DAWAI KEHIDUPAN

DAWAI KEHIDUPAN
DIMAS PUTRA MARJONO


__ADS_3

Roda terus melaju. Gemuruh mesin yang terpacu dan benturan piston-piston dengan bahan bakar yang bersuara halus membuat Rifky terlelap di sepanjang jalan.


"Dewi!!!!!!" Pekik Rifky yang terbangun karna mimpi buruknya.


"Kenapa boy?"


"Aku mimpi buruk boy. Cepetin lagi mobilnya boy, aku mau cepat sampai tambak. Perasaanku tidak enak.." Jawab Rifky dengan keringat yang mukai keluar di setiap pori tubuhnya.


Tanpa menjawab Cahyo pun melajukan mobil lebih cepat. Meski ada keinginan untuk bertanya, namun semua di urungkan.


Sesampainya di tambak, Rifky langsung berlari masuk untuk memastikan Dewi aman. Namun belum lagi masuk ke rumah,


"Dewi kemana Ky?"


"Bukankah Dewi harusnya sudah di rumah bu. Mereka pulang duluan tadi bu." Jawab Rifky yang di tegur oleh Bu Desi.


"Sedari kalian pergi tadi Dewi belum kembali Ky."


Sontak ucapan Bu Desi tadi membuat Rifky panik. Segera dia menghubungi ponsel Dewi. Namun sepertinya ponsel Dewi mati sehingga tidak dapat di hubungi. Kemudian, rifky meminta Cahyo menghubungi Nani namun, nomor Nani pun tidak dapat di hubungi.


"Boy biar aku hubungi petugas CCTV untuk melacak kemana mereka pergi." Ucap Cahyo yang melihat kepanikan di wajah Rifky.


Beberapa saat kemudian, " Bu, kami akan kembali ke mall itu lagi. Nanti kalau misal Dewi sudah pulang kabari saya ya bu." Ucap Rifky yang kemudian berjalan ke arah mobilnya di ikuti cahyo. Merekapun melaju dengan cepat ke arah mall.


Sesampainya di mall, Rifky segera datang ke bagian pengamanan. Di sana sedang di putar semua rekaman CCTV. Nampak Dewi dan Nani sedang berbincang dengan seseorang. Karena seperti mengenal seseorang itu, Rifky meminta untuk memperjelas.


"Dimas!!!!" Ucap Rifky hampir bersamaan dengan Cahyo.


Kemudian terlihat mereka berjalan bersamaan memasuki sebuah restauran. Terlihat Dimas mengulurkan sebuah buku menu. Kemudian kembali mereka berbincang yang sepertinya sambil menunggu apa yang mereka pesan datang.


Semua rekaman CCTV kala itu terlihat semuanya. Sampai saat Dimas pergi dan sampai Dewi juga Nani melahap makanannya terlihat tidak ada yang mencurigakan.

__ADS_1


Namun, setelah Dewi dan Nani selesai makan, video hasil rekaman CCTV lenyap dan terhenti.


"Cek semua yang ada di restauran itu sekarang." Teriak Rifky kepada semua bawahannya.


"Siap pak." Hanya itu yang terucap dari mulut bawahan Rifky yang kemudian bergerak cepat memenuhi pinta bos nya.


Rifky nampak gusar, pikiran buruk langsung menghantuinya.


"Johan, aku minta kamu rentas keberadaan istriku sekarang. Aku merasa dia dalam bahaya. Jangan sampai terlambat." Ucap Rifky menelpon seseorang di sebrang sana yang bernama johan. Dan yang di telpon pun hanya mengiyakan tanpa membantah tugas nya.


Tak butuh waktu lama, Johan yang tadi di minta merentas ponsel Dewi sudah memberikan pesan berupa lokasi keberadaan ponsel Dewi.


Rifky dan Cahyo segera menuju lokasi yang ditunjukkan oleh Johan. Rifky sudah tidak perduli dengan beberapa polisi yang mengikutinya. Yang ia pikirkan hanyalah nasib keselamatan istrinya.


Sampailah kini mereka semu di depan sebuah kamar hotel. Pintu masuk hotel itu di buka dengan menggunakan kode akses. Rifky menggerutu kesal.


Sementara itu, nampak Dewi dengan tubuh lemah terkaget saat di atas tubuhnya sudah ada Dimas yang sedang berusaha mencumbu bagian atas tubuhnya. Dia mau bergerak namun terasa tiada daya. Tubuhnya lemas tak bertenaga barang untuk menggerakkan jarinya saja. Mulutnya terasa kelu untuk mengucap sepatah kata saja tidak mampu. Hanya buliran air mata yang mulai keluar dari bola matanya.


kembali ke DImas.


