
Mentari pagi nampak belum muncul. Namun, warna keorenan sudah muncul di sebelah timur, menandakan pagi telah tiba.
Asolatuassalammualaik!!!!!
Panggilan tanda subuh mulai menggema lewat pengeras pengeras masjid membuat Rifky terbangun. Ditatapnya lekat wajah Dewi yang masih terlelap dalam pelukannya.
Perlahan Rifky bangun, berusaha agar Dewi tidak terganggu tidurnya. Namun rupanya, Dewi malah terbangun.
"Sudah pagi ya mas?" Ucapnya lirih.
"Iya dik, sholat subuh dulu yuk." Ajak Rifky
"Iya mas. Uda kangen sholat jama,ah bareng mas."
Merekapun bangun dan segera wudhu untuk sholat subuh. Dan setelah selesai wudhu, merekapun dengan khusyuk sholat berdua di kamar.
Seusai sholat subuh, nampak Rifky memimpin doa dan di akhiri dengan Dewi yang menjabat tangan Rifky serta mencium punggung tangan Rifky. Kedamaian menyelimuti mereka.
"Mas mau aku bikinin kopi seperti biasa ndak?" Ucap Dewi setelah melepas mukenanya.
"Boleh dik." Jawab Rifky di barengi dengan senyum manisnya.
Dewi pun keluar kamar dan menuju dapur untuk membuatkan kopi untuk Rifky. Nampak di dapur sudah mulai datang ibu ibu yang masih membantu masak untuk acara bongkar bongkar tenda dan lain lain pagi nanti.
"Wah manten anyar (pengantin baru) sudah bangun." Sapa seorang ibu ibu yang di sambut senyum ibu ibu yang lain.
"Injih bu ajeng damelke kopi mas Rifky (mau membuatkan kopi)" Sahut Dewi dengan santun.
"Loh mas mu sudah bangun to nduk?" Tanya ibu ibu yang lain.
"Sampun bu (sudah bu). Awit wau sakderenge subuh (dari tadi sebelum subuh)." Jawab Dewi lagi dengan halus.
Merekapun ngobrol ringan menemani Dewi yang sedang membuat kopi. Dari bahasa mereka memang terlihat masih kental dengan bahasa halus jawanya.
Setelah selesai membuat kopi, segera Dewi membawa kopinya ke kamar. Sesampainya di kamar nampak Rifky yang tengah di sibukkan dengan laptop.
"Kopinya mas mumpung masih hangat." Ucap Dewi sambil menaruh kopi di samping laptop Rifky. Dengan manjanya Dewi memeluk Rifky dari belakang membuat Rifky tersenyum.
"Iya dik, terimakasih sayang." Sahut Rifky.
"Iya mas. Banyak kerjaan ya?" Tanya Dewi.
"Tidak juga dik. Hanya sedikit laporan yang harus mas lihat." Balas Rifky yang masih fokus dengan laptopnya.
"Mas mau sarapan apa nanti, biar Dewi masakin."
"Apa saja dik pasti mas maan hehehe." Jawab Rifky sambil mencium pipi Dewi.
"Oke Dewi masak dulu ya mas."
"Iya sayang." Jawab Rifky sambil kembali mencium pipi Dewi.
__ADS_1
Serasa mendapat energi baru, dengan semangat Dewi melangkah keluar kamar menuju dapur setelah melepas pelukannya.
Singkat cerita, setelah selesai sarapan dan membantu membereskan sisa sisa pesta kemarin, nampak Dewi dan Rifky sudah bersiap untuk menjenguk Ningsih di rumah sakit.
"Kamu yakin dik?" Tanya Rifky meyakinkan.
"Iya mas. Janji adalah hutang. Setidaknya adik mas juga kan dia." Ucap Dewi sambil menunjukkan buku diary peri emas milik Rifky.
"Kamu sudah membacanya dik?" Tanya Rifky nampak gugup.
"Sudah mas hehehe. Mas Cahyo yang memberikannya padaku." Jelas Dewi sambil nyengir.
"Wah pelanggaran itu orang."
"Ah sudah ayok jalan mas keburu siang." Ucap Dewi sambil menggandeng tangan Rifky. Rifky pun hanya bisa nurut.
