Dendam Menjadi Cinta

Dendam Menjadi Cinta
EP 67 Jangan Mengusir Ku lagi.


__ADS_3

"Sayang.."Panggil Gustian yang melihat Viany mengelus perutnya.


"Kamu hamil.."Tanya Gustian.


"Iya..Aku hamil anak mu."Ucap Viany.


"Be.. Benarkah.."Tanya Gustian dengan mata mulai berkaca-kaca dan Viany menganggukkan kepalanya.


"Su.. Sudah berapa bulan, Sayang."


"2 Bulan lewat 2 minggu."Ucap Viany dan Gustian tidak bisa menahan air matanya lagi lalu ia pun beranjak dari tempat duduknya dan memutari meja kerja Viany lalu tanpa aba-aba Gustian langsung memeluk Viany dengan erat.


"Maaf,, Maafkan aku yang baru tahu kamu hamil,Sayang dan maaf kan aku selama ini tidak ada di sisi mu."Ucap Gustian dalam tangisnya.


"Sudah Mas, sudah.. Jangan jadi cengeng deh,masa iya sudah jadi seorang Papa gitu cengeng."Ledek Viany padahal ia sendiri juga nangis.


"Maaf,,Mas janji Mas akan melindungi kalian..Jadi Mas mohon jangan usir Mas pergi dari mu,Sayang.Mas benar-benar mencintai mu, Sayang." Ucap Gustian yang masih memeluk Viany dengan erat.


"Iya.,iya..Tapi tolong lepaskan Mas,kamu bisa menyakiti ku."Ucap Viany lalu Gustian pun melepaskan pelukannya dari Viany.


"Maaf Sayang,maaf..Mas tidak sengaja."Ucap Gustian setelah melepaskan pelukannya dari Viany dan menatap Viany dengan penuh kasih sayang.


"Mas mohon jangan usir Mas pergi dari mu lagi, biarkan Mas berada di sisi mu merawat mu dan merawat anak kita."Ucap Gustian sekali lagi dengan suara lembut menatap Viany.


"Kenapa pada saat itu,Mas tidak tunggu sebentar.Padahal saat itu Aku sudah tidak ingin Mas pergi dari ku."


Deggggg....


"Benarkah Sayang.."Tanya Gustian tidak percaya tetapi juga sangat senang.


"Tetapi pada saat itu bukankah kamu ingin Mas pergi."Tanya Gustian lagi.


"Ya.. Awalnya sich memang gitu ingin Mas pergi,Tapi entah lah tiba-tiba Aku berubah pikiran saja "Ucap Viany dengan membuat Gustian tersenyum senang.


"Terima kasih,Sayang.."Ucap Gustian lalu Gustian memeluk Viany kembali ke dalam dekapannya.


"Terima kasih, Sayang.Mas mencintai mu, Sangat."Ucap Gustian lagi lalu mencium kening Viany.


"Sudah ya Mas ,sekarang sudah saatnya aku harus bekerja ."Ucap Viany.

__ADS_1


"Yahhhh....Mas masih pingin lama-lama lagi, Sayang.Hari ini boros kerja saja gimana,sayang." Tanya Gustian yang langsung dapat pukulan dari Viany.


Plakkk...


"Aww.."


"Sudah ya,Mas..Ucap Viany .


"Baiklah...Hmm..Sayang,, Bolehkah kamu berhenti bekerja saja.Biar Mas yang mencari nafkah untuk kalian berdua."


"Maaf Mas,Aku tidak ingin melepaskan cita-cita ku yang menjadi seorang Dokter..Tapi Aku janji walaupun aku bekerja aku tidak akan mengabaikan tanggung jawab Ku kepada mu dan anak kita."


"Baiklah..Kamu harus janji sama Mas jangan sampai kecapetan."


"Iya..Aku janji."Ucap Viany lalu ia dan Gustian pun saling berpelukan sejenak sebelum Gustian benar-benar harus segera kembali ke perusahaannya.


Sementara di ruangan direktur rumah sakit tempat Viany kerja,Bima sangat kesal dengan kedatangan mantan kekasihnya itu.


"Apa kamu tidak mengerti kata manusia,sudah berapa kali saya katakan kepada mu jangan pernah datang mencari ku lagi hubungan kita sudah selesai saat kamu mengkhianati hubungan kita."Ucap Bima dengan nada sangat kesal.


