
"Jadi maksud kakak..."Jeda Gibran.
"Ya... Dokter Hatton Nugraha lah yang menyebab kan ayah dan bunda meninggal..Dia yang membunuh ayah dan bunda."Ucap Gustian akhirnya kepada Gibran.
Degggg...
Degggg....
Tiba-tiba ada dua jantung manusia terkejut dengan apa yang barusan Gustian katakan.
"Dokter Hatton Nugraha" Gumam Viany yang sudah dari tadi berdiri di depan ruang kerja Gustian.
"Papa.."Batin Viany.
"Jika...Jadi.... Arrggg.."Teriak Gibran entah harus berkata apa, pikirannya sangat kacau setelah mendengar semua Itu.
"Kak..Kamu..."Jeda Gibran sejenak.
"Apa ada tujuan kakak mendekati dan menikahi Viany."Tanya Gibran.Entah kenapa ia tiba-tiba memikirkan hal ini walaupun tadi Gibran bisa merasakan kakaknya juga mencintai Viany.
Sebelum Gustian ingin menjawab pertanyaan Gibran tiba-tiba mereka mendengar suara benda yang pecah dari luar ruangan kerja.
Plannnggg...
Termos yang di bawa oleh Viany tadi tiba-tiba terlepas dari tangannya lalu di dalam ruangan kerja Gustian,baik Gustian maupun Gibran terkejut dengan suara benda yang pecah di luar ruangannya dan mereka berdua saling pandang sejenak sebelum berlari keluar dari ruangannya.
Deggggg....
"Vian.."Panggil Gibran terkejut ketika melihat Viany sedang berdiri di depan pintu ruang kerja Gustian dengan pipi yang sudah basah.
Begitu juga dengan Gustian tiba-tiba hatinya merasa sakit karena melihat air mata Viany yang sudah membasahi pipinya.
Sekarang Viany mengerti kenapa setelah mereka menikah Gustian bersikap dingin kepadanya.Tetapi Viany tidak pernah tahu bahwa ayahnya yang mengakibatkan orang tua Gustian dan Gibran meninggal.
"Apakah ini yang membuat mu bersikap dingin kepada ku setelah kita menikah atau...Memang sudah dari awal kamu sudah memiliki tujuan untuk mendekati ku dan menikahi ku,,Jika begitu apa tujuan mu..Membalas dendam kah.."Tanya Viany menatap lekat mata Gustian.
Gibran yang tidak tahu ada apa di antara kakaknya dan Viany setelah mereka menikah dan juga tidak tahu harus berkata apa hanya bisa diam mendengar apa yang Viany katakan, begitu juga dengan Gustian entah harus berkata apa karena pada awalnya ia memang memiliki tujuan untuk membalas dendam tetapi sekarang jika ia berkata jujur ia jadi takut Viany akan pergi darinya dan semakin membencinya.
Sebenarnya Gustian sudah sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada Viany saat melihat Viany terbaring lemah di tempat tidurnya ia sadar ia takut kehilangan Viany dan saat hendak mengantar nasi goreng buatannya untuk Viany Gustian merasa dirinya bersalah terhadap orang tua nya karena ia telah jatuh cinta pada anak pembunuh orang tuanya dan setelah meletakkan nampan di nakas untuk Viany, Gustian kembali bersikap dingin karena ia membenci dirinya sendiri sudah jatuh cinta pada Viany tetapi ia tidak bisa memaafkan ayah Viany yang mengakibatkan orang tuanya meninggal, Itulah yang membuat Gustian kembali bersikap dingin setelah memasak nasi goreng untuk Viany.
__ADS_1
Melihat Gustian tidak menjawabnya Viany semakin sakit hati,karena menurutnya apa yang barusan ia katakan adalah benar dan ternyata Gustian tidak mencintainya tetapi memiliki tujuan yaitu membalas dendam.
Lalu tanpa berkata lagi dan setelah menghela napasnya Viany membalikkan badannya dan hendak berjalan ke kamar tamu yang biasa ia tepati.
"Vian,,"Panggil Gibran memegang lengan Viany.Walaupun Gibran sudah tahu ayah Viany yang mengakibatkan orang tuanya meninggal, Gibran tetap tidak tega melihat Viany begitu sedih karena Gibran masih mencintainya.
"Maaf,,,Aku tidak pernah tahu papa ku yang mengakibatkan orang tua kalian meninggal."Ucap Viany.
"Bukan salah mu.."Ucap Gibran dan tanpa peduli Gustian yang masih berdiri di sana, Gibran memeluk Viany erat.
"Bukan salah mu..."Ucap Gibran.
"Maaf... Hisk..Maaf..Hisk.."Ucap Viany dalam tangisnya dan masih dalam pelukan Gibran.