Merekapun akhirnya berangkat.
Tak butuh waktu lama merekapun sampai di rumah sakit.
"Kamu yakin dik?" Kembali Rifky bertanya.
"Mas kalau nggak mau masuk biar adik saja. Dari semalam tanya terus ih." Jawab Dewi sambil mendahului langkah Rifky.
Rifky pun dengan malas terpaksa mengikuti langkah Dewi. Ia menggandeng tangan Dewi dengan gemetar. Sementara yang di gandeng hanya senyum sembari menyenderkan kepala di lengan Rifky.
Saat tiba di depan ruang dimana Ningsih di rawat, nampak Rifky sempat berhenti. Namun dengan anggukan Dewi Rifky pun kembali melangkah. Diketuknya pintu itu yang tak berapa lama di buka oleh bu Narti. Rifky melangkah masuk di ikuti Dewi.
Dewi langsung duduk di kursi tepat di samping Ningsih yang terbaring. Sementara Rifky, dia masih berdiri di belakang Dewi.
"Kak, bangun kak. Kami datang, kakak bangun y." Lirih Dewi tepat di samping telinga Ningsih. Namun sepertinya tidak ada respon sedikitpun dari ningsih. Membuat suasana menjadi haru.
"Mas, kondisi kak Ningsih sampai seperti ini apa mas tega?" Ucap Dewi sambil menatap Rifky yang kemudian menangis di pelukan Rifky. Sementara Rifky masih diam. Entah apa yang ada di benaknya. Tatapan Rifky kosong dan benar benar kosong. Dia benar benar mematung seperti batu.
Perlahan Dewi menuntun Rifky untuk duduk. Saat Rifky menoleh ke Dewi, nampak Dewi menganggukkan kepala. Perlahan Rifky mendekat ke telinga Ningsih.
"Dik aku datang, apa kamu tidak mau bangun menyambut ku?" Lirih Rifky namun terdengar menyayat hati.
Terlihat jemari Ningsih bergerak. Melihat itu, Pak Narto berlari memanggil dokter. Sementara itu nampak Dewi tersenyum.
Tak berapa lama pak Narto kembali bersama seorang dokter dan dokter itupun langsung mengecek kondisi Ningsih.
"Ini luar biasa pak. Sepertinya Kondisi semakin membaik." Jelas dokter itu dengan senyum manisnya.
Rifky bangkit dari duduknya dan kembali berdiri di samping Dewi. Degub jantungnya tak beraturan. Dia nampak tegang.
Dewi yang mengerti akan hal itu langsung menyilangkan lengan di tubuh Rifky dan berusaha membuat suaminya itu lebih tenang.
"Mas tenang ya. Tidak apa apa semua akan baik baik saja" Bisik Dewi meyakinkan Rifky. Namun, Rifky diam membatu.
"Kak, kau kah itu?" Suara itu lirih namun masih terdengar. Sayup sayup mata itu mulai terbuka. Di pandanginya langit langit ruangan itu. Pandangannya langsung tertuju kearah Rifky yang tengah di peluk samping oleh Dewi.
__ADS_1
Dewi yang peka pun menuntun kembali rifky untuk mendekat. Kedipan matanya mengisyaratkan Rifky untuk menyapa.
"I..Iya dik ini aku." Ucap Rifky terbata dan lirih.
Ningsih yang baru sadar dari komanya, menatap dalam wajah Rifky. Seolah tak yakin kalau kakaknya yang datang. Semua terasa mimpi buat Ningsih.
"Maafkan aku kak yang selalu melukai hatimu. Maafkan aku." Ucap Ningsih di lambari tangisnya yang mulai menambah suasana semakin haru.
"Hibur dia mas biar dia semakin membaik. Adik tunggu di luar ya." Bisik Dewi yang kemudian tanpa menunggu persetujuan langsung keluar.
Suasana menjadi hening semenjak Dewi dan yang lainnya keluar dan hanya menyisakan mereka berdua.
"Cepatlah sembuh. Sudah terlalu lama kamu tertidur. Kasian bapak yang setiap hari menunggumu. Masih banyak cerita yang harus kamu selesaikan dik." Ucap Rifky membuka keheningan.
