Dendam Menjadi Cinta

Dendam Menjadi Cinta
EP 22 Wanita yang masih ada di dalam hatinya


__ADS_3

Di meja makan Gibran sekali-kali menatap Viany yang duduk di depannya sedang mengobrol dengan kakeknya.


Dan Gustian yang duduk di samping Viany entah kenapa tidak suka melihat tatapan mata Gibran terhadap Viany walaupun Gibran adalah adiknya.Sebagai sesama lelaki dewasa tentu saja Gustian mengerti tatapan itu, tatapan yang penuh cinta dan rindu tetapi juga ada tatapan sedih.


"Maaf Gibran,kakak tahu kamu sedang menahan rasa sesak di dada mu,kakak tahu kamu masih mencintainya dan sangat merindukannya.Maafkan kakak memisahkan kalian dan kakak yang mendekatinya, percayalah Kakak mendekatinya hanya karena ingin balas dendam hanya itu ."Batin Gustian menatap Gibran yang sedang menatap Viany.


Di dalam hatinya pun Gibran tidak berani berkata bahwa ia mendekati Viany bukan karena ia mencintai Viany tetapi ia berkata 'Hanya Itu'.Benar,,awalnya Gustian mendekati Viany memang 'Hanya Itu' balas dendam,, tetapi Gustian sekarang malah tidak berani berkata ia mendekati Viany bukan karena ia mencintainya .


Begitu juga dengan Viany, sebenarnya ia sadar bahwa Gibran sedang menatapnya


Sebenarnya Viany ingin bertanya kepada Gibran kenapa ia tidak datang bersama Susan merayain ulang tahun kakeknya, apakah Susan sedang sakit.Dan satu lagi apakah Gibran akan memaafkanya Karena waktu itu ia pergi tanpa memberitahukan kepada Gibran,apalagi sekarang ia malah bersama kakaknya.


"Gibran..Kakek harap kamu juga segera cari pendamping hidupmu.Kakek harap sebelum kakek pergi kakek juga bisa melihat mu menikah."Ucap kakek tiba-tiba dan membuat Viany terkejut menatap Gibran yang juga sedang menatapnya.


"Apa maksud Kakek, terus Susan...Mereka berdua..."Batin Viany.


Dan Gustian tanpa ia sadari sendiri ia merasa cemburu melihat Viany dan Gibran saling bertatapan lalu ia mengepalkan tangannya dengan erat di bawa mejanya.


"Iya Kek..Doain saja semoga Gibran cepat ketemu jodoh Gibran."Ucap Gibran berusaha bersikap seperti biasa di hadapan kakeknya lalu ia kembali menoleh ke arah Viany yang juga masih sedang menatapnya.


Viany bingun dengan apa yang Gibran katakan kepada kakeknya.


"Apakah mereka tidak bersama,lalu di mana Susan sekarang dan bagaimana dengan kandungnya."Batin Viany.


Gibran tahu Viany pasti ingin menanyakan dia tentang hubungannya dengan Susan begitu juga Gibran dia juga ingin tahu kenapa Viany bisa bersama dengan kakaknya dan sekarang mereka juga sudah mau menikah.


"Sayang.. Apakah kamu masih mau tambah nasinya."Tanya Gustian memutuskan tatapan Viany dan Gibran.


"Eh..Ngak Mas..Saya sudah kenyang."Ucap Viany menoleh ke arah Gustian dengan senyum.


"Kalau mau tambah lagi gak pa-pa Nak,jangan malu dengan keluarga sendiri."Ucap kakek.

__ADS_1


"Iya Kakek,,Viany sudah kenyang,Kek."Ucap Viany kepada kakeknya.


"Baiklah..Saya juga selesai..Kita ke ruang tamu duduk yuk...Atau...Kamu mau melihat kamar saya yang dulu tinggal bersamaan Kakek."Goda Gustian dengan sengaja dan membuat kakeknya tertawa.


"Hahaha... Gustian,sabar ya jangan macam-macam."Kakek juga menggoda Gustian.


"Hehehe..Kek..Bukan seperti yang kakek pikirkan deh... Tian hanya ingin Viany melihat kamar Tian saja kok."Ucap Gustian dan membuat kakeknya menggelengkan kepalanya dan Viany hanya diam menatap Gibran.


Viany juga tahu bahwa Gibran ingin menanyakan hubungannya dengan kakaknya.


Entah apa yang di pikirkan oleh Gustian begitu ingin menggoda Viany dan sengaja membuat Gibran cemburu.


"Maaf..Saya juga sudah selesai dan saya sudah ada janji dengan teman jadi saya permisi dulu ya Kek,Kak."Ucap Gibran dan di angguk oleh Kakek dan Gustian.