"Aku membawa sarapan kesukaan mu,makanlah sebelum kerja."Ucap Resita meletakkan paper bag yang berisi sarapan kesukaan Bima dan mengabaikan perkataan Bima.Lalu tanpa banyak berkata lagi Bima menelepon sekretarisnya dan memintanya memanggil salah satu karyawan OB ke ruangan nya.


"Tolong bantu saya buang paper bag yang ada di meja kerja saya ini."Ucap Bima tanpa peduli perasaan Resita.


"Bima.."


"Baik Pak."Lalu sang ob pun hendak mengambil paper bag itu tetapi di cegah oleh Resita dan sang ob pun jadi bingun harus berbuat apa.


"Bima.."


"Kamu mau membawanya sendiri atau mau ob ini yang membantu saya membuangnya."Tanya Bima menatap tak suka pada Resita.


"Bima,apa kamu harus begini terhadap Ku."


"Harus."Jawab Bima dengan tegas.


"Permisi.."Ucap seseorang yang tiba-tiba ke ruangan Bima.


"Maaf Pak Bima, apakah saya menganggu anda."Tanya orang itu yang tak lain adalah Viany.

__ADS_1


Wanita itu.."Batin Resita saat melihat Viany berdiri di depan pintu ruangan Bima.


"Ngak Dokter Viany,Mari duduk."Ucap Bima dengan tersenyum dan ramah terhadap Viany dan itu membuat Resita sangat cemburu lalu sebelum Viany berjalan ke tempat kursi dan hendak duduk di kursi ,Resita mendorong bahu Viany dengan kuat.Untung saja sang ob masih di berdiri di sana dan menahan tubuh Viany,kalau tidak mungkin Viany bisa jatuh.


"RESITA.."Bentak Bima lalu ia segera berjalan mendekati Viany.


"Kamu tidak apa-apa."Tanya Bima dengan lembut dan memegang Kedua lengan Viany.


"Saya gak pa-pa,Pak Bima."Ucap Viany.


Lalu Bima membalikkan badannya dan menatap tajam Resita.


"Sekali lagi kamu mencelakainya jangan salahkan saya kejam terhadap mu.Sekarang silakan keluar dari sini dan jangan pernah berdiri di hadapan Ku,jika tidak jangan salahkan saya."Ancam Bima yang sudah kehabisan kesabaran menghadapi Resita.


"Bima.."Panggil Resita dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"PERGI."Bentak Bima.


Lalu mau tak mau akhirnya Resita menghentakkan kakinya dan pergi dari sana.


"Tunggu.. Silakan bawa itu pergi."Ucap Bima lagi.Lalu Resita pun mengambil paper bag yang berisi bekal yang tadi dia bawa.


Sebenarnya Resita ingin menjebak Bima dengan bekal yang ia bawa,karena Resita ingin Bima bertanggung jawab atas anak yang sekarang ia kandung dan tentu saja anak itu bukan milik Bima, tetapi milik Resita dan selingkuhannya yang meninggalkan ia begitu saja.


Tetapi Bima bukan lah orang yang bodoh, walaupun Bima tidak tahu ada sesuatu yang Resita lakukan di dalam makanannya itu atau Resita sedang hamil Bima tetap tahu Resita ingin mendekatinya karena sekarang tidak ada mangsa yang mempunyai kedudukan yang tinggi untuk Resita dekati.


"Kamu juga pergi lah."Ucap Bima kepada sang ob.


"Baik Pak."Ucap sang ob lalu ia pun segera pergi dari ruangan Bima.


"Duduklah..Apakah kamu benar-benar baik-baik saja, apakah bayi mu juga baik-baik saja."Tanya Bima lagi yang memang sudah tahu Viany sedang hamil dan menuntun Viany duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya.


"Saya baik-baik saja Pak Bima."Ucap Viany dengan tersenyum.


"Oh ya..Ini.. Laporan yang kamu minta."Ucap Viany lagi lalu menyerahkan laporan itu kepada Bima.


"Ok.. Terima kasih."Ucap Bima.


"Baiklah.. Kalau tidak ada yang perlu lagi saya permisi."Ucap Viany dan di angguk oleh Bima.

__ADS_1


__ADS_2