"UNtuk apalah aku hidup kalau hanya menyusahkan orang dan hanya melukai orang." Sahut Ningsih sambil menatap lekat wajah Rifky.
"Hidup itu punya cerita masing masing. Tak boleh berpasrah begitu saja. Masih banyak gerbang yang harus di lewati dan harus di lalui. Kalau kau berdiam diri dan menyerah sama saja dengan kamu menyakiti diri kamu sendiri. Sadarlah semua sudah menjadi jalan takdir. Tak ada ujian yang melebihi batas kemampuan. Allah menguji mu seperti ini karena Allah tau kamu mampu." Ucap Rifky mencoba membuat Ningsih lebih kuat.
"Tidak ada seorang kakak yang bakalan diam melihat adiknya seperti ini. Kau tau, meski aku diam aku selalu peduli padamu. Karena semenjak mengenalmu, aku sudah menganggap mu seperti adikku sendiri. Dan adik yang aku kenal tidak seperti ini. Lemah dan membiarkan semua mengusik hatinya. Adik kakak itu seorang yang kuat dan tidak lemah seperti ini." Lanjut Rifky terus membangkitkan semangat hidup Ningsih.
Sementara itu diluar. Nampak Dewi duduk sendiri di kursi tunggu. Tatapannya kosong. Jiwanya melamun dalam ranah yang tanpa tuju.
"Aku ihklas mas meski harus di madu. Bersamamu aku sudah bahagia, apalagi melihatmu bahagia itu adalah hal terindah yang aku rasakan" Batin Dewi di tengah lamunannya sambil tersenyum walau pahit.
Meski tak terlihat, jelas hati Dewi berkecamuk. Pengantin baru, harus dihadang masalah hati yang memang tidak mudah. Namun, sepertinya memang Dewi adalah sosok yang tangguh dan sedikit mengerti keadaan.
Kembali kedalam, Nampak Ningsih masih belum bersuara. Sementara rifky terus saja masih mencoba menasehati dan menyemangatinya.
"Aku harus pulang dulu dik. Lain waktu kakak datang lagi. Cepat sembuh dan cepat buka lembaran baru." Ucap Rifky berpamitan sambil memegang tangan Ningsih. Terlihatlah cincin pernikahan yang baru sehari terpasang di jari manis Rifky.
"Kakak sudah menikah?" Tanya Ningsih.
"Iya kakak sudah menikah." Jawab Rifky singkat.
"Kak Ningsih tidak usah berfikir yang lebih." Ucap Dewi yang sudah berada di depan pintu, kemudian masuk dan menghampiri nya.
"Dewi. terimakasih dik." Ucap Ningsih pelan yang membuat Dewi dan Rifky bertanya tanya.
"Terimakasih untuk apa kak?" Tanya Dewi heran.
"Kini aku lebih tenang. Aku turut bahagia dan lega. Pikiranku tidak lagi di kejar kejar rasa bersalah." Ucap Ningsih dengan senyum tipis."Mendekat lah."
Baik Rifky maupun Dewi hanya menurut. Mereka mendekat dan membiarkan tangan Ningsih menyatukan tangan mereka.
"Aku ingin kakak menjaga Dewi dengan sepenuh hati. Dia adikku dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya. Dan kamu Dewi, kamu harus menjaga hati kak Rifky. Jangan kau biarkan hatinya terluka." Ucap Ningsih yang membuat Rifky dan Dewi hanya bisa mengangguk dan saling menatap tak percaya.
"Pulanglah kalian sekarang. Aku ingin istirahat dulu. Rasanya lelah sekali. Besok aku pasti sembuh dan aku ingin kakak dan adikku yang menjemput ku. kalian tidak keberatan kan?" Ucap Ningsih masih dengan senyum tipisnya.
"Ya sudah kakak buat istirahat. kami pulang dulu. Besok kami kesini untuk jemput kakak. Dewi janji." Tutur Dewi membalas senyum Ningsih. Dalam hatinya dia bahagia melihat kakaknya yang mulai bangkit. sementara Rifky hanya menatap Ningsih dengan dalam.
Dawai kehidupan pun mulai terpetik satu persatu menimbulkan irama yang menyayat kalbu. Iramanya sendu, suaranya mendayu pelan tanpa syair yang menemani.
__ADS_1