
Aku berlari kecil. Ku lirik jam di tangan ku. 14.55! Gumamku.
"Dasar angkot sialan!!! " Aku menggerutu sepanjang jalan. Gara-gara angkot yang ku tumpangi tiba-tiba mogok. Padahal 100 meter lagi, aku sampai di tujuan.
Yah memang aku bekerja paruh waktu di pom bensin di daerah dekat tempat tinggal ku. Pagi aku kuliah sorenya aku bekerja di sana.
Tiba-tiba......
Woi.....!!! Ada suara dari arah belakang. Sontak aku terkejut dan menoleh kebelakang.
"Tuta!!!!" Dengan reflek ku layangkan tanganku. Sebuah pukulan mendarat dibahunya. Dia hanya tertawa.
"Ngapain lari-lari?! Pake muka tegang segala. Ayo naik!" Aku pun bergegas naik ke sepeda motornya.
"Minyak kosong Ris. Kemungkinan tengah malam baru nyampe dari Depo." Jelasnya sambil memacu sepeda motornya dengan santai.
"Ooohh. Syukurlah."Jawabku. Padahal aku sudah membayangkan Pak Rizal manager ku bakal marah marah. Dia sanggup mengomel sangaaaat panjang. Sampai telinga dan otak penuh dan hampir meledak mendengar omelannya.
"Punya HP kok tidak digunain." Ucapnya sambil memarkir sepeda motor nya.
"Iya ya. Hehe. Kok aku sampai lupa."
"Biasa hidup di jaman batu sih." Ucapnya sambil menarik hidungku.
"Sakit tau!!!" Aku merengut.Dia hanya tertawa.
"Namanya juga lagi buru-buru. Udah panik duluan. Jadi korslet nih otak." Aku mengusap hidungku yang sedikit memerah.
"Kapan sih otakmu tidak korslet?!"Tuta tertawa. Aku hanya merengut. Tapi ada rasa hangat yang menjalar dihatiku.
"Teman yang lain lagi di sana. Lagi makan siang. Gabung yuk." Dia menunjuk ke arah taman kecil di tengah pom bensin.
"Tapi aku blom beli makan siang." Ucapku.
"Nih! Aku udah beli. Kita makan sebungkus berdua." Aku hanya mengangguk. Memang kami sering melakukan itu.
__ADS_1
"Aku ganti seragam dulu deh."
"Gak usah. Aku suka liat kamu pake rok span gitu. Manis. Hehe."
"Ishh!!!Dasar genit! Udah ah! aku mau ganti baju dulu." Aku pun beranjak pergi.
Kami pun bergabung dengan yang lain. Suasana riuh terdengar begitu jelas.
"Cieeee..." Sorakan serempak terdengar begitu kami sampai.
"Ada kemajuan nih."Pungkas Bang dedy
"Romeo dan Juliet versi kelas kere!" Tambahnya kemudian.
"Apa sih bang. Istri tuh di urusin. Biar gak ngomel melulu." Kata Tuta.
Bang Dedy hanya tertawa. Memang diantara 12 pegawai, hanya Bang dedy yang sudah menikah. Tapi kelakuannya tidak jauh bedanya dengan anak ABG.
Tiba tiba Bang Dedy berdiri.
Setuju!!!! Serempak semua menjawab.
Kami semua biasa menghabiskan waktu demikian. Dan itu memberiku sedikit rasa damai. Sejenak aku bisa lupa dengan semua masalah hidupku.
Sesekali ku lirik Tuta. Aku tidak habis pikir dengan laki laki satu ini. Entah terbuat dari apa hati nya itu.
Kira-kira sebulan yang lalu
Seperti biasa, kala shift kerja ku selesai dia akan dengan sigap mengantarku pulang.
Aku yang selalu kebagian shift sore karena kuliahku, sudah jelas akan pulang hampir jam dua belas malam.
Tapi malam itu, aku melihat tingkahnya sedikit aneh. Dia terlihat gugup dan gelisah.
Tiba di depan rumahku.
__ADS_1
"Makasih ya.!" Kataku kala itu.
"Ris." Dia tiba tiba menggenggam tangan ku.
"Kenapa. Kau ada masalah?" Tanyaku. Dia menyenderkan sepeda motornya.
Dia menatapku sangat lekat. Aku masih ingat sorot matanya kala itu. Ada pancaran harapan disana.
Dari gelagat nya aku sudah tahu jika dia menyimpan rasa.
"Ris. Mau gak jadi pacar ku?" Katanya kala itu.
"Aku sayang sama kamu."
Aku bingung. Lama kami saling terdiam.
"Tut. Maaf ya. Aku tidak bisa pacaran dengan mu." Ucapku lirih.
"Kenapa?" Ada nada kecewa disana. Sinar matanya meredup. Aku tahu hatinya pasti sakit.
Aku mencari kata yang tepat. Aku tidak mau membuat dia sakit hati.
"Aku sangat nyaman didekat mu. Tapi aku tidak mau pertemanan kita rusak. Jika kita pacaran suatu hari nanti pasti ada masalah. Dan kita akan saling menjauh. Aku tidak mau itu." Ucapku panjang lebar.
"Tut. Dari awal pertemuan kita, aku menganggapmu saudaraku. Kita bisa berbagi segalanya. Aku tidak punya rasa cinta itu." Tambahku lagi.
"Oke! Aku terima penjelasanmu." Tuta tesenyum kecut. Senyum manis nya tidak seperti biasa.
"Tapi awas ya kalo besok kau jadi cuek padaku! Bakal ku hajar kau!" Ucapku sambil menjewer telinganya.
"Aduh! Iya. Sakit nih!" Kami pun tertawa bersama.
Dia betul menepati janjinya. Tidak ada yang berubah. Kami masih saling peduli. Kami bercanda dan bersikap seperti biasa.
Entah hubungan apa ini namanya. Yang pasti kami saling melindungi satu sama lain.
__ADS_1