berpetualang di jalanan kota yang keras. Aku jarang pulang, hubunganku dengan keluarga ku semakin jauh.
Merokok, mabuk-mabukan, berkelahi semua hal itu ku jalani. Dua tahun aku hidup tidak jelas.
Sampai suatu hari Sepupu jauh Ayahku mengajakku ke kampung halaman tempat tinggal nenek dan kakek ku.
Kota kecil ini begitu damai. Udaranya dingin dan sejuk. Aku begitu terpesona dengan pemandangan lahan pertanian yang luas. Hijau dan segar. Sangat kontras dengan Kota ku yang panas dan berisik.
__ADS_1
Malamnya diruang tamu.
"Paman rasa terakhir kesini kau masih usia 3 tahun ya Put?"
"Iya Paman." Sahutku
"Kamu akan bekerja sebagai pengawas di Pom bensin Paman. Agar kamu punya kesibukan."
"Tidak Paman. Aku hanya ingin menjadi pegawai biasa."Sanggahku.
"Apa kau sanggup?"
"Sanggup Paman. Aku tidak suka diperlakukan lebih karena aku saudara Paman. Rahasiakan saja itu."
Semuanya pun sepakat. Mungkin mereka takut kalau aku memberontak lagi.
"Risa." Begitu dia memperkenalkan diri.
"Dia menjadi tanggung jawabmu ya Ris. Seminggu ini training dia. Oke!" Perintah Manager kami.
Awalnya tidak ada yang berbeda. Aku terbiasa bertemu dengan gadis gadis kota yang modis.
Seiring berjalannya waktu, hatiku tergugah dengan ketulusannya, perlakuannya yang lembut padaku. Walaupun begitu, dia bukan gadis manja dan menye menye.Dia juga bisa galak dan cerewet. Dia punya kharisma kuat dan tegas.
"Tuta! makan yuk." Ajaknya malam itu. Dahiku berkerut.
"Namaku Putra Adiguna bukan Tuta!" Kataku ketus.
__ADS_1
"Susah tau! Tra! Tra! Lidah ku bisa keseleo."
"Panggil Put kan bisa!?"
"Jutek amat. Aku punya teman namanya Putri, dan biasa ku panggilan Put.Nanti aku repot!"
"Tapi...."
"Pokoknya panggilan mu Tuta. Gak ada tawar menawar!"
Aku pun hanya terdiam. Terserahlah pikirku dalam hati.
Dia selalu memberiku makanan. Selalu bertanya aku sudah makan atau belum. Dia begitu perhatian dan tulus. Hatiku merasakannya.
Seiring berjalannya waktu, hatiku yang sepi dan beku mulai menghangat. Kebiasaan burukku mulai hilang satu persatu. Emosi ku semakin stabil, perlahan aku meninggalkan minuman keras. Aku semakin dekat dengannya.
Dia terlihat selalu cerita dan penuh semangat. Tapi ada sesuatu di mata indah itu. Ada mendung disana.
Derisa. Kau sangat spesial di mataku. Sikapmu membuat orang nyaman di dekatmu.
Kau punya tempat spesial di hatiku.
*PUTRA ADIGUNA POV SELESAI
####
Hai para readers..... jangan lupa tinggalkan jejak yaaa...
__ADS_1
maaf kalau aku gk bisa update setiap hari*...