"Hati-hati."Ucap Viany dengan reflesk dan membuat Gustian dan Gibran langsung menoleh ke arah.


"Iya..Kakak..Ipar.."Ucap Gibran segera membalikkan badannya dan pergi dari sana.Karena ia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi melihat kakaknya begitu mesra denga wanita yang masih ada di dalam hatinya .


Sementara di dalam mobil Gibran merasa sangat sakit di hatinya rasanya ingin mati saja melihat wanita yang ia cintai dan masih ada di dalam hatinya menjadi kakak iparnya.Akhirnya Gibran tidak bisa menahan dirinya lagi dan ia menangis di dalam mobilnya yang masih terparkir di depan rumah Kakeknya.


Tak berselang lama Gustian pun mengatar Viany pulang dan di dalam mobil Viany hanya diam saja karena ia memikirkan banyak hal tentang Gibran dan Susan.Apakah Gibran dan Susan tidak menikah lalu bagaimana dengan Susan dan anak yang di kandungnya.


Ingin sekali Viany menanyakan hal Gibran dengan Susan pada Gustian tetapi ia tidak tahu harus bagaimana menanyakan pada Gustian karena Viany juga tidak tahu apakah Gustian tahu masalah Gibran dan Susan dan jika Gustian tidak tahu bisa kacau nantinya jadi sebaiknya jika ada kesempatan biarlah ia sendiri yang menanyakan Gibran lagian Viany juga tahu bahwa Gibran juga ingin tahu kenapa Viany bisa bersama kakaknya.


"Sayang, apakah kamu masih lapar..Atau ingin makan sesuatu."Tanya Gustian memecahkan keheningan di antara mereka karena Gustian tahu Viany pasti sedang memikirkan Gibran karena sejak Gibran meninggalkan meja makan Viany hanya diam saja tidak banyak berbicara.


"Tidak Mas."Jawab Viany dengan singkat.


"Apakah kamu punya masalah, kenapa dari tadi Mas lihat kamu hanya diam saja dan jawab seadanya saja."Tanya Gustian kepada Viany dan Viany menoleh ke arahnya.


"Ngak kok..Mungkin saya kecapetan saja."Ucap Viany.

__ADS_1


.


.


"Terima kasih sudah antar saya pulang ,Mas."Ucap Viany kepada Gustian ketika mereka sudah sampai di rumah Viany.


"Sudah seharusnya saya mengatar mu pulang."Ucap Gustian.


"Baiklah kalau begitu saya masuk dulu."Ucap Viany dan hendak membukakan pintu mobil tetapi di tahan oleh Gustian.


"Tunggu."Ucap Gustian menahan pergelangan tangan Viany.


"Biar saya yang membukakan pintu untuk mu."Ucap Gustian dan segera turun dari mobil nya dan membukakan pintu mobil untuk Viany.


Tadi saat masuk ke dalam perkarangan rumah Viany, Gustian tidak sengaja melihat sebuah mobil yang ia kenali terparkir tidak jauh dari rumah Viany dan ia tahu bahwa itu adalah mobil adiknya, Gibran.


"Terima kasih."Ucap Viany saat sudah turun dari mobilnya dan tanpa aba-aba Gustian memeluk Viany.


Gustian tahu Gibran pasti sedang melihat mereka oleh karena itu Gustian sengaja memeluk Viany.


"Terima kasih sudah memilih saya sebagai suami mu, sangat tidak sabar ingin segera menikahi mu."Ucap Gustian masih memeluk Viany dan Viany pun membalas pelukan Gustian tanpa berkata apa pun.


Lalu dengan pelan Gustian melepaskan pelukan mereka dan mendekati wajahnya ke wajah Viany lalu bibirnya menempel bibir Viany.


"Maaf Gibran, membuat mu melihat hal yang sangat menyakit mu."Batin Gustian.


Sebenarnya ciuman ini bukanlah kepura-puraan yang di buat oleh Gustian agar Gibran cemburu atau ingin menyakiti Gibran tetapi entah kenapa saat melepaskan pelukannya dengan Viany dan melihat wajah Viany dengan reflesk Gustian sangat ingin mencium Viany dan ingin Gibran tahu bahwa Viany adalah miliknya sekarang dan akan menjadi kakak iparnya bukan lagi menjadi pacarnya.


Sementara Gibran yang ada di dalam mobilnya merasa sangat sesak melihat ciuman kakaknya dengan wanita yang masih ia cintai begitu mesra.


"Apakah benar-benar sudah selesai di antara kita, Viany."Batin Gibran dengan sangat sesak.

__ADS_1


__ADS_2