Gustian yang sudah tidak bisa menahan rasa sesaknya dan cemburunya melihat Gibran memeluk Viany,ia langsung menarik Viany ke dalam pelukannya tetapi Viany dengan segera melepaskan pelukannya dari Gustian dan itu membuat Gustian semakin merasa sesak di dalam hatinya.
Karena masih demam akhirnya Viany tidak bisa menahan dirinya lagi dan sebelum ia jatuh ke lantai dengan cepat Gustian menahannya.
"Viany.."
"Vian.."
Teriak Gustian dan Gibran bersamaan ketika melihat Viany hendak jatuh ke lantai.Lalu dengan segera Gustian membopong Viany masuk ke kamarnya dan Gibran pun segera memeriksa keadaannya.
"Tidak perlu"Ucap Viany tiba-tiba karena ia sudah sadar.
"Vian.."Panggil Gibran.
"Aku baik-baik saja."Ucap Viany dengan suara yang pelan.
"Baiklah...Kalau begitu aku keluar dulu."Ucap Gibran lalu ia pun segera keluar dari kamar Gustian.Karena Gibran tahu ada hal yang harus di bicarakan oleh mereka berdua.
"Apakah kamu baik-baik saja."Tanya Gustian dengan nada khawatir ketika Gibran sudah keluar dari kamarnya.
"Izinkan Aku istirahat di tempat tidur mu malam ini.Besok Aku akan pindah ke kamar tamu."Ucap Viany dengan menutup matanya.
"Viany.."Panggil Gustian tetapi Viany tidak menjawabnya.
"Baiklah...Kamu istirahat dulu."Ucap Gustian.
__ADS_1
.
.
Keesokan harinya ketika Viany terbangun dari tidurnya ia mendapati Gustian mengenggam tangannya lagi seperti kemarin,tetapi kali ini tangan Gustian sedikit hangat tidak seperti semalam lalu Viany memegang dahi Gustian dengan satu tangannya lagi dan ternyata Gustian juga demam.
"Gustian.. Gustian..."Panggil Viany kepada Gustian dan kali ini Viany memanggil namanya tidak menyebutnya dengan sebutan Mas lagi.
Sadar seseorang memanggilnya dan menggoyangkan tangannya akhirnya Gustian pun tersadar dari tidurnya.
"Kamu sudah sadar,, Bagaimana dengan keadaan mu."Tanya Gustian ketika ia sudah sadar dari tidurnya.
"Panggillah Gibran memeriksa mu sepertinya kamu juga demam."Ucap Viany.
"Aku baik-baik saja.. Bagaimana dengan mu,, apakah demamnya sudah turun."Tanya Gustian lagi dan saat hendak meletakkan tangan punggungnya ke dahi Viany , Viany menepisnya dengan pelan.
Deggg... Tiba-tiba hati Gustian terasa sesak.
"Aku baik-baik saja."Ucap Viany lalu hendak beranjak dari tempat tidurnya dan turun dari ranjang.
"Kamu mau apa."Tanya Gustian memegang lengan Viany,tetapi Viany menepisnya lagi.
"Aku mau pindah ke kamar bawa."Ucap Viany dan beranjak dari tempat duduknya tadi.
"Via.."Belum sempat memanggil nama Viany tiba-tiba Gustian merasa kepala pusing lalu ia terduduk di samping ranjang dan memegang pelipisnya.Viany yang melihatnya pun jadi khawatir.
"Kamu kenapa.."Tanya Viany berdiri di depan Gustian tanpa menyentuhnya.
"Aku tidak apa-apa..Kamu istirahatlah dulu di sini..Jika kamu tidak ingin melihat ku..Biar Aku yang keluar saja."Ucap Gustian lalu tanpa menunggu Viany menjawabnya ia pun segera keluar dari kamarnya.
Viany yang melihat punggung Gustian sampai hilang di balik pintu kamar tiba-tiba ia meneteskan air matanya.
"Kak.. Apakah Viany sudah bangun dan bagaimana dengan demamnya apakah sudah turun."Tanya Gibran kepada Gustian ketika melihat Gustian turun dari atas.
"Panggil dia kakak ipar,Gi."Tekan Gustian lagi kepada Gibran.
"Apakah kakak benar-benar mencintainya atau..."
Belum Gibran habis berkata Gustian tiba-tiba jatuh ke lantai.
__ADS_1
Brukkk...
"Kak ..Kak..."Panggil Gibran lalu dengan cepat Gibran dan supir rumahnya yang kebetulan lewat di depan mereka membantu Gibran membawa Gustian ke kamar tamu yang memang ada di lantai bawa.