Melihat Dewi yang mulai sadar dan berusaha memberontak, kembali Dimas menyuntikkan cairan ke tubuh Dewi yang membuat Dewi semakin terasa lemah.


"Tenanglah manis. Aku akan membawamu ke surga. Tak pantas Rifky sialan itu menyentuhmu." Lirih Dimas sambil tersenyum bringas.


"Salah kamu menikahinya. Hahaha aku sudah bersumpah akan membuatnya terluka lagi hahaha." Lanjut Dimas sambil tersenyum penuh kemenangan. Kemudian dengan rakus melahap bagian atas Dewi. Benda yang selama ini hanya Rifky yang menjamah.


Bruuuuak!!!!!!


Pintu itu terbuka membuat Dimas kaget. Namun semua seperti sudah di persiapkan. Sebuah pistol yang di pegang sudah mengancam siapapun yang maju.


"Lepaskan dia bangsat." Bentak Rifky yang mulai terpancing emosi melihat istrinya sudah telanjang dada.

__ADS_1


"Majulah kalau sudah bosan hidup." Teriak Dimas sambil menodongkan pistolnya.


"Bangsat kepart." Rifky kembali melangkah tidak menghiraukan sama sekali gertakan Dimas.


"Selangkah lagi kamu maju, Istrimu ini akan mampus." Gertak Dimas yang langsung mendekap tubuh Dewi sambil mengarahkan pistolnya tepat di pelipis Dewi.


Sejenak Rifky berhenti. Pikirannya kalap ketika Dewi yang di ancam. belum lagi nampak darah mengalir di paha Dewi.


"Percuma kamu mengancam." Rifky pun mengeluarkan pistol dari punggungnya. "Aku tidak perduli kematiannya, Dia mati kamu juga harus mati." Gertak Rifky yang membuat semua orang kaget termasuk Dimas.


"Putra, rupanya dendam itu masih melekat di jiwamu. Aku membiarkanmu merebut Ningsih bukankah itu tidak cukup buatmu. Sekarang kau melakukan lagi hahaha. Asal kamu tau, aku tidak perduli." Bentak Rifky yang menyebut nama Dimas dengan sebutan Putra.


"Rupanya kamu masih ingat hahaha. Baguslah kamu ingat masa SMK kita. Sekarang mampus lah kau ." Teriak Dimas sambil memencet pelatuk dan mengarahkan ke Rifky.


Door!!!!


Semua orang terpekik dan menjerit histeris kala sebuah peluru sudah bersarang di badan rifky bagian dada tepi. Rifky roboh bersimbah darah. Pistol yang ia pegang jatuh bersama dengan tubuhnya yang ambruk kelantai.


"Siapapun yang maju maka akan ada lagi nyawa melayang." Gertak Dimas sambil menurunkan celana Dewi. "Biarkan suamimu melihat tubuhmu aku gagahi sebelum malaikat menjemputnya." Lanjut Dimas yang hendak membuka celananya.


Dorrr!!!!!!


Kembali suara pistol berbunyi. Kali ini sebuah peluru bersarang tepat di jantung Dimas. Bagaimana bisa? jelas semua berlangsung cepat. Saat Dimas berusaha membuka celananya, Saat itu tubuh Dewi menjadi sedikit membungkuk kare pengaruh obat yang di suntikan Dimas membuat Dewi lemas. Dan saat itulah Rifky mengambil peruntungannya.


"Kau terlalu bodoh Putra. Dimas Putra marjono." Ucap Rifky sambil meraih Dewi dan menutupi semua tubuh Dewi dengan selimut. "Kau pikir semudah itu aku dapat kau bunuh. Dulu atau kini tetap sama. Kau hanyalah pecundang."


"Boy lepaskan Nani. Kita segera ke rumah sakit." Ucap Rifky sambil menggendong Dewi dan berjalan keluar.


Cahyo hanya mengangguk dan segera melepaskan Nani yang masih lemah. Diapun sama, langsung menggendong tubuh Nani dan segera keluar.


"Bangsat busuk itu terserah kalian. Jangan hanya jadi polisi pengecut yang nggak bisa-apa." Ucap Cahyo sebelum meninggalkan kamar itu.

__ADS_1


Entah pa yang terjadi setelah Rifky dan Cahyo pergi. Nampaknya ini hanya akan menjadi sebuah kasus yang memang rumit.


__ADS_2